Selasa, 07 Februari 2012

DELAPAN

 

Delapan
Mazmur 139:13-14

 
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib (Mazmur 139:14).

     Kata sebagian orang, 8 adalah angka istimewa. Di sebagian lingkungan budaya Tionghoa, 8 diidentikkan dengan keberuntungan. Penyebabnya adalah homofon, persamaan bunyi atau lafal. Dalam Mandarin dan beberapa dialek (seperti dialek Kanton di Hong Kong) "delapan" dan "keberuntungan" dilafalkan nyaris sama, walaupun berbeda karakter. Angka 8 (八) dilafalkan "bā" (Pinyin) atau "baat" (Kanton), keberuntungan (發) dilafalkan "fā" (Pinyin) atau "faat" (Kanton). Orang Hong Kong merasa akan dilimpahi keberuntungan jika nomor mobil, telepon, atau rumahnya mengandung angka delapan. Bayangkan dialog seperti ini dalam Mandarin atau dialek Kanton. Si-A: "Tinggal di mana?" Si-B yang tinggal di Apartemen Anu #8-8 (lantai 8 nomor 8) menjawab: "Di Apartemen Anu, lantai "untung" nomor "untung."
8 x 1

+1

= 9

8 x 12

+2

= 98

8 x 123

+3

= 987

8 x 1234

+4

= 9876

8 x 12345

+5

= 98765

8 x

123456 +6

=

987654 8 x

1234567 +7

=

9876543 8 x

12345678 +8

=

98765432 8 x

123456789 +9

=

987654321
Ada perdebatan tentang 8 sebagai pembawa keberuntungan. Tapi di matematika 8 memang istimewa, seperti dalam operasi matematika berikut ini. Angka delapan dikalikan bilangan berangka-urut mulai dari 1 (misal 123) dan ditambah dengan jumlah angka bilangan pengali (dalam hal ini 3 angka, yaitu 1, 2 dan 3), menghasilkan bilangan berangka-urut, yang berjumlah angka sama (3 angka) di posisi berseberangan (987). Seandainya 8 diganti dengan angka lain (7, 6, 5, dstnya) hasilnya tak seindah operasi matematika dengan 8. Angka delapan memang istimewa.

Setelah melihat susunan angka-angka itu, mungkin pecinta angka delapan akan semakin yakin bahwa 8 memang identik dengan keberuntungan. Tapi mari kita melihatnya dari sudut lain. Dalam operasi matematika itu, angka delapan tidak sendiri. Keunikan dan keistimewaannya muncul karena kehadiran angka-angka lain, yang juga unik dan istimewa.

Setiap angka menjadi unik dan istimewa, karena menjadi penentu. Di setiap baris operasi, angka istimewa bukan 8, tapi angka yang ditambahkan ke hasil perkalian. Misalnya di baris ke-3, angka yang ditambahkan (3) adalah jumlah angka dalam bilangan yang dikalikan 8 (3 angka, yaitu 1, 2, dan 3) dan jumlah angka dalam bilangan yang dihasilkan (3 angka, yaitu 9, 8 dan 7). Di baris-5, angka yang ditambahkan (5) adalah jumlah angka dalam bilangan yang dikalikan 8 (5 angka, yaitu 1, 2, 3, 4 dan 5) dan jumlah angka dalam bilangan yang dihasilkan (5 angka, yaitu 9, 8, 7, 6 dan 5), dan seterusnya.

Aspek lain dari operasi matematika di atas adalah keteraturan. Bilangan pengali 8 adalah deretan angka yang berurut-tertib, misalnya 1234, bukan acak (misal 1342). Setelah ditambah angka tertentu, menghasilkan bilangan dengan angka yang berurut-tertib pula, yaitu 9876, tidak acak. Selain itu, perkalian dan penambahan dalam operasi itu berjalan pada saatnya dan pada tempatnya. Seandainya penambahan berjalan sebelum pengalian, maka hasil operasi tidak akan seperti di atas. Misalnya, jika dalam operasi 8 x 12345 + 5, bilangan 12345 ditambahkan bilangan 5 sebelum dikalikan 8 hasilnya akan lain. Karena menjadi 8 x (12345 +5)  atau 8 x 12350 sehingga menghasilkan 98800 (angka acak) bukan 98765 yang berurut-tertib.

     Manusia bukan angka, kehidupan bukan operasi matematika. Tapi seperti angka, setiap manusia diciptakan Tuhan secara unik dan istimewa (Mazmur 139:14). Seperti operasi matematika, kehidupan juga memiliki momen-momen yang teratur, yang datang pada saatnya dan pada tempatnya.  

 

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. —Pengkhotbah 3:1



Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar