Sabtu, 03 Desember 2011

SETENGAH KETAATAN

SETENGAH KETAATAN

Apa akibatnya jika kita tidak melakukan perintah Tuhan dengan
segenap hati? Tentu, apa yang kita lakukan menjadi tidak berkenan di
hadapan-Nya. Suatu ketika, Saul menerima perintah Tuhan untuk
menyerang Amalek dan membinasakan mereka tanpa terkecuali. Saul pun
membunuh semua orang Amalek. Hanya, ia menyisakan satu orang, yaitu
raja Agag (ayat 8). Pula, ia membiarkan rakyat "menyelamatkan"
kambing domba serta lembu yang terbaik dengan alasan hendak
dipersembahkan kepada Tuhan. Apa akibat dari ketaatan Saul yang
setengah-setengah ini? Tuhan menolak Saul menjadi raja dan
memberikan jabatan itu kepada orang lain. Tidak adilkah Tuhan?
Bukankah satu orang saja yang dibiarkan hidup? Apakah artinya satu
orang dibandingkan ribuan orang Amalek yang sudah dibunuh Saul?
Apakah artinya sebuah "dosa kecil" dibandingkan hal spektakuler yang
sudah Saul lakukan untuk membinasakan bangsa Amalek?

Justru di sinilah masalahnya! Ketaatan yang setengah-setengah takkan
pernah berkenan di hadapan Tuhan-sebab itu sama dengan
ketidaktaatan. Jangan berpikir Tuhan terpesona pada keperkasaan Saul
yang telah membinasakan ribuan orang Amalek. Tuhan tidak kenal
istilah kompromi. Tuhan menginginkan ketaatan yang total.

Apakah Tuhan berkenan dengan persembahan kita yang sangat banyak,
pelayanan kita yang spektakuler dan penuh mukjizat, sementara kita
masih menyimpan dosa di hati? Keliru besar kalau kita berpikir bahwa
Tuhan akan mengangguk-angguk senang atas jerih lelah kita dalam
pelayanan. Taatlah secara total dan tinggalkan dosa sekarang juga
--PK

MENAATI TUHAN DENGAN SETENGAH HATI SAMA ARTINYA DENGAN TIDAK MENAATI

Ayat Alkitab: 1 Samuel 15:1-28

1 Berkatalah Samuel kepada Saul: "Aku telah diutus oleh TUHAN
untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh
sebab itu, dengarkanlah bunyi firman TUHAN.
2 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang
dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek
menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.
3 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah
segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan
kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan,
kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba,
unta maupun keledai."
4 Lalu Saul memanggil rakyat berkumpul dan memeriksa barisan
mereka di Telaim: ada dua ratus ribu orang pasukan berjalan kaki
dan sepuluh ribu orang Yehuda.
5 Setelah Saul sampai ke kota orang Amalek, disuruhnyalah
orang-orang menghadang di lembah.
6 Berkatalah Saul kepada orang Keni: "Berangkatlah, menjauhlah,
pergilah dari tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan
kulenyapkan kamu bersama-sama dengan mereka. Bukankah kamu telah
menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang Israel, ketika
mereka pergi dari Mesir?" Sesudah itu menjauhlah orang Keni dari
tengah-tengah orang Amalek.
7 Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke
Syur, yang di sebelah timur Mesir.
8 Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi
segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang.
9 Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba
dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan
segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu.
Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah
yang ditumpas mereka.
10 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian:
11 "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia
telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku."
Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN
semalam-malaman.
12 Lalu Samuel bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Saul, tetapi
diberitahukan kepada Samuel, demikian: "Saul telah ke Karmel
tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan;
kemudian ia balik dan mengambil jurusan ke Gilgal."
13 Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya:
"Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan
firman TUHAN."
14 Tetapi kata Samuel: "Kalau begitu apakah bunyi kambing domba,
yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar
itu?"
15 Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab
rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik
dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN,
Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas."
16 Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: "Sudahlah! Aku akan
memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan TUHAN kepadaku tadi
malam." Kata Saul kepadanya: "Katakanlah."
17 Sesudah itu berkatalah Samuel: "Bukankah engkau, walaupun engkau
kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas
suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau
menjadi raja atas Israel?
18 TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah,
tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek,
berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.
19 Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau
mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?"
20 Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara
TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan
aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu
sendiri telah kutumpas.
21 Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan
lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas
itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di
Gilgal."
22 Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban
bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan
suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada
korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak
domba-domba jantan.
23 Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan
kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim.
Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak
engkau sebagai raja."
24 Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah
kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada
rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.
25 Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama
dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN."
26 Tetapi jawab Samuel kepada Saul: "Aku tidak akan kembali
bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman
TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas
Israel."
27 Ketika Samuel berpaling hendak pergi, maka Saul memegang punca
jubah Samuel, tetapi terkoyak.
28 Kemudian berkatalah Samuel kepadanya: "TUHAN telah mengoyakkan
dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah
memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu.

Apa akibatnya jika kita tidak melakukan perintah Tuhan dengan
segenap hati? Tentu, apa yang kita lakukan menjadi tidak berkenan di
hadapan-Nya. Suatu ketika, Saul menerima perintah Tuhan untuk
menyerang Amalek dan membinasakan mereka tanpa terkecuali. Saul pun
membunuh semua orang Amalek. Hanya, ia menyisakan satu orang, yaitu
raja Agag (ayat 8). Pula, ia membiarkan rakyat "menyelamatkan"
kambing domba serta lembu yang terbaik dengan alasan hendak
dipersembahkan kepada Tuhan. Apa akibat dari ketaatan Saul yang
setengah-setengah ini? Tuhan menolak Saul menjadi raja dan
memberikan jabatan itu kepada orang lain. Tidak adilkah Tuhan?
Bukankah satu orang saja yang dibiarkan hidup? Apakah artinya satu
orang dibandingkan ribuan orang Amalek yang sudah dibunuh Saul?
Apakah artinya sebuah "dosa kecil" dibandingkan hal spektakuler yang
sudah Saul lakukan untuk membinasakan bangsa Amalek?

Justru di sinilah masalahnya! Ketaatan yang setengah-setengah takkan
pernah berkenan di hadapan Tuhan-sebab itu sama dengan
ketidaktaatan. Jangan berpikir Tuhan terpesona pada keperkasaan Saul
yang telah membinasakan ribuan orang Amalek. Tuhan tidak kenal
istilah kompromi. Tuhan menginginkan ketaatan yang total.

Apakah Tuhan berkenan dengan persembahan kita yang sangat banyak,
pelayanan kita yang spektakuler dan penuh mukjizat, sementara kita
masih menyimpan dosa di hati? Keliru besar kalau kita berpikir bahwa
Tuhan akan mengangguk-angguk senang atas jerih lelah kita dalam
pelayanan. Taatlah secara total dan tinggalkan dosa sekarang juga.

MENAATI TUHAN DENGAN SETENGAH HATI SAMA ARTINYA DENGAN TIDAK MENAATI

Ayat Alkitab: 1 Samuel 15:1-28

1 Berkatalah Samuel kepada Saul: "Aku telah diutus oleh TUHAN
untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh
sebab itu, dengarkanlah bunyi firman TUHAN.
2 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang
dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek
menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.
3 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah
segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan
kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan,
kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba,
unta maupun keledai."
4 Lalu Saul memanggil rakyat berkumpul dan memeriksa barisan
mereka di Telaim: ada dua ratus ribu orang pasukan berjalan kaki
dan sepuluh ribu orang Yehuda.
5 Setelah Saul sampai ke kota orang Amalek, disuruhnyalah
orang-orang menghadang di lembah.
6 Berkatalah Saul kepada orang Keni: "Berangkatlah, menjauhlah,
pergilah dari tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan
kulenyapkan kamu bersama-sama dengan mereka. Bukankah kamu telah
menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang Israel, ketika
mereka pergi dari Mesir?" Sesudah itu menjauhlah orang Keni dari
tengah-tengah orang Amalek.
7 Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke
Syur, yang di sebelah timur Mesir.
8 Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi
segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang.
9 Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba
dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan
segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu.
Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah
yang ditumpas mereka.
10 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian:
11 "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia
telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku."
Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN
semalam-malaman.
12 Lalu Samuel bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Saul, tetapi
diberitahukan kepada Samuel, demikian: "Saul telah ke Karmel
tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan;
kemudian ia balik dan mengambil jurusan ke Gilgal."
13 Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya:
"Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan
firman TUHAN."
14 Tetapi kata Samuel: "Kalau begitu apakah bunyi kambing domba,
yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar
itu?"
15 Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab
rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik
dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN,
Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas."
16 Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: "Sudahlah! Aku akan
memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan TUHAN kepadaku tadi
malam." Kata Saul kepadanya: "Katakanlah."
17 Sesudah itu berkatalah Samuel: "Bukankah engkau, walaupun engkau
kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas
suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau
menjadi raja atas Israel?
18 TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah,
tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek,
berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.
19 Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau
mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?"
20 Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara
TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan
aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu
sendiri telah kutumpas.
21 Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan
lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas
itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di
Gilgal."
22 Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban
bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan
suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada
korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak
domba-domba jantan.
23 Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan
kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim.
Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak
engkau sebagai raja."
24 Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah
kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada
rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.
25 Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama
dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN."
26 Tetapi jawab Samuel kepada Saul: "Aku tidak akan kembali
bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman
TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas
Israel."
27 Ketika Samuel berpaling hendak pergi, maka Saul memegang punca
jubah Samuel, tetapi terkoyak.
28 Kemudian berkatalah Samuel kepadanya: "TUHAN telah mengoyakkan
dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah
memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak Bisa Memaksa

Tidak Bisa Memaksa

Kejadian 4:6-7
4:6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?4:7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."Selama ini banyak orang Kristen berpendirian bahwa orang-orang yang tidak menjadi umat pilihan Allah—baik orang Yahudi, umat pilihan Allah secara jasmani, dan orang Kristen, umat pilihan Allah secara rohani—tidak bisa berbuat baik. Semua orang yang jatuh ke dalam dosa tidak bisa berbuat baik sama sekali. Pandangan ini sangat naif dan picik, sebab kenyataannya Ayub yang bukan orang Yahudi dan bukan orang Kristen pun memiliki kesalehan yang lebih dari orang lain pada zamannya. Dapatkah kita membantah pernyataan Alkitab bahwa Ayub seorang yang saleh dan jujur? Orang saleh seperti Ayub sebagai kekasih Tuhan mustahil tidak masuk dunia yang akan datang. Dunia yang akan datang adalah milik Tuhan yang diperuntukkan bagi semua orang yang tertulis dalam kitab kehidupan.Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, apakah Iblis memaksa mereka untuk berbuat jahat? Perhatikan kisah Kain, anak Adam. Manakala Kain berniat menjahati adiknya, Tuhan tidak tinggal diam. Dengan kesabaran, Ia berkata kepada Kain, "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."
Dari sabda Tuhan ini jelaslah bahwa sekalipun sudah jatuh ke dalam dosa, Kain sebenarnya masih bisa menghindarkan dirinya dari kesalahan fatal, yaitu tindakan pembunuhan. Kain masih bisa berkuasa atas dosa dan memilih untuk melakukan apa yang baik. Namun Kain menolak untuk mendengarkan Tuhan, dan akhirnya membunuh adiknya.
Perbuatan Kain tersebut bukan hasil paksaan Iblis. Sebagaimana Tuhan tidak bisa memaksa Kain untuk berbuat baik, Iblis juga tidak bisa memaksa orang untuk berbuat jahat.
Semua perbuatan, baik maupun buruk, merupakan tanggung jawab manusia itu sendiri.
Taurat yang tertulis dalam hati manusia (Rm. 2:12–15) seharusnya menyanggupkan seseorang berbuat yang baik menurut ukuran manusia Perjanjian Lama. Itulah sebabnya di akhir zaman nanti ada penghakiman berdasarkan perbuatan (Why. 20:12). Ini berbeda dengan orang percaya, yang menghadap takhta pengadilan untuk menerima apa yang pantas diterimanya (2Kor. 5:10) berdasarkan standar pengikut Kristus, yaitu kesempurnaan seperti Bapa (Mat. 5:48). Ini berarti setiap orang menetapkan nasibnya sendiri dari tindakan dan pilihannya.
Baik Tuhan maupun Iblis tidak memaksa manusia; setiap manusia bertanggung jawab atas tindakan dan pilihannya sendiri.Diadaptasi dari
Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Hanya Karena Percaya

Hanya Karena Percaya

2 Korintus 5:7Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.Saat menikah, tanpa disadari sebenarnya Anda telah mempercayakan hidup Anda pada pasangan hidup Anda. Artinya bagaimana hidup Anda kelak sangat bergantung pasangan seperti apa yang Anda percayai. Saya pernah melihat seorang wanita hancur hidupnya karena menikah dengan pria yang salah. Sang suami berselingkuh dan hendak menceraikannya dengan alasan sudah tidak cinta lagi. Padahal usia pernikahan mereka masih sangat muda. Celakanya mereka adalah orang yang mengerti firman Tuhan. Sungguh ironis bukan?Hidup orang percaya adalah hidup karena percaya pada Yesus Kristus. Allah yang berkuasa atas hidup manusia. Di tangan-Nya ada kuasa untuk merendahkan dan meninggikan, menghancurkan dan memulihkan, mematikan dan menghidupkan, mengutuk dan memberkati. Tetapi yang lebih penting, Dia berkuasa menyelamatkan orang berdosa dan memberi kehidupan kekal. Rasul Paulus mengingatkan kehidupan anak-anak Allah adalah hidup karena percaya dan bukan karena melihat. Artinya meskipun Anda melihat hal-hal yang mustahil, percayalah bahwa Allah sanggup melakukannya untuk Anda. Beranilah untuk mempercayakan kehidupan Anda kepada pribadi yang tepat, Yesus Kristus, dan bukan pada manusia. Manusia setiap saat bisa mengecewakan Anda, tapi Allah tidak akan pernah mengecewakan Anda. Rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11).Tuhan tidak pernah mengecewakan Anda, percayalah!
Powered by Telkomsel BlackBerry®

HOPE

 HOPE
1 Raja-raja 17: 7-16

 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar... Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Yesaya 9:1, 5).

 

      Janda ini tahu, hidupnya dan hidup anaknya akan segera berakhir. Betapa tidak? Ia hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak yang tinggal sekali masak. Kekeringan telah melanda daerahnya, Sarfat. Ia memaksakan diri untuk mengumpulkan dua tiga potong kayu api untuk mengolah tepung dan minyak itu (1 Raja-raja 17:12). Dengan getir dia bergumam: "Ini akan menjadi hidangan terakhir bagiku dan anakku." Ternyata dia salah! Dalam ayat-ayat selanjutnya kita ketahui Tuhan menolongnya melalui Nabi Elia.

      Bayangkan situasi janda di Sarfat itu, di mana ia tahu hidupnya akan segera berakhir. Tak ada harapan, ia merasa tak ada jalan keluar. Betapa menyesakkan hidupnya. Wajar jika ia merasa getir dan putus asa.

      Ada banyak di antara kita yang mengalami situasi seperti janda itu. Tak ada lagi harapan. Kondisi finansial yang

morat-marit, dikhianati pasangan hidup, ditelikung teman sendiri, menderita sakit yang tak tersembuhkan, menghadapi kenakalan anak, bisnis mendekati kebrangkutan, situasi kerja yang tidak kondusif, dan masalah-masalah lain yang membuat kita terpuruk dalam keputusasaan. Sungguh asa telah sirna.

     Meminjam istilah Dr. Fred Luskin, pemimpin Proyek Pengampunan Stanford di Stanford University, yang menamakan sebagian dari pekerjaannya dalam proyek itu

HOPE (Healing Our Past Experiences), sesungguhnya masih ada

Hope bagi kita

. Tetapi, benarkah masih ada harapan?

     Inilah kabar baik bagi kita yang sedang terpuruk pada masa Natal ini:

"Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.... Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai" (Yesaya 9:1, 5).

      Sesungguhnya Natal selalu menyemai harapan bagi yang putus asa, membawa damai sejahtera, memulihkan luka hati, menjadi penawar dahaga, menyalakan cahaya yang nyaris atau malah telah padam, membagikan tawa bahagia, menenteramkan jiwa yang gundah gulana, melantunkan pujian syukur.

     Jalan hidup kita mungkin bukan jalan yang mudah, tetapi Tuhan mengizinkan kita melaluinya pasti untuk kebaikan kita. Daripada mengeluh kepada-Nya "mengapa Kau beri aku jalan yang sukar, ya Tuhan," lebih baik kita melaluinya bersama-Nya. Jangan pernah berhenti berharap, sebab di dalam Tuhan selalu ada harapan. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang (Amsal 23:18). —Liana Poedjihastuti

 

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab daripada-Nyalah harapanku.

—Mazmur 62:6



Powered by Telkomsel BlackBerry®

BERNYANYILAH!

BERNYANYILAH!

Bernyanyi itu baik untuk kesehatan. Bernyanyi melatih jantung dan
paru-paru, serta melepaskan endorfin yang membuat kita merasa
senang. Bernyanyi juga meningkatkan kapasitas paru-paru, memperbaiki
postur tubuh, dan membersihkan saluran pernapasan dan sinus. Apabila
Anda bernyanyi dengan benar, hal itu dapat menjaga kesehatan perut
dan otot-otot punggung. Menurut sebuah penelitian, bernyanyi juga
dapat meningkatkan jumlah protein dalam sistem kekebalan tubuh.

Pemazmur tentu sepakat dengan hal itu. Bahkan lebih dari itu, bukan
hanya bermanfaat bagi kesehatan tubuh, ia menggarisbawahi bahwa
bernyanyi juga baik bagi kehidupan rohani kita. Dalam bahasa
aslinya, pemazmur menggambarkan bernyanyi sebagai baik,
menyenangkan, dan indah. Baik karena merupakan salah satu bentuk
pujian kepada Tuhan, suatu ibadah. Tuhan sendirilah tujuan dan pusat
seluruh pujian kita (ayat 1, 7). Menyenangkan karena mendatangkan
sukacita; memuji dan mengagungkan Tuhan akan mendatangkan kesenangan
surgawi bagi orang kudus. Indah atau layak karena sudah selayaknya
kita menghormati Sang Pencipta. Sebagai umat yang diciptakan menurut
rupa dan gambar-Nya, ketika kita menghormati Tuhan, sesungguhnya
kita juga sedang menghargai dan mensyukuri kehidupan yang
dikaruniakan-Nya.

Nyanyian pujian tak ayal selalu hadir dalam ibadah bersama umat
Tuhan. Namun, apakah kita secara pribadi juga mengembangkan
kebiasaan untuk menyanyikan pujian bagi Dia? Bagaimana kalau mulai
hari ini kita berkomitmen untuk menyanyikan paling tidak satu lagu
pujian setiap hari?

SUDAHKAH KITA MENAIKKAN BAGI TUHAN PUJIAN YANG LAYAK DIA TERIMA?

Mazmur 147:1-11

1 Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan
indah, dan layaklah memuji-muji itu.
2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel
yang tercerai-berai;
3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut
luka-luka mereka;
4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama
semuanya.
5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya
tak terhingga.
6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi
merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.
7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah
bagi Allah kita dengan kecapi!
8 Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan
hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput.
9 Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung
gagak, yang memanggil-manggil.
10 Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki
laki-laki;
11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada
orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Bergumul Dengan Kefanaan

Bergumul dengan kefanaan

Pernah frustasi terhadap diri sendiri? Mungkin karena karakter
tertentu yang kita ingin buang, tetapi sepertinya sulit untuk kita
singkirkan. Mungkin dosa tertentu yang menjerat kita. Kita sadar
hidup kita tidak kudus, namun kita tak berdaya, bahkan doa-doa
kita sepertinya tidak memberi dampak perubahan dalam kerohanian
kita.

Pemazmur sadar akan hidupnya yang fana. Di satu sisi, ia hidup di
tengah-tengah orang fasik. Ia sadar ia tidak sama dengan mereka
dan tidak boleh menjadi sama dengan mereka. Akan tetapi ia sadar
kedagingannya bergejolak. Maka ia memilih berdiam diri (2-3),
tidak mau membalas ajakan orang fasik untuk ikut-ikutan berdosa.
Atau juga terhadap ejekan dari orang fasik yang menertawakan
upayanya untuk hidup kudus. Di pihak lain, ia berhadapan dengan
Allah yang maha kudus yang tidak dapat membiarkan umat-Nya hidup
dalam dosa. Ia sadar kalau Allah bertindak menguduskan umat-Nya
berarti akan ada hajaran, disiplin yang keras! Sungguh ia merasa
tidak sanggup untuk menghadapi-Nya (11-12).

Pergumulan pemazmur di sini senada dengan yang digumuli Paulus di Roma
7:13-24. Tubuh sudah menjadi milik Kristus, tetapi masih
dipengaruhi oleh kedagingan. Suatu paradoks yang menyakitkan!
Rasanya munafik. Di hadapan manusia bisa menyembunyikan diri
dengan topeng-topeng. Di hadapan Allah, semua telanjang, terbuka
apa adanya. Seruan puncak Paulus adalah "Aku manusia celaka!
Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?" (Rm.
7:24).

Iman pemazmur ditujukan kepada Tuhan. Ia belajar berserah kepada
Tuhan. Pemazmur bagaikan pendatang atau penumpang yang hanya
berharap keramahtamahan dan belas kasih dari tuan rumah, demikian
pemazmur di hadapan Allah (13). Bersama Paulus kita bisa berseru,
"Syukur kepada Allah, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." (Rm. 7:25).
Dialah yang akan membebaskan kita dari tubuh maut ini.


Mazmur 39

1 Untuk pemimpin biduan. Untuk Yedutun. Mazmur Daud. (39-2) Pikirku:
"Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan
lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang
fasik masih ada di depanku."
2 (39-3) Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang
baik; tetapi penderitaanku makin berat.
3 (39-4) Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika
aku berkeluh kesah; aku berbicara dengan lidahku:
4 (39-5) "Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas
umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
5 (39-6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku;
bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia
hanyalah kesia-siaan! Sela
6 (39-7) Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan
yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya
nanti.
7 (39-8) Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan?
Kepada-Mulah aku berharap.
8 (39-9) Lepaskanlah aku dari segala pelanggaranku, jangan jadikan
aku celaan orang bebal!
9 (39-10) Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah
yang bertindak.
10 (39-11) Hindarkanlah aku dari pada pukulan-Mu, aku remuk karena
serangan tangan-Mu.
11 (39-12) Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena
kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat;
sesungguhnya, setiap manusia adalah kesia-siaan belaka. Sela
12 (39-13) Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada
teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku!
Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek
moyangku.
13 (39-14) Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku
bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!"

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 02 Desember 2011

Tuntutan Yang Lebih Tunggu

Tuntutan Yang Lebih Tinggi

Matius 5:48

5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Sebelumnya kita telah melihat bahwa orang-orang non-Kristen juga dapat menjadi orang-orang yang mengalami pembentukan karakter dan perubahan diri untuk menjadi cemerlang (Ayb. 23:10). Itu terjadi bagi mereka yang tidak menerima keselamatan dalam Yesus Kristus.

Kalau mereka yang tidak mengenal Kristus dapat memenuhi Taurat, baik yang tertulis sebagai kitab maupun dalam loh hati, dan bisa menjadi baik, terlebih lagi kita. Di dunia yang akan datang, mereka mungkin diperkenankan menjadi anggota masyarakatnya; tetapi kita diperkenankan menjadi anggota kerajaan. Itulah sebabnya standar bagi kita bukanlah sekadar baik, melainkan sempurna.

Untuk ini setiap kita harus menganggap bahwa panggilan untuk menjadi sempurna ini adalah hal yang wajar. Kalau tuntutan ini kita pandang wajar, maka kita akan lebih bersemangat untuk mencapainya. Kita dihindarkan dari mental block, berupa perasaan bahwa kita tidak bisa mencapainya, padahal belum mencobanya. Itu namanya kalah sebelum berperang.

Penjelasan pada hari-hari sebelumnya hanya ingin membandingkan kehidupan orang Kristen yang sejati dengan mereka yang hidup di luar Injil. Kalau mereka bisa mencapai kesalehan hidup sedemikian tingginya, maka kita harus memiliki kualitas hidup yang jauh lebih tinggi dari kualitas hidup mereka.

Sebagai calon pejabat di Kerajaan Allah, kita dituntut untuk memiliki iman yang sempurna, berbeda dengan mereka yang tidak mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita dituntut untuk memiliki kasih yang sempurna, yaitu yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7) sebab Allah kasih adanya (1Yoh. 4:8).

Dengan hal ini tampaklah betapa tinggi tuntutan yang dikenakan kepada semua orang percaya. Tidak mudah bagi seseorang untuk menjadi orang Kristen yang sejati, sebab mereka harus sempurna seperti Bapa di Surga. Memang bagi orang Kristen yang sejati, yang mau melalui proses sekolah kehidupan untuk mencapai kesempurnaan ini, tidak ada lagi penghukuman (Rm. 8:1). Tetapi kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita di takhta pengadilan Kristus untuk memperoleh apa yang patut kita terima. Hendaklah dengan renungan ini kita semakin terpacu untuk menjadi orang Kristen yang sejati, dengan lebih serius mengikut Dia.

Sebagai orang percaya, kita dituntut untuk lebih daripada sekadar baik;kita dituntut untuk sempurna.

Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Powered by Telkomsel BlackBerry®