Matius 4:4
4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."Apa maksud Tuhan Yesus dengan pernyataan-Nya bahwa manusia hidup bukan saja dari roti, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah? Tentu ini menunjukkan dengan jelas bahwa manusia bukanlah makhluk fisik semata-mata. Manusia juga makhluk rohani, yang membutuhkan konsumsi makanan untuk jiwanya.Kalau makanan jiwanya benar, maka sehatlah jiwanya, tetapi kalau makanan jiwanya salah, maka rusaklah rohaninya. Masalahnya makanan jiwa yang disediakan oleh dunia hari ini sebagian besar justru tidak sehat dan membinasakan. Makanan jiwa yang tidak sehat itu dialirkan melalui berbagai saluran dan media, antara lain budaya dan pergaulan hidup, film, lagu-lagu, Internet dan lain sebagainya. Menyedihkannya, banyak juga yang disajikan dengan bungkusan Kristen. Tidaklah mengherankan jika tidak sedikit orang percaya memiliki pola pemikiran yang salah, karena telah mengonsumsi makanan jiwa yang tidak sehat itu.
Dunia mengatakan apa yang disediakannya baik, dan banyak orang lain juga mengatakan memang makanan jiwa dari dunia itu baik. Ya, memang mungkin itu baik menurut perspektif dunia, namun belum tentu baik menurut perspektif Allah. Inilah sesungguhnya pergumulan hidup yang paling utama yang dihadapi manusia.
Seharusnya manusia memahami apa yang baik dan jahat dari perspektif Allah, tetapi rupanya manusia memilih memahami apa yang baik dan jahat dari perspektif Iblis. Akibatnya manusia memiliki pandangan yang salah dalam segala aspeknya. Sebagai contoh, tatkala manusia memilih cara pandang Iblis, mereka merasa malu dengan ketelanjangan mereka, padahal sebelumnya mereka sudah lama telanjang tanpa malu. Jadi yang membuat malu bukanlah fakta ketelanjangan itu, melainkan pikiran mereka.
Demikian pula dengan kehidupan kita hari ini. Sudahkah kita memandang dunia dan hidup ini melalui cara pandang Tuhan, atau cara pandang anak dunia? Bila kita dikehendaki-Nya agar tidak serupa dengan dunia ini, maksud-Nya agar kita tidak memandang dunia dan hidup sama dengan anak dunia (Rm. 12:2). Untuk itulah kita harus selalu mengalami pembaruan pikiran setiap hari.
Seperti kita memilih apa yang kita makan dan minum agar manusia lahiriah kita sehat, demikian pula
kita perlu memilih apa yang kita baca, dengar, tonton dan percakapkan agar manusia batiniah kita sehat. Pilihlah dengan bijaksana; standarnya adalah Firman Tuhan yang murni.
Tuhan menghendaki kita untuk tidak serupa dengan dunia ini, agar cara pandang kita berbeda dengan anak dunia.Diadaptasi dari
Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Jumat, 16 Desember 2011
Makanan Jiwa
Sabtu, 10 Desember 2011
Tersingkapnya Selubung
Mengapa banyak orang takut membaca atau mempelajari kitab Wahyu?
Mereka mengira kitab ini hanya berbicara tentang hal-hal yang
berkaitan dengan penghakiman dan akhir zaman serta sulit
dimengerti karena banyak menggunakan lambang.
Ketakutan ini sebenarnya tidak beralasan. kitab Wahyu, sesuai dengan
artinya ditulis untuk menyingkapkan atau membukakan kebenaran,
bukan untuk menyembunyikan atau menutupinya. Kitab Wahyu dapat
diumpamakan seperti sebuah lukisan yang tadinya terselubung, lalu
selubung itu disingkapkan sehingga lukisan itu tampak jelas.
Perikop yang kita baca merupakan pendahuluan dari kitab Wahyu. Yohanes
memulai dengan kalimat, "Inilah wahyu Yesus Kristus yang
dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada
hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi."(1:1). Ungkapan
"Inilah wahyu Yesus Kristus" bisa berarti wahyu dengan Yesus
sebagai sumbernya, bisa juga wahyu dengan Yesus Kristus sebagai
berita utamanya. Keduanya mengungkapkan kebenaran yang penting.
Ini adalah wahyu dari Yesus Kristus dan wahyu tentang Dia. 'Dari
Yesus Kristus' menegaskan bahwa apa yang Yohanes tulis merupakan
segala sesuatu yang Tuhan Yesus telah nyatakan kepadanya (2).
Sedangkan 'tentang Dia', berarti wahyu ini menyingkapkan pribadi
Yesus Kristus. Dia telah mati, bangkit, dan naik ke Surga serta
karya-Nya di dalam kehidupan gereja (orang percaya) pada masa
kini. 'Tentang Dia' juga menyingkapkan peristiwa-peristiwa yang
akan terjadi berkaitan dengan kedatangan-Nya yang kedua kali.
Inilah keindahan kitab Wahyu. Kitab ini menyingkapkan isi hati Allah
bagi gereja-Nya. Kepada para pembaca kitab ini Dia berjanji,
"Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan
kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di
dalamnya, sebab waktunya sudah dekat" (3). Janji ini berlaku bagi
setiap orang percaya dari segala abad dan tempat. Juga berlaku
bagi Anda yang membaca dan menuruti apa yang tertulis di dalamnya.
Bersyukurlah kepada-Nya!
Wahyu 1:1-3
1 Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya,
supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus
segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah
menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes.
2 Yohanes telah bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian
yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah
dilihatnya.
3 Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan
kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di
dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Kamis, 08 Desember 2011
Kesadaran Baru
Yohanes 3:1-9
3:1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."3:9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"Oleh karena seseorang tidak akan bisa mengalami perubahan dalam jiwanya secara mendadak, untuk mengalami perubahan, harus ada usaha terus-menerus guna perubahan tersebut. Perubahan jiwa atau pewarnaan jiwa harus terjadi secara bertahap dan berkesinambungan; tidak bisa seketika. Tahapan-tahapan tersebut merupakan proses yang sangat alami, bukan melalui suatu mukjizat.Jangan sampai kita tidak mau mengerti atau tidak mau tahu tentang hal ini, sebab ini berbahaya. Kalau kita puas dengan keberagamaan yang telah kita miliki, padahal kita masih berkedaan jauh dari apa yang diinginkan Tuhan, bisa jadi kita belum mengalami kelahiran baru. Jika kita merasa telah berubah, tetapi perubahannya bukan ke arah yang dikehendaki Allah, kita juga harus mencurigai diri kita sendiri. Jika kita merasa mengalami pembaruan, tetapi di mata Allah sesungguhnya justru pengrusakan, bisa jadi kita membinasakan diri kita sendiri.
"Kamu harus dilahirkan kembali," demikian Yesus berkata kepada Nikodemus (ay. 7). Kalau kita seorang Malaysia yang ingin menjadi warga negara Indonesia, kita harus memenuhi ketentuan hukum Indonesia untuk menjalani naturalisasi. Kalau kita ingin menjadi warga negara Kerajaan Allah, juga ada ketentuan hukum Kerajaan Allah yang harus kita penuhi.
Untuk mengalami kelahiran baru, bukan proses yang instan dan terjadi sekejap mata. Pemikiran bahwa kelahiran baru adalah sesuatu yang ajaib adalah keliru. Ada persyaratannya.
Pemikiran yang salah tentang kelahiran baru yang ajaib dan instan membuat seseorang tidak merasa bertanggung jawab untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Mereka merasa sudah mengalami kelahiran baru karena sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, padahal kelahiran baru adalah keadaan baru dari warna jiwanya; cara berpikir atau memandang hidup ini yang baru. Jadi, kelahiran baru pada dasarnya adalah kesadaran baru. Kalau cara pandang seseorang belum berubah, berarti ia belum mengalami kelahiran baru. Dalam hal ini banyak orang Kristen telah tersesat, tidak mengenali dirinya dengan benar. Mereka merasa sudah lahir baru, padahal belum sama sekali.
Jadi apakah persyaratan untuk mengalami kelahiran baru itu? Persyaratannya adalah mengalami pertumbuhan pengertian akan kebenaran, dan mengalami pertobatan terus-menerus sampai cara kita memandang dunia berubah sama sekali, dan menjadi tidak sama dengan dunia ini (Rm. 12:2).
Kelahiran baru adalah kesadaran baru yang memberikan cara pandang yang baru.
Diadaptasi dari
Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Selasa, 06 Desember 2011
Jalan Yang Benar
Mat 7 : 12 - 14
Di dalam hidup ini setiap kita dihadapkan dengan pilihan, baik atau buruknya hidup kita, masa depan kita, rumah tangga kita, segala kesuksesan yang ingin kita raih, itu semua tergantung pilihan kita.
Sejak awal mula manusia diciptakan Allah memberikan pilihan kepada mereka (Kej 2:16-17). Bangsa Israel yang merupakan umat pilihan harus memilih antara kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan (Ul 30:15-20 ; Yer 21:8). Yosua juga dihadapkan dengan pilihan dan ia dan keluarganya memilih untuk tetap setia beribadah kepada TUHAN!" (Yos 24:15) dan banyak lagi contoh lainnya dalam Alkitab tentang pilihan yang Allah berikan.
Jadi setiap saat kita harus memilih antara jalan luas yang menuju kepada kebinasaan atau jalan sempit yang menuju kepada kehidupan (Mat 7:13-14). Tetapi sayangnya lebih banyak orang yang memilih jalan yang menuju kebinasaan daripada jalan kehidupan.
Mengapa Sedikit Orang Yang Mau Melalui Jalan Benar?
1. Jalan Yang Sukar
- Orang lebih senang jalan yang gampang.
- Harus bertobat melepaskan diri dari yang mengikat & Hidup bukan untuk diri sendiri lagi. Contoh : Orang muda yang kaya (Mat 19:16-26).
- Untuk layak menjadi warga Kerajaan Allah harus tetap beriman, tabah dan kuat dalam segala penganiayaan dan penindasan (2Tes 1:4-5).
2. Jalan Yang Harus Dipikirkan (Luk 14:25-35)
- Menjadi Kristen harus radikal (sungguh-sungguh).
- Menjadi Kristen harus banyak berkorban (Fil 3:8).
- Karena itu harus di pertimbangkan masak-masak tidak asal-asalan, jika tidak berani berkorban dan hidup radikal sia-sia dan percuma saja kita mengikut Kristus.
3. Jalan Yang Penuh Disiplin (Luk 9:57-62)
- Keberhasilan membutuhkan disiplin.
- Mengikut Yesus harus mampu mendisiplin diri.
- Agar tidak terkontaminasi oleh dunia.
- Agar tetap memiliki motivasi sorgawi (Luk 9:57-61).
- Agar tidak menoleh kebelakang (Luk 9:62).
(1Kor 9:27) Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
4. Jalan Penuh Kehancuran Manusia Duniawi
- Kedagingan (duniawi) tidak mendapatkan tempat.
- Harus menyangkal diri dan pikul salib (Mat 16:24-28) .
- Hasilnya Melihat hidup yang kekal.
(Eph 4:22-24) yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
Sumber : www.misikasih.org
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Kejadian 3: 22-24
3:22 Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."
3:23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.
3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Edenditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita harus memilih salah satunya, tidak mungkin memilih dua-duanya. Ini sebetulnya sejajar dengan pilihan yang harus dipilih oleh manusia pertama, yaitu memilih makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat atau buah pohon kehidupan.
Mengapa disebut sebagai pohon kehidupan? Pohon kehidupan adalah pohon yang buahnya membuat seseorang tidak mati (ay. 22). Mati di sini maksudnya adalah terpisah dari hadirat Tuhan selamanya. Jadi pohon kehidupan adalah satu dari dua pohon yang merupakan makanan jiwa yang disediakan oleh Allah di Taman Eden.
Itukah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Tentu pernyataan Tuhan Yesus ini tidak hanya berlaku bagi manusia yang sudah jatuh dalam dosa; yang disebut manusia adalah semua manusia yang pernah hidup, sejak zaman Adam hingga manusia terakhir kelak.
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah menempatkan beberapa kerub untuk mencegah manusia mengambil buah pohon kehidupan, sebab mereka sudah memilih untuk mengisi jiwanya dengan hal-hal yang tidak dikehendaki oleh Allah. Pohon kehidupan ini baru akan tersedia kembali bagi orang-orang yang diperkenankan masuk ke dunia yang akan datang (Why. 22:2).
Karena tidak makan buah pohon kehidupan, maka manusia mengalami kematian. Jiwanya tidak dapat diperbaiki, kecuali dengan menghidupkan kembali roh manusia yang mati akibat dosa. Syukur kepada Allah, sebab Ia menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk tujuan itu. Tetapi Ia tidak hidup hanya untuk mati di kayu salib; Ia juga mengajar. Ia ingin mendidik kita. Mengapa? Sebab manusia memiliki jiwa, yang kualitasnya tergantung dari apa yang ditanamkan di dalamnya.
Jadi bagi orang yang diselamatkan pun tidak mungkin jiwanya bisa menjadi sempurna dalam sekejap; sebab pada dasarnya pikiran, perasaan dan kehendak manusia baru bisa eksis lengkap melalui pertumbuhan. Sangatlah logis kalau manusia pertama juga diasuh oleh Allah dengan mengisi jiwanya dengan hal-hal yang benar sesuai dengan standar kebenaran-Nya. Kalau seorang anak manusia dibesarkan oleh orangutan, maka ia berperilaku seperti orangutan. Kita yang selama ini sudah dibesarkan oleh dunia ingin menjadi seperti Bapa, tentu tidak instan; kita harus merelakan diri melalui proses pembelajaran yang panjang.
Kita harus menyediakan diri mengalami pembelajaran supaya bisa mencapai kesempurnaan yang diinginkan Bapa.
Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Senin, 05 Desember 2011
Rumput Palsu
Yohanes 10:1-5
10:1 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;
10:2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.
10:3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.
10:4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.
10:5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."
Adam dan Hawa di taman Eden masih perlu mengalami peningkatan. Keadaan mereka belum sempurna secara utuh. Kita mengetahui hal ini sebab kalau Adam dan Hawa diciptakan sudah sempurna dan tidak bisa mengalami peningkatan lagi, berarti Allah telah gagal dalam menciptakan manusia, karena mereka jatuh dan memberontak kepada-Nya. Kalau Allah menciptakan manusia yang tidak bisa jatuh, artinya manusia tidak diberi kehendak bebas, sebab tidak diberi pilihan untuk menentukan sendiri. Untuk itu Ia tidak akan memperingatkan manusia untuk tidak makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
Jadi tatkala Tuhan memperingatkan agar manusia jangan makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat tersebut, manusia dipanggil untuk tidak mengisi pikirannya dari sumber yang lain. Manusia harus membangun pikiran moral dari sudut pandang Tuhan. Berarti kita melihat bukti bahwa Allah tidak gagal dalam menciptakan manusia; Ia berhasil membuat makhluk yang berkehendak bebas sehingga bisa menaati-Nya dan mengasihi-Nya dari hati mereka sendiri.
Dengan memahami bahwa manusia pertama ternyata juga harus mengalami proses pertumbuhan secara moral, maka kita sebagai umat pilihan lebih menyadari tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengenakan kodrat ilahi. Tanggung jawab inilah yang sering diabaikan oleh banyak orang Kristen. Mereka menganggap bahwa menjadi anak Tuhan berarti langsung berkat secara otomatis.
Orang mengira dengan mengaku percaya kepada Kristus, mereka mengantongi tiket untuk memasuki rumput yang hijau dan air yang tenang. Banyak orang tidak teliti memperhatikan, bahwa mereka yang menemukan rumput yang hijau adalah domba yang baik. Domba yang tidak baik, yang tidak mengenal suara gembala, adalah domba yang terhilang. Domba yang hilang mencari rumput lain, sebab tidak puas terhadap rumput yang disediakan oleh gembalanya. Rumput yang disediakan oleh Gembala yang baik dianggap kalah hijau daripada rumput lain yang disediakan oleh gembala yang jahat, sama seperti Hawa yang tergoda untuk memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej. 3:6). Padahal rumput yang lain itu adalah rumput palsu, berwarna hijau tetapi terbuat dari plastik.
Jangan kita mencoba mencari rumput palsu. Kita harus berprinsip bahwa rumput yang benar adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Itulah satu-satunya kebahagiaan kita. Agar bisa membedakan rumput yang asli dan rumput yang palsu, kita harus terus belajar kebenaran Tuhan.
Kita bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mengenakan kodrat ilahi.
Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Jangan takut terhadap pengajar sesat
Anak Tuhan sejati memiliki Roh Kudus di dalam dirinya yang akan
memampukannya mengenali roh jahat atau roh sesat di dalam para
pengajar sesat. Namun Roh Kudus akan berfungsi maksimal kalau kita
sendiri bertekun dalam firman Tuhan karena pada hakikat-Nya tugas
Roh Kudus adalah mengajarkan dan mengingatkan apa yang Tuhan Yesus
sudah ajarkan di dalam firman-Nya.
Petrus sadar, di kalangan jemaat yang ia gembalakan, sudah ada
pengajar-pengajar sesat yang mencoba membodohi anak-anak Tuhan
dengan dongeng-dongeng isapan jempol manusia. Orang Kristen yang
membaca Alkitabnya akan dapat membedakan ajaran sejati dari ajaran
ngawur yang tidak alkitabiah. Ada beberapa kriteria disebutkan
Petrus untuk mengenali ajaran sesat mereka. Pertama, ajaran mereka
menyangkal prinsip kebenaran yang diajarkan Alkitab. Mereka
memutarbalikkan kebenaran (1). kedua, inti pengajaran mereka
sebenarnya mau merangsang hawa nafsu jemaat. Ajaran mereka
menggoda orang untuk tidak melihat Allah, tetapi menikmati dosa.
Ketiga, motivasi mereka yang hanya mencari keuntungan diri sendiri
akan kelihatan (3)
Petrus menasihati jemaat untuk tidak takut terhadap pengajar sesat
maupun ajarannya karena mereka pasti dihukum Tuhan dengan keras.
Petrus memaparkan fakta bahwa dari zaman ke zaman selalu ada
penyesat, dan penyesat itu akhirnya dibinasakan Tuhan (4-8). Tuhan
tahu menyelamatkan umat-Nya dari penyesatan, Tuhan juga tahu
membinasakan para penyesat (9-10). Tuhan berdaulat menentukan
kapan waktunya!
Kita memang harus waspada terhadap ajaran-ajaran di luar gereja,
tetapi juga yang menelusup masuk ke dalam gereja. Caranya adalah
dengan disiplin rohani membaca-gali Alkitab setiap hari, ikut
pembinaan iman yang diselenggarakan gereja kita, dan tentu
mempraktikkan kebenaran itu dalam hidup kita. Jangan takut
terhadap ajaran sesat maupun pengajarnya. Tuhan pada waktu-Nya
akan menghakimi guru palsu dan menghancurkan ajarannya.
Powered by Telkomsel BlackBerry®