Sabtu, 10 Juli 2010

*Manusia yang normal bagi Allah �Erastus Sabdono*


Saudara-saudaraku yang terkasih,

Semakin kita menjadi manusia normal yang sejati di hadapan Allah, semakin
dunia menentang kita. Meskipun kita tidak kehilangan kemanusiaan kita, kita
hidup secara wajar seperti manusia lain hidup, pertumbuhan kita sebagai
manusia normal di hadapan Allah pasti terbaca.

Biasanya orang-orang yang tidak mengenal kebenaran dan yang merasa terancam
dengan kebenaran yang kita miliki pasti akan menganggap kita sebagai seorang
yang sok suci, munafik, aneh, dsb. Namun kita tidak boleh berhenti karena
keadaan-keadaan tersebut. Kita harus terus menjadi manusia normal bagi
Tuhan, sebab hanya manusia yang normal bagi Tuhanlah yang akan menjadi
kekasih-kekasih Tuhan.

Menjadi persoalan di sini adalah, apakah kita sudah menjadi manusia normal
bagi Allah? Sebab manusia yang normal bagi Allah adalah seorang yang
mengutamakan Allah lebih dari segalanya. Dan orang yang mengutamakan Allah
lebih dari segalanya adalah orang yang memuliakan Allah lebih dari segala
perkara. Baginya, Tuhan lebih menarik dari apa pun juga. Dengan demikian,
segala keinginan mata dan kegemerlapan dunia tidak dapat memperbudaknya.

Setiap kita pasti diperhadapkan pada pilihan mencintai dunia atau mencintai
Allah. Tidak bisa dimungkiri bahwa selama kita hidup di dalam dunia ini,
pilihan seperti ini akan selalu ada di hati kita. Dunia kita hari ini adalah
dunia yang fasik. Lebih banyak manusia yang mencintai dunia daripada
mencintai Tuhan. Sekarang di manakah kita akan menjatuhkan pilihan? Dunia
atau Tuhan?

Dalam Flp. 3:8 Alkitab berkata, �Malahan segala sesuatu kuanggap rugi,
karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada
semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan
menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus*.�Di sini kita dapat
melihat dengan rela dan sadar, Paulus lebih memilih Yesus daripada dunia.
Kita juga harus belajar dari Zakheus ketika ia berjumpa dengan Tuhan. Dia
menganggap Yesus lebih mulia dari kekayaannya, padahal untuk memperoleh
kekayaannya itu ia harus mempertaruhkan hidupnya. Ia rela dikutuk oleh
bangsanya karena telah menjadi kepala pemungut cukai, tetapi untuk
memperoleh Yesus, ia rela melepaskan kekayaannya yang sudah dengan susah
payah ia peroleh.

Manusia normal bagi Allah adalah manusia yang rela membiarkan dirinya
dikuasai penuh oleh Tuhan. Kalau kita sadar untuk menjadikan Tuhan
segalanya, maka kita akan memiliki kerelaan untuk membiarkan Tuhan menguasai
kita sepenuhnya.

Manusia normal bagi Allah adalah manusia yang tidak takut pada keadaan apa
pun. Ia mampu menikmati sukacita Allah dalam segala keadaan. Manusia yang
normal bagi Allah adalah manusia yang selalu mengandalkan Tuhan dalam
keadaan apa pun. Dalam Mzm. 27:5-6 Alkitab berkata, �Sebab Ia melindungi
aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam
persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. Maka
sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam
kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau
menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN*.�Orang yang mengandalkan Tuhan seperti
ini adalah orang yang tidak cengeng, ia menggantungkan kebahagiaan hidupnya
dalam hal-hal rohani.

Akhirnya, manusia yang normal bagi Allah adalah manusia yang melakukan
segala sesuatu untuk kemuliaan Allah. Dalam 1Kor. 10:31 Alkitab berkata, �Aku
menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau
melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah*

Sumber : http://www.rehobot.net/article/manusia_yang_normal_bagi_allah

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar