Sabtu, 10 Juli 2010

Dibenci
saudara, dicinta Allah

Kejadian 37:1-11

Pengalaman
dan pengaruh buruk pada masa kecil
biasanya berlanjut membentuk kepribadian yang tidak baik. Demikian
jugakah yang
terjadi pada Yusuf?


Mulai
pasal ini fokus kisah bergeser bukan lagi pada
Yakub, tetapi pada salah seorang anaknya yang kelak akan menjadi orang
penting.
Meskipun Yusuf bukan anak pertama, tetapi pasal ini menarik perhatian
kita
kepada dia: "Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf..." (2. Lihat juga
Kej. 33:2 di mana Yusuf satu-satunya nama yang disebut ketika rombongan
Yakub
menemui Esau). Kasih Yakub yang lebih besar kepada Rahel membuat dia
mengasihi
Yusuf lebih daripada anak-anaknya yang lain. Apalagi Yusuf lahir setelah
Rahel
lama tidak dapat memberikan anak kepada Yakub. Maka Yakub memberikan
perhatian
istimewa kepada Yusuf. Ini membangkitkan masalah bagi keutuhan keluarga
itu.
Semua saudaranya iri dan membenci Yusuf karena ia diistimewakan.


Jika
orang lain dalam posisi Yusuf, pasti ia jadi
anak manja dan mungkin tak pernah dewasa. Namun Yusuf tidak demikian.
Ada dua
hal menarik. Pertama, ia menunjukkan kerajinan dan tanggung jawab.
Rupanya
Yakub tidak mengecualikan Yusuf dari kewajiban untuk bekerja. Ini
menyelamatkan
Yusuf dari kemanjaan. Kedua, Yusuf bukan saja diistimewakan oleh Yakub,
tetapi
juga oleh Allah. Dua kali Allah memberi Yusuf penyataan tentang masa
depan dia
dan keluarganya, bahkan masa depan dunia.


Sikap
iri para saudaranya bukan sekadar reaksi buruk
yang harus Yusuf tanggung. Dalam bingkai lebih besar, suasana ini
mewakili banyak
situasi sulit lain sepanjang hidupnya, yang menjadi latar di mana
rajutan
rencana Allah diwujudkan untuk Yusuf. Ia dibentuk istimewa dalam konteks
yang
sulit, menjadi alat bagi rencana besar istimewa Allah untuk umat
perjanjian-Nya. Kisah ini menolong kita saat menghadapi berbagai situasi
sulit
dalam hidup. Tak perlu menganggap diri sebagai korban keadaan, tetapi
lihatlah
sebagai bagian dari rencana besar Allah bagi hidup dan masa depan Anda.

||||||
sumber: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/
||||||

Jangan Larut

2 Samuel 12:15-23
Ayub 38-40:19;
Kisah Para Rasul 16:1-21

Seorang
anak
kecil menangis keras. "Mengapa kamu menangis?" tanya ibunya. "Uang
seribu
rupiah yang dikasih Ayah kemarin hilang," jawab anak itu. "Ya, sudah,
Ibu
ganti. Jangan menangis lagi, ya," kata sang ibu sambil menyodorkan uang
seribu.
Anak itu menerima dengan gembira, tetapi sejenak kemudian ia menangis
lagi
lebih keras. "Lo, mengapa kamu malah menangis lagi?" tanya ibunya pula.
"Kalau
uang dari Ayah kemarin tidak hilang, saya punya dua ribu rupiah, Bu."

Itu hanya cerita humor. Namun, sebetulnya sikap si
anak itu mencerminkan sikap kita dalam keseharian. Kita kerap lebih
berfokus
pada apa yang hilang, dan mengabaikan apa yang ada. Kita begitu sedih
karena
sesuatu yang "diambil" dari kita, sehingga lalu kita lalai untuk
mensyukuri
sesuatu yang "diberikan" kepada kita. Perhatian kita hanya tertuju pada
yang
sudah tidak ada.

Daud pun mengalami kehilangan sangat besar. Anaknya
dari Batsyeba meninggal dunia. Padahal ia sudah begitu kuat berupaya,
memohon
belas kasihan Tuhan (ayat 16). Namun, Tuhan berkehendak lain. Patah
arangkah
Daud? Tidak. Kepada para pegawainya ia berkata "Selagi anak itu hidup,
aku
berpuasa dan menangis … Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus
berpuasa?
Dapatkah aku mengembalikannya lagi?" (ayat 22,23). Daud seolah mau
berkata.
"Anak itu sudah tiada. Aku sangat sedih. Tetapi toh hidup harus tetap
berjalan."

Saat ini kita mungkin tengah mengalami kehilangan
besar. Tidak
ada salahnya kita bersedih. Yang salah kalau karena begitu larutnya
dalam
kesedihan, kita lalu lupa pada kehidupan yang masih harus kita jalani.

Hidup
tidak surut ke belakang maka jalani dengan menatap ke depan

Penulis: Ayub Yahya

||||||
sumber: http://www.renunganharian.net/ ||||||


__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar