Sabtu, 10 Juli 2010

Rancangan-Nya

Malam ini, sambil menatap wajah tak berdosa Fioriys
Aku terhanyut dalam keheningan...
Teringgat olehku kejadian tahun yang silam
Saat dimana kuajukan klaimku atas janji-Nya
Saat dimana kututanyakan besaran premium atas kewajiban yang sudah kulakukan...

Bertahun-tahun aku bekerja pada ladang-Nya
Melayani-Nya dalam setiap hariku
Predikat guru sekolah minggu teladan berkali kali kudapat.
Tapi kerinduan pasangan hidup belum juga kutuai

Aku pernah bertanya kepa-Nya :
Bapa bertahun-tahun aku telah melayani-Mu
Bertahun tahun juga aku telah mengarkan firman-Mu pada anak-anak kecil
Aku menjaga prilakuku untuk menempatkan diriku sebagai contoh kecil teladan-Mu...
Tapi kenapa samapi hari ini tak juga Engkau pertemukan aku dengan bagian rusukku..???

Ia hanya tersenyum padaku tanpa menjawabku sepatah katapun

Aku kembali berta-Nya :
Aku tak pernah meminta pada-Mu untuk memberikaan pasangan yang sempurna bagiku...???
Aku hanya meminta pasangan yang taat pada-Mu
Apakah itu salah...???

Ia menjawabku dengan penuh kasih dan kelembutannya:
Terkadang yang engkau pinta itu sebagian sudah ada dihadapanmu
Namun hatimu masih menolaknya.

Dahiku mengkerut, aku kembali bertanya pada-Nya dengan nada sedikit memaksa :
Sebagian sudah ada dihadapanku....??
Kenapa harus sebagian bukankah Engkau sendiri yang mengatakan akan adanya pasangan yang sepadan denganku....???

Ia menggeleng dan menjawabku kembali:
Aku berikan engkau sebagian yang kau pinta agar engkau dapat membimbingnya dan membuatnya menjadi utuh
Dan bila engkau menginginkan sepadan denganmu sudah Ku hadirkan bagimu, namun engkau tak pernah menyadari sepadankah dirimu bagi bentuk kesempurnaan rusuk yang kau pinta....??

Aku hanya terdiam
Sesat aku merenung
Aku berusaha menjadi contoh
Aku berusaha bersikap menerima apa kehendak-Nya
Tapi ternyata aku tetap memiliki keinginan yang bertolak belakang dengan kehendak-Nya. Ketika kenyataan ada didepanku, aku berusaha menolak, berdalih dan menjauh. Karena semuanya tidak sama seperti mauku.

Aku terus menunduk
Aku sadar, aku memang tak sesempurna kriteria pasangan sempurna yang kubayangkan. Aku benar-benar malu atas klaim yang kuajukan pada-Nya.
Aku tahu bahwa ia tidak akan memberikan ular ketika aku meminta roti.

Tiba-biba Ia mengecup keningku dan berkata:
Aku selalu membuat rancangan indah dalam hidupmu anak-Ku
Jadi jangan kamu kahwatir.

Aku hanya diam
Tapi dibenakku sejuta tanya menghujam
Jika memang tak ada pasangan untukku
Bagai mana hari tua akan kulalui tanpa anak-anak dan pasangan...???

Ia kembali berkata padaku:
Janagan kuwatir akan hari esokmu karena segalanya sudah kusiapkan...!

Sejak itu aku berusaha menerima apa rancangan-Nya
Aku mecoba untuk tidak mengajukan klaim atas keuntungan lain diluar polis keselamatan yang sudah kupunya.
Aku mencoba keluar dari kekuwatiranku sambil terus melayani.

Tahun pertama berlalu..
Tema-temanku sudah menikah bahkan ada yang sudah memiliki anak
Tahun kedua berlalu
Saudara laki-lakiku sudah memiliki dua orang anak seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Aku mulai tergangu dengan pertanyaan orang-orang disekelilingku tentang pasangan hidup, dan perbandingan diriku dengan teman-temanku yang sudah memiliki pasangan dan anak-anak.

Terkadang terlintas dibenakku kembali mengajukan klaim atas jaminan hidupku pada-Nya. Tapi kembali kuurungkan, keyakinan akan janji-Nya tentang rancangan indah-Nya dalam hidupku masih ada.

Tahun ketiga berlalu
Tahun keempat berlalu
Situasi dan kondisi yang sama terus terjadi dan terus kucoba lalui
Tahun kelima berlalu
Tuntutan kedua orang tuaku mulai ada, bahkan perjodohan pun mereka lakukan. Tapi entah kenapa orang yang dijodohkan denganku tidak tertarik padaku.
Padahal fisikku cukup sempurna untuk seorang wanita muda.

Pada tahun keenam
Sebuah tragedi naas terjadi pada keluargaku
Kecelakaan beruntun dikilometer 13 arah Tangerang terjadi
Kecelakaan itu menelan korban kakak laki-lakiku dan istrinya, sepupuku dan bibiku. Saat tragedi naas itu terjadi aku dan kedua orang tuaku berada di mobil terpisah.

Setelah kejadian itu
Kedua anak saudara laki-lakiku ada dalam pengasuhanku
Aku berjuang bagi masa depan mereka layaknya orang tua yang berjuang demi masadepan anak-anaknya.

Kulalui hari-hariku
Dengan kesibukanku menyiapkan masa depan yang terbaik bagi mereka
Tak pernah terpikir olehku akan pasangan hidup yang selalu kunanti sepadan.......

Aku mencoba bertanya padanya
Adakah Ia menjawabku seperti tahun-tahun yang lau:
Bapa sejujurnya sampai saat ini aku tak mengerti jalan rencana-Mu atas hidupku dan atas anak-anak yang telah Engkau berikan padaku saat ini.

Tiba-tiba Ia ada dihadapanku
Ia menjawabku sambil mengusap rambutku :
Aku tak pernah meminta engkau mengerti
Aku hanya meminta engkau menjalaninya dengan iman dan keyakinanmu akan firman-ku dan rancangan-Ku.

Sambil menghela napas panjang aku berkata:
Bukan aku menuntut atau tak menerima apa yang ada saat ini, tapi Bapa apakah aku memang tidak menyiapkan pasangan yang sepadan denganku dimuka bumi ini sampai aku harus sendiri sampai saat ini..???
Aku berterimakasih atas tanggung jawab kedua anak ini dalam hidupku tapi aku hanya ingin bertanya adakah pasangan itu ada untukku..???

Ia kembali bertanya padaku
Apakah saat ini engaku masih menginginkan pasangan hidup....??

Dengan waktu singkat aku langsung menjawab:
Tentu saja...
Aku ingin memiliki keluarga sendiri
Aku ingin memiliki anak-anak sendiri......???

Ia tersenyum dan menatap Fioriys dan Deylen yang tertidur pulas sambil berkata:
Bagai mana dengan mereka...???
Jika engkau memikirkan dirimu sendiri, pasanganmu sendiri dan keluargamu sendiri, apa yang terjadi dengan masa depan mereka.....???

Aku tak langsung menjawab
Aku terdiam tanpa kata
Aku tahu jika benar pasangan itu ada untukku, adakah ia menerima kedua anak ini...???
Adahkah aku mempunyai kemampuan untuk memperjuangkan masa depan mereka mendahulukan kepentingan mereka dibanding kepentingan anak-anakku....????
Entahlah apakah aku terlalu jauh berpikir seperti ini....????

Tiba-tiba Ia berkata kepadaku:
Semua itu ada dalam keinginanmu tapi kenapa engaku sendiri memiliki ketakutan bahkan keraguan untuk menjalaninya.
Jika keraguan dan ketakutan itu masih ada dalam hatimu bagaimana aku dapat memberikan itu padamu.
Tidakkah hal itu justru memperpurukmu dalam ketakutan dan keragu-raguan menjalani hidup...???

Aku kembali terdiam tanpa kata aku berusaha memahami semua yang Ia berikan.

Ia tersenyum dan berkata
Akulah mempelai laki-lakimu anak-ku

Tanpa sadar aku menangis,
Aku tahu Ia-lah pasangan yang sepadan menurutku...dan semua orang yang percaya pada-Nya
Ia memelukku dengan ereatnya, sementara tangisku semakin menjadi dalam peluk-Nya. Ia membiarkan semuanya berjalan seperti itu sampai aku terlelap dengan nyenyaknya.


Terkadang kita meminta sebuah kesempurnaan
Namun kita tidak pernah melihat diri kita apakah kita pantas untuk kesempurnan itu...???

Kita meminta sesuatu pada Bapa disorga
Tetapi kita tetap memberikan kriteria atau syarat atas apa yang kita minta.
Tidak membiarka Ia memberi dengan selayaknya.
Ketika pemberian itu kita terima terkadang kita masih menolaknya karena ketidak pasan atas kriteria atau syarat yang kita mau....

Cobalah kita pahami
Bahwa Bapa tidak akan memberi ular pada anak-Nya yang meminta roti.
Melayaninya bukan berarti kita berhak atas tuayan berkat lebih kasih-Nya, kepastian ketidak bergelombang hidup kita.
Bahwa Ia tahu apa yang baik bagi kita
Ia menyiapkan segala sesuatu tepat pada waktunya dan bagi semuanya menurut cara dan Kehendak-Nya. -AMIN


Untuk semua yang terkasih
Kuceritakan kembali kisahmu ini untuk ana-anak-Nya yang terkasih
Elisabeth CH E Pattinama ( Chey )


__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar