Sabtu, 04 Februari 2012

Kasih Yang Mahal

Kasih yang Mahal
1Yohanes 3:16-18

 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1Yohanes 3:18).

 

    Kisah ini saya baca dalam sebuah buku renungan sepuluh tahun yang lalu. Adalah seorang anak yang saat itu baru berumur empat tahun, namun ibunya mengalami kelumpuhan dari leher sampai ke bawah. Ibu ini dirawat di rumah sakit selama empat tahun dan di rumah selama 36 tahun dengan paru-paru besi dan hidupnya seratus persen tergantung pada pertolongan orang lain. Suami si ibu ini bergumul antara mau meninggalkan si isteri atau bertahan. Pilihannya jatuh pada tetap bertahan dengan risiko berhenti dari pekerjaan. Ia merawat isterinya  tanpa bersungut-sungut. Ketika ia ditanya, apakah yang menjadi alasannya melakukan semuanya itu, maka ia menjawab tanpa ragu demikian

: "Aku tidak tahu sebenarnya, aku telah berjanji kepada isteriku ketika menikah dan aku mencoba untuk menepati janjiku."     Masih adakah pasangan suami-isteri dewasa ini yang hidup seperti kisah di atas? Makin tahun angka perceraian makin menjadi-jadi. Dan hampir pasti alasannya cukup klasik

: tidak ada kecocokan. Menikah bukan untuk mencari

kecocokan, yang kalau tidak berhasil lalu menjadi

ke-cekcok-kan dan perpisahan. Firman Tuhan menasihati setiap orang percaya untuk hidup dalam kasih sebagai tanda hidup baru.

     Masukkan kata PENGORBANAN dalam pikiran kita dan lakukan. Pikiran kita bisa membawa kita ke arah positip, tetapi juga bisa membawa kita ke arah negatip. Hidup menikah dan berumah tangga tidak akan bahagia tanpa ada pengorbanan. Karena pengorbanan adalah saat kita menyerahkan

"nyawa' yaitu hidup kita untuk dan bagi orang yang kita kasihi. Pikiran kita yang menolak pengorbanan, akan menimbulkan masalah dalam rangka penyatuan dua insan yang berbeda.

     Usahakan hidup BERBAGI yang  dimulai dari hati yang peduli. Menutup pintu hati adalah bukti bahwa kita masih belum bisa berbagi. Menutup pintu hati membuat sesak, pengap dan gelap perjalanan hidup ini. Jangan biarkan hati kita diisi dengan hal-hal duniawi melulu, melainkan isilah juga dengan

KASIH, sebuah kata  yang paling manis dan paling didambakan  setiap orang.

     Lakukan dengan KOMITMEN  yang tidak kenal menyerah. Sebutan "anak-anakku" keluar dari seorang yang benar-benar ingin agar generasi yang berikutnya akan menjadi lebih baik dan berkualitas. Bila masih ada komitmen untuk mengasihi, maka tidak akan ada kata  perpisahan atau perceraian. Contohlah suami yang rela merawat isterinya sampai memberikan dirinya sendiri demi hidup isterinya nyaman dan berarti.   

 

Kembalilah kepada kasih yang mula-mula, sebab kasih lebih mahal dari semua yang pernah ada di dunia ini.


 


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Menemukan Dunianya Sendiri

Menemukan Dunianya Sendiri

Lukas 13:34
13:34 Yerusalem,Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orangyang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, samaseperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,tetapi kamu tidak mau.Nuh pada jamannya pasti dianggapseakan-akan seorang "autis" yang asyik dengan dunianya sendiri. Autismemaksudnya adalah gangguan perkembangan mental pada seseorang yang berakibattidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginan,sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu. Nuh tidak dimengertioleh orang-orang di zamannya; ia pun tentu frustrasi, tidak bisa memahamikebodohan mereka. Tetapi walaupun tidak diterima oleh orang-orang sekitarnya,Nuh tetap teguh berdiri pada integritasnya.Nuh telah menemukandunianya sendiri, dunia yang Tuhan berikan untuk dijalaninya.
Kehidupan seperti ini adalahkehidupan orang yang berjalan dengan Tuhan. Perintah Tuhanuntuk membuat bahtera telah merenggut kehidupan Nuh. Ia kehilangan hidup wajarseperti yang dijalani orang pada umumnya, yang mestinya dijalaninya kalau sajaTuhan tidak memerintahkannya untuk membangun bahtera. Tetapi ia mau menjalanidunia yang diberikan Tuhan itu, sebab itulah cara satu-satunya untuk menggenapirencana Allah dan menyelamatkan diri dari penghukuman Tuhan. Nuh harus membayarketaatannya dengan harga itu. Dalam perjalanan hidupnya, bisa saja Nuhmengalami keraguan terhadap Tuhan dengan perintah yang tidak masuk akal itu.Tetapi hingga akhirnya Nuh taat dan setia sampai rencana Allah digenapi;dirinya dan keluarganya selamat.
Hal ini mirip dengan apayang terjadi pada pelayanan Tuhan Yesus. Ia meratapi Yerusalem dan berkata,"Yerusalem, Yerusalem… Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, samaseperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamutidak mau." Sebagian besar orang Yahudi telah menolak Anak Allah. Hanyasegelintir orang yang mau mengikut Dia; segelintir orang itu adalahmurid-murid-Nya.
Di zamannya, murid-muridTuhan Yesus dianggap bodoh. Fanatismenya mereka terhadap Tuhan Yesus dianggapketerlaluan. Tetapi seperti Nuh, murid-murid Tuhan Yesus telah menemukandunianya sendiri. Mereka pun tetap setia. Tuhan Yesus pernah menguji agarmereka meninggalkan diri-Nya seperti orang banyak meninggalkan Dia, tetapimurid-murid tetap pada pendiriannya (Yoh. 6:67–68). Hari ini mereka sudah adadi tempat di mana Tuhan Yesus menyediakan Firdaus, kebahagiaan yang tiadataranya. Ternyata penderitaan yang mereka alami tidaklah sebanding dengankemuliaan yang mereka terima (Rm. 8:18).
Sebagai pengikut Yesus, sudahkah kita menemukandunia yang diberikan Tuhan untuk kita jalani?Diadaptasi dari
Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

KESADARAN BARU

KESADARAN BARU

Setiap orang pasti punya sesuatu yang dibanggakan: kekayaan,
pendidikan, pengalaman, koneksi, status, dan sebagainya. Hal-hal
yang semestinya menjadi sampiran itu sedikit banyak seperti
memberikan identitas pada diri kita. Jika tak hati-hati, siapa diri
kita akan ditentukan oleh apa yang ada dan melekat dalam diri kita.
Ini berbahaya.

Paulus, dalam perjalanan hidupnya, mengalami pengalaman yang
sedemikian mengubahkan sehingga segala macam sampiran hebat pada
masa lalu, kini baginya adalah sampah. Bahasa asli yang dipakai
Paulus ialah: "kotoran". Penyebab perubahan itu ialah: pengenalan
akan Kristus (ayat 8). Namun demikian, Paulus tetap sadar bahwa
pengalaman itu adalah pengalaman anugerah, bukan pengalaman untuk
mengendalikan Tuhan. Ia tetap sadar akan ketidaksempurnaannya:
"Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna
... aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya ..."
(ayat 12). Pengalamannya dengan Tuhan tidak membuatnya sombong pun
takabur. Bukan karena ia telah me nangkap Kristus, melainkan justru
ia te-lah ditangkap Kristus. Paulus juga tak ingin dipenjara oleh
pengalaman rohani hebat masa lalu. Baginya hidup rohani berarti
berjalan maju menapaki masa kini menuju masa depan.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita hanya larut dalam kebanggaan
kita-pada masa lalu? Ataukah kita sadar penuh bahwa kita mesti
selalu berjuang, dalam anugerah Allah, untuk makin lama makin
mengenal-Nya? Kiranya teladan rasul Paulus meletakkan kehausan dan
kerinduan dalam hati kita untuk hidup makin mengasihi Tuhan. --DKL

Apakah yang lebih bernilai dalam hidup ini
selain kesempatan untuk makin mengenal-Nya hari lepas hari?

Ayat Alkitab: Filipi 3:1-16

1 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. (3-1b)
Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan
memberi kepastian kepadamu.
2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap
pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap
penyunat-penyunat yang palsu,
3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh
Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh
percaya pada hal-hal lahiriah.
4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal
lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya
pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:
5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku
Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum
Taurat aku orang Farisi,
6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam
mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang
kuanggap rugi karena Kristus.
8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan
Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh
karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan
menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena
mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena
kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah
anugerahkan berdasarkan kepercayaan.
10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya
dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi
serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah
sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga
menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah
menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang
telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di
hadapanku,
14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu
panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan
jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan
dinyatakan Allah juga kepadamu.
16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita
lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

SAUH BAGI JIWA

Siapa yang tidak takut ketika harus menghadapi badai besar di
tengah lautan? Angin dan ombak yang besar itu dapat membuat kapal
yang kita tumpangi menjadi kandas. Pada saat seperti itulah sebuah
sauh atau jangkar diturunkan ke dasar laut. Ukuran jangkar jelas
sangat kecil bila dibandingkan dengan ukuran kapal, namun perannya
sangat besar untuk menahan kapal dari terjangan ombak.

Alkitab mengibaratkan pengharapan kepada Tuhan seperti jangkar.
Dengan jangkar itulah orang dapat bertahan dalam badai
ketidakpastian hidup. Seperti pengalaman Abraham. Istrinya sudah
menopause dan dirinya juga sudah begitu tua. Mungkinkah ia akan bisa
mendapatkan keturunan seperti yang dijanjikan Tuhan? Penantian
panjang ini seperti badai yang dapat menggoyahkan iman Abraham.
Namun Alkitab mencatat, Abraham menanti dengan sabar (ayat 15).
Mengapa? Karena Abraham tahu kepada Siapa ia meletakkan
pengharapannya (ayat 16-18). Penulis kitab Ibrani mendorong jemaat
Tuhan yang mulai goyah imannya untuk memiliki pengharapan yang
demikian (ayat 11-12).

Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu menepati janji-Nya. Dia tidak
pernah berdusta. Apakah kita sungguh meletakkan pengharapan kita
kepada-Nya? Menanti memang adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan,
tetapi menanti adalah bukti kesungguhan iman dan pengharapan kepada
Pribadi yang memberikan janji itu. Jangan berusaha menjawab
pergumulan dengan cara kita sendiri. Jangan pernah meninggalkan
pengharapan kita dalam Tuhan. Pengharapan itulah sauh bagi jiwa,
yang akan menjaga kita untuk tidak goyah diombang-ambingkan badai
kehidupan.

KITA DAPAT BERHARAP PADA JANJI-JANJI TUHAN
KARENA KITA TAHU DIA YANG MENJANJIKANNYA SETIA


Ibrani 6:9-20

9 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami
berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki
sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan.
10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu
dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan
kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai
sekarang.
11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan
kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik
yang pasti, sampai pada akhirnya,
12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut
mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa
yang dijanjikan Allah.
13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia
bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang
lebih tinggi dari pada-Nya,
14 kata-Nya: "Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau
berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak."
15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh
apa yang dijanjikan kepadanya.
16 Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah
itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala
bantahan.
17 Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima
janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat
diri-Nya dengan sumpah,
18 supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana
Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan,
beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang
terletak di depan kita.
19 Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita,
yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,
20 di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia,
menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai
selama-lamanya.

www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Aku Percaya Kepada Allah

Aku Percaya Kepada Allah
Ulangan 6:4-9

 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita (Ulangan 6:4).

      "Aku percaya kepada Allah." Kutipan ini merupakan sebagian dari kalimat pertama Pengakuan Iman Rasuli, yang setiap Hari Minggu kita ucapkan bersama-sama dalam kebaktian Jemaat. Dan itu merupakan kelanjutan dari

credo atau "pengakuan iman" umat Perjanjian Lama (Ulangan 6). Karena seringnya kita ucapkan, tidaklah mengherankan kalau kita juga lalu menjadi hafal kalimat-kalimat dari Pengakuan Iman kita itu. Meskipun demikian, hafal kalimatnya belum berarti pasti paham, yakin dan menghayati isinya, sehingga dengan konsekuen menjalankannya dalam kehidupan. Jadi, kalau kita mengucapkan "Aku percaya kepada Allah", apa arti dari ucapan pengakuan kita itu? Dan apa konsekuensinya bagi kehidupan kita sehari-hari? Apakah keberadaan dan perilaku kita benar-benar menampakkan dan membuktikan bahwa kita adalah orang-orang yang percaya kepada Allah?

     Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama kita perlu memahami, Allah yang bagaimana yang kita percayai itu. Dari Pengakuan Iman, Allah yang kita percayai itu kita yakini sebagai "Bapa yang mahakuasa". Itu berarti, Dia pasti akan selalu berkenan dan mampu menyertai serta menolong kita, "anak-anak-Nya", dengan mengaruniakan berkat-berkat lahiriah dan rohaniah yang kita perlukan, karena Dia berkuasa untuk itu. Kita yakin akan kekuasaan-Nya itu, karena kita percaya bahwa Dia adalah juga "Khalik" atau Pencipta "langit dan bumi", di mana kita hidup ini. Berdasarkan pemahaman dan keyakian yang sedemikian, maka salah satu akibat yang nyata bagi kita dalam menjalani hidup ini ialah lenyapnya segala macam kekuatiran dan ketakutan terhadap berbagai persoalan, kesulitan dan ancaman penderitaan, baik yang menyangkut kehidupan lahiriah maupun batiniah kita. Kesungguhan dan kebenaran dari

credo yang kita ucapkan, akan nyata dalam seberapa jauh kehidupan kita itu akan senantiasa memancarkan ketenteraman dan kedamaian, kebahagiaan dan kesukacitaan. Semoga dalam mengawali kehidupan di tahun yang baru ini, kepercayaan kita kepada Allah seperti kita ucapkan itu akan sungguh-sungguh menjadi dasar dan sumber ketenteraman serta kesejahteraan kita yang sejati.  

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. —1 Petrus 5:7


 


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 01 Februari 2012

Serius Berjaga-jaga

Serius Berjaga-jaga

Lukas 17:26-27
17:26 Dan sama sepertiterjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak padahari-hari Anak Manusia:17:27 mereka makan danminum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalambahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.Nuh diperintahkan Allah untuk membuatbahtera. Maka tanpa alat-alat modern yang kita kenal sekarang, segenap hidupnyapun dicurahkannya untuk bahtera tersebut. Sekalipun Nuh menyerukan berita burukmengenai akan datangnya air bah, sekaligus berita baik bahwa keselamatan hanyabisa diperoleh melalui satu-satunya bahtera yang dibuatnya dengan susah payah,tetap saja orang-orang sezamannya tidak memedulikan berita tersebut, dan bahkanmengolok-olok Nuh.Allah ingin mengakhirihidup segala makhluk di bumi, akibat kejahatan manusia besar di bumi dan segalakecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. Di mata-Nya,manusia di bumi telah menjadi rusak. Tetapi kalau kita perhatikan,
ternyata keadaan manusia di zamanini sama buruknya dengan zaman Nuh (ay. 26). Kalau di zaman NuhAllah mengakhiri sejarah manusia dengan air bah, di akhir zaman manusia akandibinasakan dengan api (2Ptr. 3:5-7).
Berita mengenai kehancurandunia yang mendekat dan pasti terjadi tersebut sudah jarang dikumandangkan,sebab dipandang tidak sesuai dengan kebutuhan jemaat masa kini—yang sebetulnyamaterialistis dan konsumtif. Berita yang disampaikan melalui mimbar-mimbargereja pun terfokus pada hal-hal yang menyenangkan dan janji-janji bahwakehidupan di bumi akan menjadi lebih baik. Padahal dari gejala-gejala yangtampak di berbagai bidang kehidupan, jelas bahwa dunia kita tidak menjadibertambah baik. Pemberitaan ini sebetulnya sama dengan pemberitaan para nabipalsu di zaman Yeremia, yang menubuatkan bahwa Tuhan akan berpihak kepadaYehuda dan perang tidak akan menimpa mereka (Yer. 14:11–14). Padahal Babelsudah mengancam Yehuda, dan Tuhan sudah memastikan bahwa Yehuda akan jatuh ketangan Babel.
Makakita perlu mewaspadai pembicara-pembicara di mimbar yang menubuatkan bahwahal-hal yang baik akan dialami umat Tuhan. Itu merupakan tipu daya kuasakegelapan agar umat Tuhan tidak berjaga-jaga terhadap keadaan dunia yang akandatang. Hasilnya,umat menganggap mereka dalam keadaan aman, dan sudah di jalur yang benarsehingga tidak perlu berusaha hidup yang sebagaimana mestinya diperkenan olehTuhan.Sekali lagi diserukan bahwakeadaan aman ini tidak benar. Sesungguhnya mereka yang tidak berjaga-jaga itudalam bahaya besar, karena mereka bisa tidak dikenal oleh Allah. Mari ubah caraberpikir kita.
Selalulahmerasa bahwa hari kematian kita atau kedatangan Tuhan sudah dekat, agar kitaakan serius berjaga-jaga.
Nubuat palsu mengenai keadaan dunia yang semakinbaik adalah tipu daya kuasa kegelapan agar umat Tuhan tidak berjaga-jagaDiadaptasi dari
Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

MENGAJARKAN MURAH HATI KEPADA ANAK

MENGAJARKAN MURAH HATI KEPADA ANAK


Apakah kita termasuk orang tua yang berpikir bahwa anak-anak kita bisa dengan sendirinya menghasilkan buah Roh, jika kita sudah membawa mereka ke sekolah minggu? Atau jika kita sudah membacakan Alkitab setiap hari pada mereka? Atau jika kita sudah mendoakannya siang dan malam?

Buah Roh adalah hasil dari karya Roh Kudus dari seorang yang memiliki dan mengikuti kehendak Kristus. Namun, untuk menghasilkan anak-anak yang menunjukkan buah Roh dalam keseharian hidup mereka, bukan hanya pekerjaan Roh Kudus saja yang menjadi andalan kita, melainkan pelatihan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan baik juga perlu kita ajarkan berulang-ulang pada anak.

Musa sendiri mengingatkan bahwa untuk mengajarkan cinta pada Tuhan, haruslah dilakukan di berbagai tempat -- di rumah, dalam perjalanan, di sekitar meja makan saat sarapan, makan malam, saat anak-anak bersenda gurau, maupun saat anak-anak sedang bermain. Mengapa harus sesering itu? Sebab sejak zaman umat Allah, telah disadari bahwa halangan untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki dapat terjadi di berbagai tempat dan dengan berbagai cara.

Mengenal Kasih dan Mempraktikkan Kasih

Hal yang tidak boleh kita lupakan sebelum mempraktikkan kasih adalah belajar mengenal Sang Kasih itu sendiri. Matius 7:22 mengingatkan kita bahwa suatu kali dalam penghakiman nanti, bisa jadi Tuhan tidak mengenal orang-orang yang mengaku telah mengikut Dia. Salah satu kalimat berbunyi, "... Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyah ..." Kata "mengenal" yang digunakan dalam ayat ini adalah "ginosko", yang berarti "mengenal melalui pengalaman pribadi atau usaha atau belajar mengenal."

Dari mana anak-anak kita belajar menghayati dan menikmati kasih dari Tuhan? Tidak lain dari orang tua mereka. Kita merupakan contoh bagaimana kasih Allah nyata dalam hidup anak-anak kita. Cara kita menegur dan mendisiplin mereka, cara kita mengatakan "Aku mengasihimu" melalui pemberian atau kedekatan fisik, cara kita menunjukkan kasih pada pasangan, cara kita menunjukkan kasih pada mertua atau orang tua kita, cara kita memperlakukan orang lain yang berpapasan dengan kita, cara kita memperlakukan orang-orang yang bekerja pada kita, atau cara kita berhubungan dengan Tuhan, merupakan model kasih yang membekali mereka dalam mengasihi.

Selain melihat model kasih dari orang tua, anak-anak juga dapat belajar mengasihi melalui cara kita mengomentari setiap kejadian, yang secara spontan kita alami. Misalnya, saat anak melihat orang-orang yang bertengkar, apa komentar kita terhadap hal itu? Atau saat kita kedatangan tamu dan kebetulan mereka membawa anak-anak mereka, apa yang kita ajarkan pada anak saat anak kita sedang memegang mainannya? Apakah kita mengajak mereka untuk berbagi?

Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Takut atau khawatir adalah salah satu penghalang bagi kita untuk mengasihi. Kita bisa takut mengasihi karena takut disakiti. Kita bisa takut menyatakan kasih kalau-kalau kita mengalami penolakan. Kita takut memberi cinta karena takut tidak mendapat cinta yang setimpal dengan apa yang kita beri. Padahal prinsip inilah justru yang perlu dihindari saat kita mengajarkan anak-anak kita untuk mengasihi.

Kita mengajarkan anak-anak mengasihi, bukanlah supaya mereka mendapatkan kasih dari orang lain, melainkan kita mengajarkan anak-anak untuk mengasihi karena mereka mendapatkan kasih dari dan memiliki kasih Allah yang sejati. Dan kasih yang mereka berikan pada orang lain, bukanlah kasih yang terkondisi oleh perasaan sesaat. Betul, saat kita memiliki perasaan haru atau belas kasihan, itu menjadi pendorong kita untuk mengasihi. Tapi bagaimana kalau perasaan itu berubah jadi kebencian? Kalau anak-anak kita merasa marah pada teman yang merebut mainannya? Atau mereka sedih karena tidak diperhatikan oleh teman-temannya? Di sinilah kekuatan kasih. Kasih tidak bergantung pada perasaan kita. Ia ada karena Tuhan yang memerintahkan kita untuk terus mengasihi.

1 Yohanes 4:7-8 mengatakan, "saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih".

Kasih tidak bergantung pada perasaan, tetapi pada pola pikir anak-anak kita, sehingga mereka mau tidak mau terbawa untuk mengasihi dalam kondisi apa pun. Mereka mungkin akan melakukannya dengan berat hati, namun karena mereka tahu bahwa itu adalah baik yang mereka harus lakukan, maka ketaatan pada Sang Kasih menjadi otoritas tertingginya, dan bukan perasaannya.

Kemurahan merupakan salah satu bagian dari buah Roh, yang seharusnya terjadi karena gerakan hati yang memiliki belas kasihan akan orang-orang di sekitar kita, sehingga dengan sukacita kita melakukan sesuatu untuk orang-orang tersebut.

Itulah sebabnya, untuk menjadikan anak-anak kita berhati tulus dalam menyatakan kemurahan hatinya, diperlukan kebiasaan dalam berpikir sebelum anak-anak kita diajak untuk bertindak sesuatu. Misalnya saja, saat anak-anak kita melihat orang-orang yang meminta-minta di pinggir jalan. Kepekaan bahwa ada orang-orang di pinggir jalan yang membutuhkan perlu diperdengarkan oleh kita sebagai orang tua. Misalnya, "Lihat Dik, orang-orang di pinggir jalan itu. Kasihan mereka, ada yang tidak punya rumah, ada juga yang belum makan. Mereka minta-minta karena mereka perlu uang untuk makan."

Penjelasan di atas memang akan menjadi kurang cocok jika dijelaskan pada anak usia SD. Itulah sebabnya, penjelasan mengenai hal di atas perlu ditambah atau dilengkapi sesuai dengan bertambahnya usia anak. Misalnya, "Orang-orang di pinggir jalan itu memang tidak punya uang untuk makan. Tetapi sebetulnya, bisa saja mereka bekerja. Sayangnya, bisa jadi di antara mereka ada yang sudah mencari pekerjaan tetapi tidak mendapatkannya. Dan karena uang yang mereka dapat dari hasil meminta-minta lebih besar daripada mereka bekerja, akhirnya mereka menjadikan ini sebagai pekerjaan mereka."

Dalam diskusi dengan anak-anak yang lebih besar, tentu saja mereka bisa bertanya, "Kalau begitu untuk apa kita memberi mereka? Bukankah mereka akan menjadi seorang yang malas bekerja dan hanya meminta-minta?" Lalu kita bisa menjawab, "Tentu, mereka bisa menjadi orang yang malas bekerja. Dan lebih menyedihkan lagi kalau mereka justru menggunakan anak-anak mereka untuk mengundang belas kasihan orang lain. Tetapi bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang berbeda dari kita. Mungkin sedikit roti atau susu bisa berguna untuk kesehatan anak-anak itu, daripada kita memberi uang. Mungkin saja orang tuanya tidak membelikan susu untuk mereka, siapa lagi yang mau peduli kalau kita saja melewatkan mereka begitu saja setiap minggunya. Ayo kita siapkan susu setiap kali kita melewati jalanan ini."

Yang kita harapkan adalah anak-anak belajar peka, bahwa ada orang-orang di sekitarnya yang berbeda dari mereka, dan membutuhkan uluran tangan Tuhan melalui kita. Jika ada seorang anak yang menjadi kedi payung, tujuan utama kita adalah mengajarkan anak-anak kita untuk memberi pada mereka yang tidak sama kehidupannya dengan keluarga kita. Bukan berarti kita hendak menghakimi atau menduga, siapa di balik usaha kedi payung tersebut? Atau uang yang mereka terima akan dipergunakan untuk apa? Arahkan terus pada kepekaan anak untuk bermurah hati pada orang-orang di sekitarnya. Ajaklah mereka untuk menyadari bahwa Tuhan bisa menitipkan orang-orang yang tidak sama dengan mereka, agar kita belajar bermurah hati. Misalnya, pada orang yang lebih tua, pada seorang oma atau opa, pada teman yang tidak membawa makanan kecil seperti anak kita, atau juga pada sebuah berita yang melalui gereja atau sekolah, anak-anak kita bisa belajar berbagi.

Melakukan Pekerjaan Baik

Menurut W.E. Vine, seorang cendekiawan Yunani, dalam "Vine's Expository Dictionary of New Testament Words", kemurahan atau keramahan surgawi adalah: "sikap penuh kasih Allah terhadap orang lain," sedangkan kebaikan adalah: "suatu tindakan atau perbuatan baik yang dilakukan bagi kepentingan orang lain."

Itulah sebabnya, menurut Greg Zoschak, jika seorang Kristen tidak memiliki kemurahan dari Allah, ia mustahil akan melakukan kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. Lebih lanjut lagi, kemurahan adalah apa yang orang-orang dapat lihat melalui diri orang beriman, sedangkan kebaikan adalah apa yang mereka alami dari orang beriman tersebut.

Untuk menjadi anak-anak Tuhan yang baik, mereka bukan hanya perlu menunjukkan sikap baik mereka pada anggota keluarga atau orang-orang yang dekat dengan anak, sehingga banyak orang menyaksikannya. Namun, anak-anak juga perlu belajar untuk keluar dari zona kenyamanan mereka, yaitu tempat di mana mereka merasa aman melakukan kebaikan. Di mana tempat itu? Tempat itu adalah di dalam rumahnya, di lingkungan teman dekatnya, atau di lingkungan keluarga besarnya.

Salah satu cara untuk melatih kebaikan kita pada orang-orang di luar zona nyaman kita adalah belajar memikirkan satu hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri kita, keluarga kita, gereja kita, atau sahabat kita. Kepada atau pada mereka itulah kita dan anak-anak kita bisa belajar berbuat baik.

Kebaikan haruslah dirasakan oleh mereka yang sama sekali tidak bisa membalas kebaikan kita dan anak-anak kita. Mungkin juga sampai orang yang kepadanya kita berbuat baik mengatakan, "Aduh, saya tidak bisa membalas apa-apa. Terima kasih!"

Yesus mengumpamakan kebaikan dengan garam, Matius 5:13 mengatakan, "kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang."

Jikalau kita tidak memiliki kebaikan Tuhan, niscaya kita tidak mungkin dapat membuat orang lain merasakan kebaikan Tuhan itu melalui kita. Garam itu tidak terasa asin. Orang tidak akan mengatakan, "Ini asin!" atau "Terima kasih Tuhan atas kebaikan-Mu melalui orang itu!" melainkan orang akan mengatakan, "Aduh, aku berhutang pada dia. Sebab dia begitu baik pada saya."

Tidak ada orang tua yang menghendaki anak-anaknya menjadi anak-anak yang tidak setia pada Tuhan. Tapi bagaimana caranya membuat mereka tetap setia sampai akhir? Amsal 22:6 mengatakan, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."

Mendidik anak setidaknya memenuhi tiga hal: kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Salah satu cara mendidik anak untuk tetap setia adalah dengan mengajarkan mereka untuk setia datang ke gereja atau sekolah minggu.

Kebiasaan lain yang dapat mengajarkan anak untuk setia adalah berdoa bersama keluarga, atau juga kebiasaan membaca Alkitab. Ada banyak Alkitab versi anak-anak dengan berbagai usia yang dapat membuat anak mengerti isi dan pesannya. Seperti ritual sikat gigi dan mencuci kaki setiap malam, biarkan orang tua, khususnya para ayah diberikan kesempatan untuk menjelaskan isi dan pesan Alkitab pada anak-anak sebelum tidur setiap harinya. Bahkan saat anak sedang berlibur, dirawat di rumah sakit, atau bepergian, ingatkan mereka untuk melakukannya sebagai bagian tradisi keluarga, tetapi juga hal yang Tuhan kehendaki.

Itu sebabnya, kita sebagai orang tua juga perlu mengisi diri sebelum mengajarkannya pada anak-anak kita. Kesetiaan itu dapat kita mulai dengan memilih satu kali selain hari Minggu, tempat atau wadah di mana kita bisa mempelajari Alkitab bersama teman-teman seiman, entah itu dalam Kombas, persekutuan wilayah, persekutuan doa pagi, atau persekutuan lainnya.

Diringkas dari:
Nama situs: gkipi.org
Alamat URL: http://gkipi.org/mengajarkan-buah-roh-pada-anak/
Judul artikel: Mengajarkan Buah Roh Pada Anak
Penulis: Riani Josaphine
Tanggal akses: 12 Desember 2011

www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®