Selasa, 15 November 2011

MALARIA YANG MEMBUTAKAN MATAKU

MALARIA YANG MEMBUTAKAN MATAKU

Aku (S) dilahirkan di Muntilan, Jawa Tengah, tahun 1943. Diriku tumbuh secara normal seperti anak-anak lainnya yang hidup di lingkungan sekitar rumah orang tuaku. Saat itu, ayahku bekerja sebagai seorang pekerja di bidang kesehatan. Ibu kandungku telah meninggal dunia saat aku berusia 6 tahun. Beberapa saat setelah ibu meninggal dunia, ayah dialihtugaskan ke Makasar. Jadi, aku pun ikut pindah juga bersama ayah. Dalam perjalanan kepindahan dari Muntilan ke Makasar ini, kami naik kapal barang. Di tengah perjalanan di atas kapal inilah aku jatuh sakit. Suhu badanku meninggi. Begitu parahnya sakitku, sehingga makanan dan minuman apa saja yang diberikan kepadaku selalu aku muntahkan. Sebagai seorang petugas kesehatan, dengan segala daya dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, ayah berusaha mengatasi penyakit yang kuderita ini. Rupa-rupanya segala upaya yang dilakukan ayah hanyalah menunda malapetaka yang lebih besar yang akan menimpa diriku di kemudian hari.

Kapal yang kami tumpangi ternyata terlambat tiba di pelabuhan, dan tidak bisa dengan segera berlabuh ke pantai. Seluruh penumpang harus menunggu hingga matahari terbit keesokan harinya. Dengan demikian, pertolongan yang seharusnya segera diberikan kepadaku pun jelas kian terlambat. Ditambah pula begitu masuk ke rumah sakit di Makasar, pertolongan yang diberikan pihak rumah sakit hanya berupa suntikan sebagai penurun panas. Aku harus segera diopname untuk menunggu kedatangan dokter yang saat itu sedang bertugas keluar, yaitu melakukan pengobatan keliling daerah yang bisa memakan waktu berhari-hari. Maklumlah, keadaan saat itu sedang berada dalam masa peralihan dari zaman pendudukan Jepang -- Belanda dan Sekutu ke zaman Indonesia yang waktu itu baru saja merdeka dan menjadi negara Republik. Masa itu dikenal juga dengan zaman koalisi.

Ayahku tentu saja menjadi bingung. Sementara itu, panggilan tugasnya sebagai pekerja kesehatan menunggunya di Majene, sebuah daerah yang terletak di luar kota Makasar yang jaraknya cukup lumayan jauhnya dari Makasar. Maklumlah, pada masa itu yang namanya petugas kesehatan amat sedikit jumlahnya, terutama yang berada di luar Pulau Jawa. Apa hendak dikata, walau semuanya dalam kondisi yang serba kritis, ayah pun dengan sangat terpaksa dan berat hati mesti meninggalkan diriku yang sedang terbaring diopname di Rumah Sakit Umum Makasar. Memang, ayah harus dapat mengutamakan kepentingan umum yang menjadi panggilan tugasnya saat itu, sekalipun harus mengorbankan kepentingan keluarganya sendiri. Ayah lalu berangkat ke Majene, dengan permintaan bahwa keadaan diriku akan terus diberitakan kepadanya secara teratur.

Walau dirawat di rumah sakit, kesehatanku tetap kurang begitu menggembirakan. Suhu badanku tetap tinggi. Dari kedua mataku kini keluar air, sehingga pandanganku berubah menjadi agak kabur. Akibat kondisiku yang tak pernah membaik, hati ayah menjadi tak tenteram. Atas kebijaksanaan atasannya, ayah pun lalu dialihtugaskan ke Rumah Sakit Umum Makasar, dengan tujuan agar dapat langsung ikut terlibat mengurus diriku, yang menjadi anak tunggalnya. Dari keterangan yang berhasil didapatkan, ternyata penyakit malarialah yang menyebabkan panas tubuhku tak kunjung turun, bahkan cenderung meninggi terus. Waktu itu memang cukup banyak berjangkit penyakit malaria tropikana. Pada saat itu penyakit tersebut amat ditakuti semua orang. Penyakit yang kuderita ini kemudian mulai menyerang saraf, sehingga aku memerlukan suatu pengobatan serta perawatan yang cukup lama dan serius.

Dari hasil pemeriksaan, kami mendapat keterangan bahwa saraf mataku terganggu akibat panas yang tinggi dan sudah cukup lama kuderita selama ini. Tak ada pilihan lain. Ayah dan aku harus menerima kenyataan tersebut dengan hati tabah. Beberapa bulan kemudian, kesehatanku pun membaik. Suhu badanku berangsur-angsur turun sampai ke keadaan normal. Akhirnya, aku bisa turun dari tempat tidur dan kondisi tubuhku kembali sehat. Kecuali satu, mataku tetap berair. Hal ini membuat diriku tak tahan bila terkena sinar terang. Memasuki bulan keenam di rumah sakit, saat aku hendak membuka jendela kamarku pada suatu pagi, tiba-tiba saja aku merasa terkejut sekali. Mataku terasa perih seperti disengat api ketika terkena sinar matahari. Kepalaku terasa begitu sakit sekali bagai ditusuk dengan ribuan jarum. Pandangan mataku terasa sangat kabur.

Aku sepertinya berada di dalam lingkungan kabut yang amat tebal sekali. Aku undur dan duduk di tepi ranjangku, sambil merenungi nasib dan memikirkan keadaan diriku. Keadaanku yang seperti itu lalu kuceritakan kepada ayah ketika ia menjengukku pada sore harinya. Dari hasil pemeriksaan dokter, kami mendapat keterangan bahwa saraf mataku terganggu akibat penyakit panas yang tinggi dan cukup lama yang kuderita selama ini. Hal ini mengakibatkan pula terganggunya saraf pada kornea dan selaput mataku.

Pada waktu itu di kota Makasar belum ada tenaga ahli spesialis mata, yang ada hanya di Pulau Jawa. Kami pun lalu dianjurkan untuk segera berobat ke dokter ahli mata yang ada di Pulau Jawa. Namun, karena keadaan yang kurang memungkinkan, ayah baru bisa membawaku ke Pulau Jawa pada tahun 1951. Kepergian itupun sehubungan dengan kepindahan posnya di Bogor. Saat itu kondisiku sudah benar-benar sehat. Hanya saja aku harus selalu mengenakan kacamata hitam guna menjaga mataku yang selalu berair dan tak kuat bila terkena sinar terang. Terutama sekali pada waktu siang hari.

Di Bogor penyakit yang kuderita tidak langsung diobati karena dokter spesialis mata yang ada kebanyakan sedang melakukan tugas keliling ke berbagai daerah. Selama menunggu kedatangan dokter ahli mata, aku menjadi penunggu rumah sambil mengurus ayah yang tetap hidup menduda. Setelah 5 bulan, barulah dokter ahli mata itu dapat menangani penyakit yang kuderita. Dari hasil pemeriksaan intensif yang dilakukannya selama 1 minggu, kami mendapat keterangan bahwa saraf yang menghubungkan mata dan otakku sedang mengalami proses kerusakan yang cukup fatal. Keadaan ini terjadi karena penyakit yang kuderita tidak segera ditangani, dan dibiarkan begitu saja dalam waktu yang terlalu lama. Akibatnya, kondisi yang telah sangat parah ini sulit sekali untuk disembuhkan. "Dalam waktu yang tidak lama lagi, anak Anda akan mengalami kebutaan total!" kata dokter ahli mata itu kepada ayah.

Kebutaan Bukanlah Penghalang untuk Maju

Berita yang didengar dari dokter itu benar-benar memukul hati ayah. Ia menyesali dirinya karena telah mengajakku pindah ke Makasar. Seandainya saja ia tak membawaku pindah dan kalaupun aku sakit, toh masih berada di Pulau Jawa, sehingga tentu keadaanku akan segera bisa diatasi secepatnya. Ia juga menyesali dirinya yang tak memiliki uang cukup banyak untuk membawa diriku sesegera mungkin ke Jakarta saat itu. Sebagai seorang ayah, ia tak bisa memaafkan dirinya atas apa yang terjadi dengan diriku, anaknya. Apalagi ia merasa sebagai seorang petugas kesehatan yang cukup dipandang masyarakat dan sebagai tumpuan harapan kesembuhan atas penyakit yang kuderita.

Sebagai anak kecil yang belum bersekolah, aku menyadari bahwa diriku tidak mungkin hidup sebagaimana anak-anak lainnya. Tetapi, keinginanku untuk bersekolah tetap membara. Lalu aku mendesak ayah agar mengirimku ke sekolah. Ayah menyadari akan kebutuhanku dan dengan segala daya, ia lalu mencari keterangan tentang sekolah yang kudambakan. Dengan segala daya ia mencari keterangan ke sana kemari mengenai sekolah yang bisa menerima diriku dengan kondisi yang kualami. Maka, aku pun kemudian dikirim ke kota Temanggung di Jawa Tengah untuk bersekolah. Aku dimasukkan ke sekolah khusus bagi para tunanetra, yaitu di Sekolah Rakyat Perawatan untuk Anak-Anak Buta.

Di sekolah ini aku dan teman-temanku mendapat pelajaran secara khusus. Semua murid dilatih untuk menggunakan indera pendengaran secara lebih tajam dan lebih teliti, di samping melatih ketajaman daya ingatan yang dimiliki. Semua mata pelajaran yang diberikan tidak jauh berbeda dengan mata pelajaran yang diberikan di Sekolah Rakyat untuk anak-anak normal lainnya. Hanya bedanya di sekolah ini kami belajar menulis, membaca, berhitung dan mendapat bahan bacaan semuanya dengan huruf braille. Di samping memperoleh bahan mata pelajaran biasa, kami juga mendapat mata pelajaran berbagai keterampilan khusus, seperti membuat meja, kursi, bingkai gambar hiasan dinding, menjahit dan menyulam yang tentunya diberikan khusus bagi anak perempuan. Di sekolah ini aku juga mendapat pendidikan rohani. Semua murid yang belajar di sekolah ini tinggal di asrama. Jadi, sebulan sekali ayah menyempatkan diri untuk menengokku di asrama.

Tidak terasa, 6 tahun pun berlalu sudah. Tingkat pendidikan di sekolah itu dapat aku lalui dengan baik. Ini berarti aku harus meninggalkan segala kehangatan yang ada di asrama sekolah itu. Aku kembali berkumpul dengan ayah, yang saat itu secara kebetulan dipindahkan ke Magelang. Kembali aku menjadi penunggu rumah, tanpa memiliki kegiatan yang berarti. Ini membuat sedih hati ayah, karena aku kini kesepian. Pada suatu kesempatan liburan panjang, aku mengundang keponakanku, M, untuk menemaniku di Magelang. Selama masa liburan tersebut, kami banyak melakukan kegiatan bersama -- memasak, berbelanja, membersihkan rumah, bercocok tanam, atau berdiskusi tentang berbagai pelajaran di sekolah. Saat liburan sekolah hampir usai, aku mengantar M ke terminal bis. Dalam perjalanan mengantar itulah, aku mengutarakan keinginanku untuk dapat melanjutkan sekolah. Aku ingin sekali bisa masuk SGB (Sekolah Guru Bawah) agar dapat menjadi guru di kelak kemudian hari.

Mendengar keinginanku tersebut dari M, ayah amat terkejut sekali. Karena dorongan cintanya yang amat besar sekali kepadaku, ayah lalu berangkat ke Salatiga untuk mencari keterangan. Di SGB Kristen, ayah menemui kepala sekolah dan membicarakan tentang keinginanku. Kepala sekolah tersebut setuju menerimaku bersekolah di SGB Kristen asuhannya, dengan suatu tujuan: diriku akan dijadikan objek penelitian SGB tersebut dalam rangka pengembangan pendidikan khusus bagi anak-anak tunanetra. Tahun 1956 aku secara resmi diterima sebagai murid di SGB Kristen Salatiga.

Lima Talenta

Di SGB Kristen Salatiga ini, selain mendapat pelajaran dalam bidang dunia pendidikan, aku juga mendapat pelajaran kerohanian. Di sekolah inilah aku mendengar sebuah khotbah yang amat mengesankan dan menarik hatiku. Khotbah tersebut lalu menjadi bahan pemikiran dan perenunganku, yang pada akhirnya juga mengubah jalan hidupku secara total di kemudian hari. Aku amat terkesan sekali dengan khotbah yang mengambil perumpamaan tentang talenta dengan 3 orang hamba yang diambil dari Injil Matius 25:14-30.

Setelah mendengar khotbah tersebut, timbul keyakinan dan iman yang kuat dalam diriku bahwa setiap orang percaya telah diberi talenta yang sama oleh Tuhan. Bukankah Tuhan adalah Pencipta yang Maha Adil? Tinggal masalahnya sekarang, bagaimanakah cara setiap orang percaya mengembangkan talenta yang sudah diperolehnya. Cara belajarku di SGB Kristen Salatiga memang tidak sama dengan murid-murid lainnya. Aku harus sering ditolong, seperti halnya saat membuat catatan di papan tulis, pada waktu menerangkan mata pelajaran. Buku cetak yang harus aku baca, semuanya tidak ditulis dalam huruf braille. Jadi, teman-temanku menolong membacakan buku itu yang kemudian harus aku salin ke dalam huruf braille. Sesudah itu, aku mesti mengetiknya kembali dengan rapi.

Saat ulangan di sekolah tiba, aku mengerjakannya secara khusus di ruang kepala sekolah. Keistimewaan yang kuterima ini dianggap sebagai hal yang wajar oleh teman-temanku. Di SGB Kristen ini aku pun berhasil lulus dengan memperoleh prestasi yang sangat gemilang. Sebagai penghargaan, aku ditawari untuk masuk SGA (Sekolah Guru Atas) Kristen Salatiga dengan mendapat beasiswa bantuan dari gereja. Kesempatan itu tentu saja tak pernah kusia-siakan. Aku berhasil menyelesaikan pendidikan di SGA tersebut pada tahun 1960.

Setahun kemudian, Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) saat itu, Prof. Dr. O. Notohamijoyo, menawariku untuk kuliah di UKSW dengan persyaratan bahwa aku harus lulus ujian masuk. Kesempatan itu pun tak kusia-siakan. Tawaran simpatik tersebut kusambut dengan baik dan penuh semangat. Keadaan fisikku tak menyebabkan diriku menjadi rendah diri. Dengan usaha yang keras dan pantang menyerah, setiap malam aku belajar dengan tekun dan penuh semangat. Hasilnya, aku lulus ujian masuk dan diterima sebagai mahasiswa Fakultas Pendidikan. Di bangku perguruan tinggi inipun aku selalu belajar dengan tekun dan penuh semangat. Kebutaan yang menimpaku bukan merupakan hambatan bagi diriku untuk terus melangkah maju meraih cita-cita pada setiap kesempatan yang diberikan kepadaku. Kekurangan atau cacat fisik yang kumiliki ini, justru menjadi pemacu semangatku untuk belajar secara lebih tekun agar jangan sampai ketinggalan.

Mengembangkan Talenta

Ada banyak mahasiswa asing yang berkunjung di UKSW Salatiga. Mereka ada yang datang dari Jepang, Australia, Inggris, dan juga Amerika. Mereka melihat bagaimana para mahasiswa di UKSW berjuang dengan uletnya, menyalin catatan kuliah atau membuat rangkuman berbagai literatur. Pada saat mereka kembali ke negara asal masing-masing, ternyata nama dan alamatku diberikan ke perpustakaan orang tunanetra. Mereka juga menceritakan tentang kisah perjalanan hidupku ini. Kemudian, aku pun mendapat kiriman berbagai literatur dari "Royal National Institute for the Blind" di London dan dari "Christelijke Bleiden Bibliotheek" di Belanda.

Aku baru tahu kemudian bahwa semangat belajar yang kumiliki dan gairah hidupku yang tinggi untuk mengalahkan berbagai hambatan fisikku selama ini, ternyata membuat para mahasiswa asing itu sangat terkesan. Pada tahun 1965, aku mendapat undangan dari seorang mahasiswa Jepang, untuk datang mengunjungi universitas di Tokyo, Osaka, Kobe, dan Kyoto selama 2 bulan.

Tahun 1967, aku lulus dari Fakultas Pendidikan UKSW dengan angka yang cukup gemilang. Aku lalu ditawari untuk menjadi tenaga pengajar di kampus almamaterku. Tahun 1969, aku resmi menjadi tenaga pengajar tetap dalam bidang Sejarah Pendidikan, Filsafat Pendidikan, dan Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Dalam hal membagikan ilmu kepada orang lain pun, aku ingin bertindak sebagai seorang hamba yang bijaksana, yaitu hamba yang melipatgandakan talenta pemberian tuannya seperti yang telah kudengar dalam khotbah yang amat mengesankan hatiku dan mengubah jalan hidupku. Aku ingin agar orang yang menerima ilmu yang kuajarkan setiap tahun menjadi berlipat ganda jumlahnya. Aku sangat ingin mengembangkan talenta yang kuperoleh tersebut dengan sebaik-baiknya.

Sama seperti manusia normal pada umumnya, aku pun lalu menikah dengan seorang wanita yang berasal dari kota Magelang. Wanita yang kunikahi pada tahun 1979 itu bernama S. Ia seorang mahasiswi di UKSW yang sering kali mengantarkan aku saat pergi ke kantor ataupun ketika pulang ke rumahku yang terletak di kompleks Kampus UKSW. Cinta di antara kami berdua bertumbuh karena "witing tresno jalaran saking kulino" (sebuah pepatah Jawa yang berarti: "Cinta bertumbuh karena terbiasa saling bertemu", Red.). Dari pernikahan ini, kami dikaruniai 3 orang anak yang sehat jasmani semuanya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Semua Karena Anugerah-Nya
Penulis buku: Adhy Asmara
Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta 1996
Halaman: 2 -- 14


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kehausan Akan Tuhan

Kehausan Akan Tuhan

Mazmur 42: 2-3

42:2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

42:3 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

Keindahan hidup ini terletak pada usaha kita untuk menemukan Tuhan dalam gerak kehidupan kita masing-masing. Hal pertama yang harus kita miliki untuk bisa berusaha menemukan Tuhan adalah memiliki kehausan akan Tuhan. Kehausan ini berupa kebutuhan mendesak untuk menemukan Tuhan, seperti rusa yang haus merindukan sungai yang berair.

Kehausan seorang anak Tuhan yang benar pasti disertai penghargaan setinggi-tinggi terhadap Tuhan sebagai sesuatu yang bernilai lebih dari nyawa kita sendiri. Dengan demikian, waktu, tenaga, harta dan apapun menjadi tidak berarti. Kerinduan bertemu dengan Tuhan dan mengalaminya setiap hari ini adalah kerinduan akan langit dan bumi yang baru. Dengan ini kita akan sadar bahwa dunia ini bukan rumah kita, sehingga rela melepaskan keterikatan dengan apa pun. Pekerjaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa merupakan prioritas utama.

Sikap hati yang dibutuhkan untuk membangun kehausan yang benar untuk menemukan dan mengalami Tuhan adalah merasa seolah-olah kita belum mengenal dan memahami Dia sama sekali. Jangan merasa kita sudah memiliki konsep mengenai Tuhan. Dengan sikap seolah-olah belum mengenal-Nya dengan benar itu, kita membakar kerinduan untuk mengenal-Nya dan bertemu dengan-Nya. Kita berkata, "Tuhan, aku tidak mengenal-Mu secara benar, tetapi aku ingin bertemu dengan Engkau dan mengalami-Mu." Datanglah dengan hati nurani yang bersih dan tulus.

Dengan menganggap kita belum tahu, barulah kita bisa mengalami Tuhan dengan benar, sebab kita tidak tercemar konsep-konsep mengenai Tuhan yang marak beredar dewasa ini, yang sesungguhnya banyak yang sudah menjurus kepada kesesatan. Banyak orang diajari konsep bahwa Tuhan adalah penyedia berkat jasmani, pembawa kemakmuran, dan bisa dimintai apa pun jika Ia sedang senang kepada kita. Konsep ini bukannya membawa orang kepada keselamatan kekal, malahan bisa membinasakan; sebab bukan Tuhan yang ditemuinya, melainkan hantu.

Tidak peduli apakah kita seorang Kristen baru atau seorang yang sudah bertahun-tahun menjadi Kristen, namun jika selama ini kita masih tercemar pandangan yang keliru tentang Tuhan, marilah kita mulai dari awal lagi untuk belajar mengenal-Nya. Dengan itu pasti kita dapat menemui-Nya dan mengalami-Nya, dan menyadari betapa indahnya hidup bersama Tuhan.

Hal pertama yang harus kita miliki untuk bisa berusaha menemukan Tuhan adalah memiliki kehausan akan Tuhan

Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

DERITA MEMBUKA MATA

DERITA MEMBUKA MATA

Dr. George Harley, seorang lulusan dari Universitas London,
memberi hidupnya bagi pekerjaan Tuhan di Liberia, Afrika, dengan
pengorbanan besar. Dalam lima tahun pertama, tidak ada seorang pun
yang mau berobat dan ditolong dokter. Namun suatu hari, anak Dr.
Harley meninggal dunia. Sang dokter yang begitu sedih membuat
sendiri peti mati dan mengubur anak yang dicintainya. Melihat
penderitaan sang dokter, masyarakat desa itu terkejut. Mereka heran
bahwa orang kulit putih juga bisa menangis. Air mata sang dokter
telah menyentuh hati mereka dan mengubah keadaan. Sebab bagi mereka,
itulah tanda bahwa sang dokter memiliki kasih yang mendalam. Mulai
dari saat itu, salah satu desa di Liberia disentuh dan dimenangkan
bagi Kristus.

Mata rohani orang-orang juga terbuka ketika menyaksikan keberanian
Stefanus menghadapi penghakiman massal, yang membuatnya terbunuh
sebagai martir. Mereka heran mengapa Stefanus berani membela imannya
sedemikian rupa. Itu membuktikan bahwa kepercayaan Stefanus jauh
lebih unggul dibandingkan kepercayaan orang-orang lain. Bahkan,
penderitaan Stefanus juga membuka mata batin, serta memacu semangat
dan kehendak para pengikut Kristus untuk makin gencar dan berani
menyebarkan Kabar Baik. Setelah penganiayaan Stefanus, anak-anak
Tuhan makin tersebar bahkan sampai keluar dari Yerusalem.

Penderitaan Stefanus dan Dr Harvey, justru menjadi alat di tangan
Tuhan untuk mendobrak kerasnya hati manusia. Bukan hanya mata batin
para pengikut Kristus, melainkan juga mereka yang masih membutuhkan
kasih Kristus --BL

BAHKAN PENDERITAAN ANAK-ANAK ALLAH
DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGGENAPI RENCANA BESAR ALLAH

Ayat Alkitab: Kisah Para Rasul 7:54-8:4

54 Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya
itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya
dengan gertakan gigi.
55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit,
lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan
Allah.
56 Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak
Manusia berdiri di sebelah kanan Allah."
57 Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga
serentak menyerbu dia.
58 Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan
saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda
yang bernama Saulus.
59 Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan
Yesus, terimalah rohku."
60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan,
janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan
perkataan itu meninggallah ia.
1 Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. (8-1b) Pada
waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di
Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke
seluruh daerah Yudea dan Samaria.
2 Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya
dengan sangat.
3 Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki
rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar
dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
4 Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil
memberitakan Injil.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Fokus Pada Apa Yang Abadi

Matius 6: 28-29 "Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu."
__________________________________________

Kita hidup dalam budaya yang terobsesi dengan penampilan.
Kita akan menjadi begitu khawatir tentang apa yang akan kita pakai.
Apakah ini sudah cukup stylist?
Apakah ini terlihat bagus?
Apakah saya terlihat gemuk memakai ini?
Dan kita telah mengambil obsesi ini sampai ke titik dimana kita melakukan tindakan untuk mengubah tubuh kita dengan operasi plastik, serta menghabiskan miliaran dolar untuk itu setiap tahun.

Namun Yesus berkata, "Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (Matius 6:28-29, 32)

Bunga tidak pernah harus khawatir.
Mengapa Anda harus khawatir?
Bahkan Salomo dalam jubah kerajaannya, dikelilingi oleh perabot mewah yang bertatahkan emas, tidak seindah bunga sederhana yang tumbuh liar.
Alkitab tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh berpenampilan menarik.
Tapi ini mengatakan bahwa kita tidak boleh terobsesi dengan penampilan luar kita.
Terus terang, beberapa orang berpikir terlalu banyak tentang penampilan mereka.
Memang ada tempat untuk memikirkan penampilan.
Namun kita tidak seharusnya menjadikan itu sebagai hal yang paling utama.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk terlihat cantik atau ganteng.
Tapi jika itu menjadi lebih penting bagi Anda daripada kehidupan rohani Anda, jika Anda menghabiskan seluruh waktu Anda untuk penampilan luar dan benar-benar mengabaikan hal-hal yang di dalam diri Anda, maka kehidupan Anda tidak seimbang.

Suatu hari, tubuh ini akan hilang, tapi jiwa akan hidup selamanya.
Sebagaimana Erma Bombeck pernah menunjukkan, "Cepat atau lambat, debu menang."
Jiwa kita adalah diri kita yang sebenarnya, jiwa kita akan hidup selamanya.
Jadi jika hal yang lebih besar berada dalam kontrol Tuhan, maka kita dapat menyerahkan hal-hal kecil kepada-Nya juga.
__________________________________________

Bacaan Alkitab Setahun :
Hosea 1-5; Ibrani 2:5-18
__________________________________________

Selalu ingat kembali bahwa prioritas kita adalah mengenai apa yang ada di dalam diri kita dan bukan penampilan luar kita.


(Diterjemahkan dari Daily Devotion by Greg Laurie)



Powered by Telkomsel BlackBerry®

DELAPAN KIAT MELIHAT KEGAGALAN

DELAPAN KIAT MELIHAT KEGAGALAN

Bagaimana Anda memandang kegagalan dalam hidup Anda? Pada suatu tengah malam, saya pernah merenungkan berbagai kegagalan yang pernah saya lakukan dan menemukan delapan hal yang penting. Pertama, kegagalan bukan akhir dari segalanya, jika kita mau bangkit dan terus melangkah. Kedua, kegagalan merupakan hal yang sangat wajar dan dialami semua orang. Ketiga, kegagalan membuktikan ada yang keliru dalam upaya kita mencapai tujuan. Dengan demikian, kita harus memperbaiki proses yang salah itu jika ingin melangkah lagi. Keempat, kegagalan menjadi pertanda bahwa kita harus terus belajar. Kelima, kegagalan mengajarkan kita untuk rendah hati. Orang yang tidak menemui kegagalan cenderung merasa di atas angin dan menjadi tinggi hati. Keenam, kegagalan merupakan sarana untuk meningkatkan kehidupan kerohanian. Biasanya, ketika berada dalam masa sulit termasuk saat gagal -- kita langsung teringat kepada yang Mahakuasa. Peristiwa yang tidak menyenangkan itu dapat juga dipandang sebagai undangan untuk kembali dekat kepada-Nya. Ketujuh, kegagalan menjadi pertanda bahwa kita membutuhkan bantuan orang yang tepat dalam perjuangan selanjutnya. Kedelapan, kegagalan dapat berfungsi sebagai ujian terhadap ketangguhan kita.

Diambil dari:
Judul buku: The Leadership Wisdom
Penulis: Paulus Winarto
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Jakarta 2006
Halaman: 181


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

SIFAT-SIFAT PRIBADI DALAM KEPEMIMPINAN

SIFAT-SIFAT PRIBADI DALAM KEPEMIMPINAN

"Kualifikasi utama kepemimpinan yang sukses adalah integritas pribadi."

Semua sifat dalam artikel di bawah ini sangatlah penting untuk meraih keberhasilan. Sifat-sifat ini menonjol karena terbukti menjadi penggerak serta sarana untuk mencapai kesuksesan tertinggi.

Keinginan untuk Berprestasi

Ambisi dikenal dengan banyak nama: motivasi, dorongan, antusiasme, atau harapan untuk meraih prestasi. Apa pun namanya, sifat ini penting karena keinginan adalah dasar seseorang untuk memacu diri sendiri. Jika tidak, orang tersebut akan berpuas diri menjadi pengikut, alih-alih pemimpin.

Ambisi perlu realistis. Beberapa orang menetapkan tujuan-tujuan yang mustahil bagi diri mereka. Karena mereka bekerja terlalu keras, mereka menjadi sangat penat, dan frustrasi. Hal ini bisa menyebabkan depresi neurotik.

Seseorang yang memunyai tujuan dan cita-cita yang jelas mengetahui ke mana arah langkahnya. Dia akan mencapai lebih banyak hal daripada orang-orang yang tidak memunyai tujuan yang jelas. Para pemimpin mendapatkan kepuasan terbesar saat mereka mencapai tujuan-tujuan mereka; mereka selalu mencari dunia-dunia baru untuk ditaklukkan. Mereka biasanya memunyai ego yang kuat. Rasa menghargai dan menghormati diri sendiri perlu dipuaskan lewat pengungkapan dari dirinya sendiri dan kelompoknya. Betapa pentingnya para pemimpin menyerahkan dorongan-dorongan ini kepada Sang Juru Selamat! Para pemimpin tampaknya memunyai satu ciri: pikiran yang menjelajah, gelisah, dan rasa ingin tahu yang disertai dengan ketetapan hati untuk mencapai sesuatu.

Ambisi, jika tidak dibuat-buat, sangatlah penting karena sifat ini mandiri dan menular. Pemimpin sejati digerakkan oleh kekuatan untuk menumbuhkan dan mengembangkan keinginan orang lain di atas tingkat rasional semata. Perasaan ini, tentu saja, harus berawal dari keyakinan atas pentingnya sebuah tujuan. Bagi pemimpin Kristen, ambisi terbesarnya adalah membawa kehormatan dan kemuliaan bagi Kristus. Dorongan dan ambisi-ambisinya dikuasai oleh Roh Kudus.

Kita perlu mengingat bahwa pengaruh kita sangat ditentukan oleh semangat kita. Jika seseorang kurang memunyai rasa antusias, mungkin dia perlu melihat struktur kepribadian serta dasar iman atau pandangannya tentang hidup; orang yang pesimis atau sinis bukanlah orang yang antusias.

Seseorang pernah berkata bahwa antusiasme berfungsi sebagai bahan bakar pesawat yang menggerakkan seseorang, agar dia meluncur untuk mencapai keberhasilan yang luar biasa.

Menerima Otoritas

Keberhasilan dalam kepemimpinan membutuhkan kepekaan yang kuat dalam menggunakan otoritas tepat pada waktunya. Hal ini tercermin dalam kemampuan pemimpin untuk memberikan perubahan dalam kelompok atau perorangan. Ketika seseorang membuat penilaian yang tepat, dia dapat memberikan motivasi atau bertindak tepat pada waktu yang tepat. Kemampuan inilah yang membentuk otoritas seseorang untuk mengelola kelompoknya.

Akan tetapi, pertama-tama kita perlu mengerti otoritas. Definisi yang umum dari otoritas adalah: "Semua milik Anda sekarang, dapat menggerakkan orang lain untuk melakukan apa yang Anda ingin ia lakukan sekarang." Dengan kata lain, setiap pemimpin yang dapat menyelesaikan apa yang dikehendakinya, memunyai otoritas yang dia butuhkan pada saat ini.

Sebuah jurnal yang ditulis oleh William Oncken, Jr, pada bulan Oktober 1970 dan dikeluarkan oleh California Institute of Technology, mengatakan bahwa otoritas terdiri dari empat komponen berikut ini.

1. Otoritas Kompetensi.

Jika seseorang semakin mengenali kompetensi Anda, dia akan semakin percaya bahwa Anda tahu apa yang sedang Anda bicarakan. Dia cenderung mengikuti perintah, permintaan, atau saran Anda.

2. Otoritas Kedudukan.

Otoritas ini memberikan Anda hak untuk mengatakan, "Lakukan! Jika tidak ...." Otoritas ini memiliki kuasa! "Bos menginginkannya!" adalah perintah nyaring yang dapat menyentak orang untuk segera bertindak. Posisi seseorang mengandung otoritas yang membuat kita segan. Hanya "penjudi" yang akan mengabaikannya dengan ceroboh.

3. Otoritas Kepribadian.

Semakin nyaman seseorang berbicara, mendengarkan, atau bekerja dengan Anda, semakin mudah baginya untuk menanggapi keinginan-keinginan Anda. Semakin sulit Anda diajak bekerja sama melakukan pekerjaan, semakin sulit baginya untuk menemukan kepuasan dalam melakukan apa yang Anda inginkan. Sulit sekali mengatakan "tidak" kepada seseorang yang mudah untuk diajak melakukan pekerjaan.

4. Otoritas Karakter.

Otoritas ini merupakan reputasi Anda dalam hal integritas, keterandalan, kejujuran, kesetiaan, ketulusan, moral pribadi, dan etika. Tentu saja Anda akan mendapatkan hasil yang lebih banyak dan lebih baik dari orang yang menghormati karakter Anda daripada dari orang yang tidak. Orang tersebut memperoleh rasa segan (atau kehilangan rasa segan!) dari jejak yang Anda tinggalkan dari janji yang Anda tepati atau tidak, pengharapan yang Anda penuhi atau tidak, dan pernyataan Anda yang terbukti atau tidak. Karakter Anda diukur oleh orang lain berdasarkan seberapa jauh Anda mau membuka diri untuk menjaga kejujuran dan kepercayaan Anda. Tindakan ini membuat mereka tahu seberapa jauh mereka akan membuka diri untuk Anda pada masa krisis. Semakin besar rasa hormat mereka, semakin banyak tindakan mereka, dan semakin besar komponen karakter Anda dalam keseluruhan otoritas Anda [1].

Untuk mendorong bawahan Anda bertindak sesuai dengan keinginan Anda, Anda perlu menunjukkan keempat kualitas tersebut. Seorang pemimpin yang mengeluhkan bahwa dia memunyai tanggung jawab tapi tidak memiliki otoritas, perlu menyadari bahwa dia dapat memperkuat segmen-segmen kehidupannya untuk mendapatkan otoritas lebih. Kompetensi dapat diperoleh, kepribadian dapat dikembangkan, dan tentunya karakter dapat dibina.

Kepemimpinan yang berkualitas hanya dapat ada, jika seseorang mau berkorban untuk mengembangkan dan memperkuat dirinya sendiri. Kemudian otoritasnya akan digunakan dengan tepat. Lalu, semua usaha kelompoknya akan membuahkan hasil yang dinamis.

Disiplin Diri

Kedisiplinan adalah persyaratan untuk kepemimpinan yang berhasil. Untuk mengendalikan orang lain, seorang pemimpin harus memunyai kendali diri yang baik. Kualitas ini penting karena hanya orang yang memunyai disiplin diri yang baik, yang dapat mengukur tingkatan kedisiplinannya. Lewat pengalaman, dia telah mempelajari cara menunjukkan ketegasan, pengorbanan, dan permintaannya.

Banyak orang memunyai karunia alami dan karunia rohani yang khusus, tetapi tidak dikembangkan. Karunia-karunia ini tidak dipakai karena mereka mencemooh otoritas dan menghindari kedisiplinan. Kemudian mereka berhenti di tengah jalan. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang bersedia bekerja saat orang lain tidur, bermain, atau membuang-buang waktu. Dia juga selalu mengevaluasi kemampuannya -- dan kelemahannya!

Kreativitas

Individu-individu yang berpengaruh dalam generasi mereka adalah individu-individu yang memunyai visi dan kreativitas. Inisiatif juga memiliki peranan. Orang yang berpikir kreatif adalah orang yang mampu membuat gagasan yang orisinal. Berpikir kreatif melibatkan imajinasi yang dikelola menurut rencana dari inisiatif diri sendiri. Pemimpin kreatif mengumpulkan ide dari berbagai sumber dan mengintegrasikannya sampai mencapai hasil akhir.

Berpikir kreatif bukanlah melamun, tetapi usaha yang nyata untuk mewujudkan aktivitas mental. Psikolog mengatakan bahwa karya kreatif bisa menjadi sebuah kebiasaan oleh orang yang tekun melatih diri untuk berpikir kreatif.

Banyak perusahaan dan pelayanan Kristen saat ini didorong untuk bertukar pikiran. Hal ini disebut "brainstorming" atau masuk ke "think tank". Pemimpin perlu memprogramkan hal ini ke dalam apa yang mereka lakukan.

Arnold Toynbee, seseorang yang mempelajari alur sejarah, menyimpulkan bahwa kebangkitan dan kejatuhan masyarakat bergantung erat dengan kualitas kepemimpinan. Dia percaya bahwa orang kreatif membantu memajukan peradaban.

Delegasi

Pemimpin yang baik tidak akan menerapkan cara-cara otoriter untuk menyelesaikan pekerjaannya. Lawan dari metode otoriter adalah delegasi: seorang pemimpin yang mengizinkan bawahannya untuk bertanggung jawab atas tugas yang diterimanya. Kepemimpinan yang berkualitas tidak dapat dipertahankan jika seorang manajer merasa bahwa dia harus melakukan semuanya.

Dalam sebuah pamflet "Bagaimana Cara Mendelegasikan Dengan Efektif," yang diterbitkan oleh Darnel Corporation, Clarence B. Randall berkata: "Kemampuan mendelegasikan otoritas dan tanggung jawab dengan sentuhan yang tepat merupakan kualitas yang jarang dimiliki orang. Banyak orang membanggakan diri karena memiliki kemampuan mendelegasikan, tetapi nyatanya dia melakukan pekerjaannya dengan buruk."

"Saya mengenal seseorang yang percaya bahwa kemampuan mendelegasikan adalah salah satu kekuatannya. Akan tetapi, inilah keadaan yang saya dengar dari rekannya. Pada hari Senin, dia memanggil bawahannya, menjelaskan masalahnya, dan memintanya menyelesaikan tugas tersebut sesegera mungkin; pada hari Selasa, dia mendelegasikannya kepada orang lain; pada hari Rabu dia mengerjakan tugas itu sendiri dan tidak memberi tahu yang lainnya apa yang dikerjakannya."

"Saya tahu eksekutif lain yang mampu mendelegasikan dengan baik -- dia tidak pernah melakukan sesuatu sendiri, jika hal itu bisa dihindari -- tetapi tidak pernah bekerja sesuai pola yang terlihat; biasanya orang pertama yang dijumpai saat dia berjalan yang diberikannya tugas."

"Ada satu uji akhir yang bisa menentukan apakah seorang eksekutif cukup objektif dan konsisten dalam mendelegasikan otoritas: jika dia dapat memberikan tugas kepada staf baru dan mendukungnya untuk mengerjakannya dengan cara yang berbeda, maka dia mengerti cara mendelegasikan."

"Seni indah mendelegasi tidaklah semudah menggambar grafik dengan garis vertikal dan horisontal, yang mengikat pekerjaan atau orang-orang secara bersamaan. Delegasi juga bukanlah membuat deskripsi tugas, karena biasanya deskripsi tugas membatasi inisiatif bukan meningkatkannya. Jika kita terlalu menekankan kepada definisi tugas, staf baru biasanya berpikir lebih ke keterbatasan otoritasnya daripada kesempatannya. Dia biasanya menahan ketakutannya berbuat salah, alih-alih mengerjakan tugas itu dengan berani."

"Seorang administrator yang baik tidak hanya mempelajari cara mendelegasikan otoritasnya, tetapi dia juga mencari cara membagikan pemikirannya dengan banyak orang. Akan tetapi, hal ini bukanlah kebiasaan yang mudah bagi beberapa orang."

Catatan kaki:

[1] Circular No. 36. "The Authority to Manage," by William Oncken, Jr. (Dallas: The William Oncken Corp., October 1970).


Diterjemahkan dan diringkas dari:
Judul asli buku: The Making of a Christian Leader
Judul asli artikel: Personal Traits in Leadership
Penulis: Ted W. Engstorm
Penerbit: Zondervan Publishing House, Michigan, 1981
Halaman: 111 -- 115

Powered by Telkomsel BlackBerry®

HATI SEORANG HAMBA

HATI SEORANG HAMBA

 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak

atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia

pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata

kepada hamba itu: Sediakanlah makananku.  Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum.

Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.  Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah

melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu.  Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu

yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang

tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk 17:7-10).

 

Kita

bertanya apa yang menjadi mission (perutusan), setiap orang punya perutusan masing-masing di dalam hidupnya.  Kalau kita memiliki kesadaran akan mission, dan bagaimana mission itu kita lakukan.  Sesungguhnya siapa yang menggerakkan mission apakah kita sebagai faktor atau ada

sesuatu yang lain yang menggerakkan mission itu sendiri.  Mission itu mempunyai kekuatan dan jauh lebih besar dari kekuatan kita

itu sendiri.

 

Jadi siapa

yang sesungguhnya yang menggerakan mission itu, apakah kita sebagai faktor, atau kita sendiri adalah salah satu faktor

dari mission itu.  Itulah barangkali spirit seorang hamba, kami

adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus

lakukan.

 

Mari kita

kembali menyadari tugas perutusan hidup kita sesuai dengan spirit Allah.

 

"Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar,

dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang

orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari

muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar,

dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada

orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk

jiwanya." (Mzm 34:16-19)

 

Tuhan

Yesus memberkati kita semua.  Amin.

 

Nita Garot


Powered by Telkomsel BlackBerry®