Jumat, 02 Desember 2011

Pergilah ke seluruh dunia...

 "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk

 (Rm 10:8-17; Mat 28:16-20)

"Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil

kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan,

tetpeapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai

orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka

akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang

ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka;

mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan

sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka,

terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun

pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan

meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya" (Mrk

16:15-20) demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi

atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St Fransiskus Xaverius, imam

dan pelindung Misi, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai

berikut:

·   "SJ" = Setan Jalanan, alias orang

yang suka pergi, demikian kata plesetan yang sering dikenakan pada

Sahabat-sahabat Yesus atau anggota Serikat Yesus, para pengikut St.Ignatius

Loyola. Fransiskus Xaverius adalah pengikut Ignatius Loyola atau termasuk

anggota Serikat Yesus yang pertama, yang sering disebut sebagai 'primi patres'.

Terpanggil menjadi sahabat Yesus memang akhirnya harus meneladan cara hidup dan

cara bertindak Yesus, antara lain senantiasa berkeliling dari desa/kota ke

desa/kota untuk mewartakan Kabar Baik atau Kerajaan Allah. Maka dalam rangka

mengenangkan pesta St.Fransiskus Xaverius, Pelindung Misi, kami mengajak

segenap umat yang percaya kepada Yesus Kristus untuk setia menjadi

sahabat-sahabatNya juga, "pergi ke

seluruh dunia dan mewartakan Kabar Baik kepada segala makhluk". Dengan kata

lain marilah kita mawas diri apakah di lingkungan hidup kita masing-masing

dalam umat basis kita sungguh menjadi pewarta-pewarta kabar baik, senantiasa

berbuat baik kepada orang lain dan yang terdengar atau tersiar dari diri kita

juga apa-apa yang baik karena kita senantiasa berbuat baik. Percayalah bahwa "Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu

dengan tanda-tanda yang menyertainya", antara lain setan-setan atau aneka

kejahatan minggir atau mundur, yang sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit

akal budi atau sakit tubuh akan menjadi sembuh, dan kita sendiri tahan dan

tabah terhadap aneka macam serangan virus penyakit. Kita dipanggil untuk

mempersembahkan dunia seisinya kepada Tuhan, yang telah menciptakannya dengan

penuh kasih dan kemurahan hati, yang berarti menyelamatkan bagian-bagian dunia

yang tidak selamat, mengatur yang tidak teratur dst..

·   "Bagaimana

mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?

Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang

Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang

memberitakan-Nya"

(Rm 10:14), demikian pertanyaan reflektif Paulus kepada umat di Roma, kepada

kita semua umat beriman. Iman memang terutama muncul dan lahir melalui

pendengaran, apa-apa yang didengarkan. Kita semua dipanggil untuk memberitakan

apa-apa yang dijiwai oleh iman, entah kata-kata, tindakan, ceritera, pengalaman

dst.. Maka marilah kita senantiasa hidup dan bertindak dijiwai oleh iman kita,

sehingga yang teerberitakan atau terwartakan dari kita apa-apa yang dijiwai

iman, dan dengan demikian siapapun yang mendengarkan cara hidup dan cara

bertindak kita, apalagi melihatnya, semakin beriman, semakin membaktikan diri

seutuhnya kepada Tuhan. Untuk itu kami berharap agar segala usaha atau upaya

pendidikan, entah pendidikan informal maupun pendidikan formal, diselenggarakan

dalam dan oleh iman atau lebih mengedepankan atau mengutamakan agar anak-anak

atau para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi

pekerti luhur atau bermoral atau cerdas spiritual. Suasana proses pendidikan

hendaknya hendaknya dijiwai oleh kebebasan dan cintakasih Injili. Ingatlah dan

sadari bahwa masing-masing dari kita diciptakan dalam kebebasan dan cintakasih,

serta dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini juga hanya

dengan kebebasan dan cintakasih. Cintakasih itu bebas alias tak dapat dibatasi

atau dipagari oleh apapun  dan kebebasan

dibatasi oleh cintakasih. Cintakasih antara lain berarti tidak pernah

melecehkan atau menginjak-injak harkat martabat manusia, sebagai ciptaan Allah

terluhur dan termulia di dunia ini,yang diciptakan sebagai citra atau gambar

Allah. Mendidik berarti berpartisipasi dalam karya penciptaan, yang bersifat

menghidupkan, mengembangkan dan menumbuhkan.

"Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku

bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk

selama-lamanya. Haleluya!" (Mzm 117)


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Proses Kreatif Menulis Renungan

PROSES KREATIF MENULIS RENUNGAN HARIAN

Dalam pengantar untuk buku "Menjadi Penulis", Andar Ismail menegaskan pentingnya isi tulisan. Ia mengatakan, "Menulis bukanlah sekadar merangkaikan kata, melainkan menuliskan hikmat yang mencerahkan dan menumbuhkan pembaca. Sepandai-pandainya kita menuangkan, yang lebih menentukan adalah apa yang dituangkan. Apa gunanya menuang sebuah botol, bila isinya adalah air keruh? Atau apa yang mau dituang dari sebuah botol, bila botol itu masih kosong."

Pengakuan pemazmur menunjukkan proses serupa. Mazmur-mazmurnya tertuang dari perkara-perkara yang memenuhi hatinya. Frasa "kata-kata indah" (Mazmur 45:2), menurut konkordansi Strong, mengacu pada perkara-perkara yang baik, mulia, luhur, dan benar. Ketika hal Itu meluap-luap memenuhi hatinya, ia pun tergerak untuk menggubah sajak. Ia menulis tentang sosok yang sungguh-sungguh luhur dan mulia: Nubuatan tentang Raja yang akan datang, Tuhan Yesus Kristus, dan jemaat-Nya yang berkemenangan.

Dalam artikel "Gereja yang Membaca dan Menulis", Andar Ismail menyoroti pentingnya ketepatan dalam menulis khotbah. Ia menulis, "Berkhotbah adalah memberitakan kebenaran firman Allah secara cermat dan tepat. Syarat menulis khotbah adalah kecermatan dan ketepatan." Rasul Timotius dipesan, "Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu." (2 Timotius 2:15) Dalam Alkitab bahasa aslinya, yang ditekankan bukanlah berterus terang, melainkan cermat dan tepat. Istilah bahasa aslinya adalah "orthotomounta", artinya membelah secara tepat. Kata itu merupakan metafora tentang tukang batu yang membelah batu sedemikian rupa, sehingga belahan itu bisa dipasang pada celah bangunan secara pas. Menulis khotbah bukan hanya merangkai kata, melainkan menalarkan konsep secara cermat dan tepat. Untuk itu, dibutuhkan kemauan membaca dan kemauan menulis. Meskipun konteks kutipan ini adalah penulisan khotbah, namun prinsipnya dapat kita terapkan pada aktivitas menulis renungan.

Penulisan renungan idealnya seperti itu. Berangkat dari perjumpaan dengan Tuhan dan firman-Nya. Memadukan perenungan pribadi dan pengamatan atas kondisi seputar. Membagikan kebaikan, kebenaran, keadilan, dan hikmat Tuhan untuk menggugah pembaca. Mengajak pembaca mengembangkan hubungan yang lebih akrab dengan Tuhan. Mengundang pembaca untuk bersama-sama menjadi pelaku firman.

Selebihnya, proses penulisan renungan tidak banyak berbeda dengan penulisan karya tulis kreatif lainnya. Persoalan menangkap dan memilah ide, kemudian menuangkannya ke dalam format renungan melalui pemilihan kata dan frasa yang tepat, kalimat yang efektif, dan rangkaian alinea yang mengalir.

Tantangan Menulis Renungan

Dalam menulis renungan, tantangan saya ialah mendapatkan ide dan menuangkannya menjadi tulisan pendek. Ada kalanya ide itu berupa kisah inspirasi yang agak panjang, dan tinggal saya bubuhi dua-tiga kalimat perenungan di ujungnya, tanpa betul-betul membahas perikop dan ayat emas yang saya cantumkan. Asalkan bisa saya ringkas menjadi tulisan sepanjang 1.500-an karakter termasuk spasi, jadilah. Seingat saya, naskah-naskah yang saya kirimkan ke media -- dua media, selalu dimuat, tanpa ada revisi signifikan dari redaksi.

Ketika mendapatkan ide, saya bukan hanya harus menuangkannya menjadi tulisan pendek, tetapi harus menata dan mempertimbangkan ide itu dalam format ilustrasi, pembahasan, dan penerapan.

Idealnya, penulisan renungan berangkat dari perenungan firman Tuhan yang dituangkan dalam pembahasan dan penerapan. Kemudian dicarikan ilustrasi yang relevan sebagai pelengkap. Yang kerap terjadi, saya menempuh proses yang terbalik. Biasanya saya mendapatkan suatu ilustrasi yang menarik dan kemudian memikirkan ide utama yang ditawarkan ilustrasi itu, misalnya mengasihi musuh. Lalu, dengan bantuan konkordansi atau daftar topik Alkitab, saya mencari bacaan Alkitab yang meneguhkan ilustrasi itu. Pada saat lain, ketika membaca suatu perikop firman Tuhan, saya diingatkan pada ilustrasi relevan yang pernah saya baca.

Proses di atas mengisyaratkan beberapa hal. Penulis renungan mau tidak mau menguasai dasar-dasar penelaahan Alkitab. Ia juga cukup akrab dengan topik-topik yang terkandung di dalam Alkitab. Jika ia hendak membahas soal aborsi, misalnya, ia bisa menemukan perikop atau ayat yang menyoroti isu tersebut. Selain itu, ia perlu memiliki gudang ilustrasi atau tahu bagaimana mencarinya bila memerlukan.

Menulis renungan juga memaksa kita membatasi diri dengan berfokus pada satu ide dalam satu tulisan. Misalnya, perikop tentang orang Majus. Banyak aspek yang bisa diangkat: Keputusan mereka untuk segera mengunjungi bayi raja yang baru lahir; kepercayaan mereka bahwa bayi yang di rumah itu, bukan di istana, adalah bayi raja yang mereka cari; persembahan mereka; ketaatan mereka pada perintah dalam mimpi, yang berarti melawan pesan Herodes; dan sebagainya. Nah, kita harus memilih menulis satu aspek saja dalam satu renungan, agar renungan kita terfokus.

Ini sebenarnya suatu kesempatan yang baik untuk menggali firman Tuhan dari berbagai sisi. Sebuah renungan bisa berangkat dari kata kunci tertentu ("tinggal"); tokoh yang jarang dibicarakan dalam suatu perikop (Ishak dalam kisah pengorbanan Abraham); atau benda yang mungkin diabaikan (kain lampin), namun memiliki makna istimewa.

Salah satu hal yang berusaha saya hindari ialah membaca renungan orang lain. Alasannya sederhana saja: sedapat mungkin menghindari plagiarisme. Saya lebih suka "berbelanja bahan mentah": membaca buku tafsir Alkitab dan buku pendalaman Alkitab. Adapun ilustrasi, bisa saya dapatkan dari berita, film, novel, dan sebagainya. Saya menyiapkan folder "Aneka Ide" untuk menampung bahan-bahan mentah itu, yang pada waktunya dapat saya olah, saya padu padankan menjadi renungan.

Tantangan lain dalam menulis renungan ialah menghindarkan nada menggurui. Bagaimana kita bisa menggugah pembaca tanpa berlagak lebih tahu, lebih hebat, dan menyuruh-nyuruh. Salah satu kiatnya ialah dengan menggunakan kata ganti "kita", bukan "Anda", dalam bagian penerapan.

Dengan segala tantangan dan keunikannya, saya merasakan penulisan renungan sebagai proses yang relatif berat di antara penulisan jenis lain. Kesulitan utamanya terletak pada perlunya menyelaraskan ilustrasi, pembahasan, dan perenungan, dalam ruang yang sependek itu. Selama ini, saya pernah selama tiga-empat bulan berturut-turut tidak menghasilkan renungan, tetapi pernah juga dalam sebulan mengirimkan 30 renungan.

Yang sangat menolong, redaksi memberikan tanggapan secara konsisten. Setiap naskah yang kita kirimkan akan dipilah dalam empat kategori: layak muat, revisi kecil, revisi besar, dan dikembalikan. Revisi kecil biasanya berkaitan dengan data dan fakta, yang dapat dengan mudah diperbaiki oleh redaksi. Adapun revisi besar diperlukan bila ada kekeliruan yang lebih parah dan perlu melibatkan penulis bersangkutan untuk memperbaikinya. Mungkin ilustrasi yang tidak cocok, pembahasan yang melantur, atau penerapan yang abstrak. Bisa jadi juga karena idenya secara teologis perlu diluruskan. Respons ini termasuk salah satu pendorong untuk terus menekuni dan mengembangkan tulisan renungan sebaik mungkin.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Panduan Peserta Papirus
Judul artikel: Proses Kreatif Menulis Renungan Harian
Penulis: Arie Saptaji
Penerbit: Tidak dicantumkan


POJOK BAHASA: LISAN DAN TULISAN

"Bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulis," kata Lie Charlie dalam kolom Bahasa, edisi Jumat, 11 Juni 2010.

Ini hanya benar secara kronologis. Bahasa berevolusi dari lisan ke tulisan. Budaya bergerak dari "orality" ke "literacy". Dengan percetakan, teks menjadi makin utama. Kini, radio, televisi, dan internet pun hanya bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. Tulisan tidak akan ada tanpa lisan. Tetapi, bahasa tulisan bukan sekadar bahasa lisan yang dituliskan. Hakikat bahasa tidak lagi lisan.

Dunia oral maupun literal kaya makna. Tetapi, ciri dan dampaknya pada proses berpikir manusia dan sebagai kekuatan pengaruh evolusi sosial sangat berbeda. Bukan hanya itu, sejak tulisan pertama lahir -- lebih dari 5.000 tahun lalu di Sumeria (Irak Selatan), disusul Mesir, China, dan sampai detik ini, sejarah mencatat bahwa bangsa bertulisan lebih unggul daripada bangsa berlisan saja. Nyatanya, sejarah adalah tulisan. Tulisan adalah cikal bakal peradaban. Tulisan tinggal, lisan tanggal.

Tulisan jauh lebih akurat, tahan lama, dan efisien dalam melahirkan, menyimpan, memproses, dan mengembangkan gagasan, sampai yang serumit-rumitnya dan seluas-luasnya. Dari gagasan ke tindakan hanya selangkah. Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan lambat berkembang, teknologi sebatas sederhana, komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat tungkai selebar layar. Buta tulisan, biarpun kaya lisan, adalah resep kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Filsuf Yesuit dan pakar ilmu bahasa, Walter Ong, mendaftarkan beberapa ciri oralitas yang kontras dengan budaya tulisan. Karena ingatan adalah satu-satunya alat memelihara pengetahuan, maka dalam dunia lisan, kosakata sedikit, tata bahasanya sederhana, kata dan konsep diulang-ulang, dan gaya formula umum dipakai, ciri-ciri yang memang masih kental dalam bahasa Indonesia. Formula seperti pantun dan syair misalnya, sangat terkenal di dunia Melayu, yang tidak asing dengan pidato, pepatah-petitih, dan silat lidah.

Guru-guru yang hidup dalam dunia lisan selalu menuntut murid-murid menghafal, bahkan menghafal mati, sampai hal-hal yang seremeh-remehnya. Dalam dunia tulisan, hanya hal-hal mendasar yang perlu dihafal. Yang perlu adalah mengasah pemahaman, ketajaman berpikir, kemampuan analitis, abstraksi, dan seterusnya. Dalam lisan, yang penting adalah data. Dalam tulisan, yang utama adalah olah-data. Akibatnya, lisan itu statis menoleh ke belakang, tulisan itu dinamis menatap masa depan.

Dunia oralitas juga penuh dengan ungkapan-ungkapan ekspresif, seperti adil makmur, aman sentosa, dan lain-lain. Klise memang berkembang dalam dunia lisan. Dengan tulisan, kata-kata dalam ungkapan-ungkapan seperti itu bisa dipecah dan dianalisis, sehingga timbul kompleksitas yang merombak dan memperkaya makna. Yang perlu bukan hanya kemampuan baca tulis, melainkan memfungsikan tulisan sebagai instrumen berpikir. Misalnya, hanya dengan tulisanlah bisa dikembangkan daftar, tabel, dan statistik. Bukan berpikir lalu menulis, melainkan menulis sebagai bagian dari proses berpikir canggih.

Tulisan meningkatkan pikiran. Pikiran meningkatkan tulisan. Pemikir adalah penulis.

Diambil dari:
Nama situs: Rubrik Bahasa
Alamat URL: http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/06/18/lisan-dan-tulis
Penulis artikel: Samsudin Berlian
Tanggal akses: 25 Juli 2011


Powered by Telkomsel BlackBerry®

ORANG-ORANG MAJUS DARI TIMUR

ORANG-ORANG MAJUS DARI TIMUR

Banyak kisah Natal yang digambarkan dengan bebas oleh beberapa seniman populer. Kebanyakan, penggambaran tersebut hanya fiksi dan bertentangan dengan Alkitab. Salah satunya adalah kisah mengenai orang-orang Majus dari Timur dan pemahaman mengenai Bintang Betlehem yang dilihat oleh mereka. Untuk memahami cerita tersebut, kita perlu berpegang pada fakta-fakta sejarah yang ada dan terlebih lagi berpegang pada kebenaran Alkitab.

Pemahaman tentang orang-orang Majus penting untuk setiap pemahaman tentang Bintang Betlehem dan penyelidikan kita tentang hal itu. Hanya merekalah yang disebut telah melihat bintang itu. Karena laporan mereka, Herodes mengadakan pencarian besar-besaran untuk menemukan dan membunuh kanak-kanak Kristus. Jadi, siapakah orang-orang Majus ini? Dari mana mereka berasal? Cahaya macam apa yang mereka lihat di angkasa, dan mengapa mereka tergerak untuk mengikutinya?

Sebelum kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, kita harus lebih dulu membaca perikop Injil Matius dalam Matius 2:1-16, yang memberi satu-satunya gambaran tentang orang-orang Majus dan Bintang Betlehem.

Siapa pun mereka, orang-orang ini hidup pada masa penantian akan Mesias, masa penantian munculnya pembebas politik dan spiritual. Sejarawan Romawi, Suetonius, menulis, "Telah merebak di seluruh daratan Timur suatu kepercayaan kuno yang turun-temurun bahwa suatu saat telah ditakdirkan orang-orang datang ke Yudea untuk memerintah dunia."

Literatur Yahudi dipenuhi oleh nubuat dan ramalan tentang kedatangan Mesias. Kitab Daniel adalah naskah pokok Perjanjian Lama mengenai kedatangan Juru Selamat bagi bangsa Yahudi, namun juga ada karya tulis non-Alkitab yang tersebar luas seperti Kitab Henokh, kitab-kitab Sibilin Yahudi, dan Wahyu Barukh. Ada perasaan sangat kuat bahwa waktunya telah tiba bagi Mesias, sehingga sedikitnya ada tiga Mesias palsu yang muncul selama masa itu. Mereka adalah Yudas dari Galilea, seorang mantan budak Herodes, dan seorang pria bernama Atrongeus. Yosefus, sejarawan Yahudi Kuno, berpendapat bahwa masing-masing mengenakan mahkota dan menginginkan takhta Yudea.

Penantian spiritual serupa melekat dalam banyak Kekaisaran Persia di timur Palestina, yang sekarang menjadi wilayah Iran. Bagian penting dalam kepercayaan agama Persia adalah gagasan bahwa seorang nabi besar atau Juru Selamat akan muncul di hari-hari akhir untuk menyelamatkan umat manusia dari kejahatan dan kesengsaraan. Pada abad pertama SM, bangsa Persia memunyai alasan untuk mencari suatu bentuk pertolongan. Raja Frates IV, yang memerintah Persia antara tahun 37 sebelum Masehi sampai tahun 2 sesudah Masehi, adalah salah satu penganiaya paling kejam pada masa itu. Pemerintahannya ditandai oleh perang yang nyaris terus-menerus melawan pasukan Romawi yang dipimpin oleh Markus Antonius dan Kaisar Agustus. Frates juga bertarung melawan para pemberontak dalam kerajaannya sendiri dan kerajaan-kerajaan tetangga yang tidak tahan dengan kelakuan buruknya.

Jadi, baik di Yudea maupun wilayah sekitarnya, ada kerinduan yang hebat akan Juru Selamat yang akan membebaskan umat manusia dari kemiskinan dan penderitaan. Barangkali, sebagai bagian dari lingkungan pada umumnya, orang-orang Majus merasakan hal yang sama dalam penantian akan Mesias. Namun, siapa mereka dan dari mana mereka berasal?

Matius hanya mengatakan bahwa orang-orang Majus datang dari 'timur' yang bisa berarti salah satu dari sejumlah tempat. Para ahli berbeda pendapat apakah mereka berasal dari Arab, Babilonia, Esenia, India, atau Persia. Masing-masing kemungkinan memunyai fakta pendukung.

1. Arab

Jika kita berjalan ke timur daratan kuno Palestina (Israel masa kini), pertama kali akan sampai di padang gurun Siro-Arabia, lalu daratan Babilonia di Mesopotamia, dan akhirnya Persia. Sumber-sumber yang paling kuno membenarkan pendapat umum masa kini bahwa orang-orang Majus datang dari tempat terdekat, yaitu Arab.

Arab dipertimbangkan karena tiga alasan. Pertama, persembahan berupa emas, kemenyan, dan mur yang diberikan orang-orang Majus kepada Yesus dianggap sebagai ciri khas bangsa Arab. Namun, itu tidak sepenuhnya benar. Emas, misalnya, adalah logam pemberi hidup dan penangkal maut bagi bangsa Mesir. Kemenyan, getah dari jenis pepohonan tertentu di Timur Tengah, tersedia melimpah bukan hanya di barat daya Arab, tetapi juga di Abesinia (Ethiopia) dan India. Bangsa Ibrani kuno juga menggunakannya untuk penyembahan. Mur, getah pepohonan jenis lain, tidak hanya terdapat di Arab, tetapi juga di banyak daerah lain di Timur Tengah. Bangsa Yahudi, misalnya, menggunakannya sebagai minyak urapan kudus dan kosmetika; benda ini juga dipakai sebagai campuran obat yang ditawarkan kepada Kristus di Kalvari dan sebagai rempah-rempah dalam pemakaman-Nya.

Alasan kedua, mengapa Arab dikutip banyak orang sebagai negeri asal orang-orang Majus adalah kedekatannya dengan Yerusalem dan Betlehem. Ada tradisi bahwa bintang yang mengiringi kelahiran Kristus dan kunjungan orang-orang Majus muncul di hari kedua belas setelah kelahiran Kristus. Jika tanggal ini benar, betapa lamanya jarak yang harus ditempuh menuju Betlehem dari Babilonia atau Persia. Namun, tidak ada bukti kuat bahwa tradisi ini lebih dari sekadar legenda. Injil Matius, sumber utama kita yang menggambarkan orang-orang Majus dan Bintang Betlehem, tidak menulis apa pun tentang kunjungan pada hari kedua belas, sebagaimana juga sumber-sumber sejarah tepercaya lainnya yang muncul lebih awal.

Alasan ketiga, yang mendukung kemungkinan ini adalah bahasa dan kebiasaan bangsa Arab yang lebih mirip dengan adat Palestina kuno daripada bahasa dan kebiasaan bangsa-bangsa lain. Bangsa Arab mungkin lebih mudah memahami orang-orang Yahudi berbahasa Aram daripada bangsa Persia, misalnya, yang berbicara dialek Indo-Eropa yang lebih asing. Lagipula, bangsa Arab boleh jadi lebih menaruh perhatian terhadap nubuat tentang Mesias oleh Bileam, tokoh Perjanjian Lama, dalam Bilangan 24:17: "...; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, ..."

Namun, semua bukti ini kurang kuat untuk menjadikan Arab sebagai kemungkinan utama asal orang-orang Majus. Orang-orang pandai di setiap zaman mampu berbicara bermacam bahasa ketika situasi mengharuskan -- atau setidaknya mereka piawai dalam memilih penerjemah yang efektif. Cuplikan Kitab-kitab Suci Ibrani juga telah dikenal di banyak tempat selain Arab. Oleh karena itu, masih mungkin untuk mempertimbangkan daerah yang lebih timur sebagai negeri asal orang-orang Majus.

2. Babilonia

Bangsa Babilonia atau Khaldea, menghuni padang gurun antara Arab bagian utara dan Teluk Persia. Mereka lebih mungkin menjadi negeri asal orang-orang Majus karena mereka dikenal sebagai astronom piawai dan astrolog ambisius. Jika Bintang Betlehem benar-benar sebuah bintang, planet, atau benda angkasa lainnya, bangsa Babilonia pastilah menjadi yang pertama menyelidiki maknanya dan berangkat menuju Palestina.

Ada kepercayaan umum pada masa Kristus bahwa kelahiran dan kematian tokoh-tokoh besar ditandai oleh peristiwa-peristiwa aneh di langit, seperti kemunculan komet, bintang baru, atau konjungsi (kesejajaran) sejumlah planet penting. Banyak bangsa beranggapan segala yang terjadi di bumi merupakan reaksi terhadap apa yang terjadi di alam dewa-dewi di surga. Pemahaman tentang bintang-bintang diperlukan bagi mereka yang ingin melihat masa depan dan kehendak dewa-dewi mereka.

Para astrolog pada zaman itu memainkan peran yang sangat penting di masa penderitaan atau penantian akan pewahyuan. Mereka memercayai planet Saturnus melambangkan raja-raja di bumi. Yupiter juga salah satu planet yang dikaitkan dengan takhta kerajaan. Jadi, ketika konjungsi Yupiter dan Saturnus terjadi pada tahun 7 SM, orang-orang yang menekuni pengamatan bintang boleh jadi sangat gembira. Sejumlah ahli Alkitab percaya bahwa 7 SM boleh jadi merupakan tahun kelahiran Kristus yang sebenarnya.

Babilonia pastilah kemungkinan terbesar sebagai negeri asal orang-orang Majus. Namun ada pertimbangan lain yang mungkin menghubungkan mereka dengan banyak tempat lainnya.

3. Esenia

Sejumlah orang percaya bahwa orang-orang Majus dalam adegan kelahiran Kristus berasal dari komunitas Qumran, para rahib Yahudi yang hidup di gua-gua di pesisir barat Laut Mati. Bangsa Esenia tertarik untuk mencoba meramal masa depan dan berspekulasi tentang bintang Yakub yang telah mereka baca di Kitab Bilangan. Mereka juga melaksanakan praktik astronomi sehingga mereka pasti tahu peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi di langit Yudea.

Persoalannya, tidak ada bukti sejarah yang kuat untuk hal ini, baik dalam dokumen pada masa itu maupun catatan Matius. Implikasi yang jelas dalam Matius: orang-orang Majus datang dari negara lain, bukan dari daerah lain di Palestina. Lagipula, dibandingkan dengan bangsa Esenia, tampaknya mereka agak kurang paham tentang nubuat dalam Kitab-Kitab Suci Ibrani dan kondisi geografis. Para rahib Yahudi mungkin tidak perlu mencari petunjuk dari Herodes di Yerusalem.

4. India

Asal orang-orang Majus yang demikian jauhnya mungkin sekilas terkesan dibuat-buat, namun ada beberapa landasan teorinya. Seorang ahli kebudayaan Timur, Valdas Stanka, menarik beberapa kemiripan antara pencarian seorang Dalai Lama yang baru, pemimpin spiritual Tibet, dan pencarian kanak-kanak Kristus oleh orang-orang Majus. Tampaknya setelah setiap Dalai Lama wafat, sekelompok orang bijak dari Tibet akan pergi mencari seorang anak yang menerima jiwa mendiang Dalai Lama. Stanka membenarkan bahwa Lamaisme belum muncul di Tibet sampai abad enam atau tujuh Masehi, sedangkan cara pemilihan Dalai Lama berkembang berabad-abad setelahnya. Namun, ia beranggapan bahwa akar Buddha dari Lamaisme, yang diawali bertahun-tahun sebelum kelahiran Kristus, memunyai unsur-unsur yang berhubungan dengan peristiwa Bintang Betlehem di Matius.

Stanka melihat kesamaan dalam pengajaran Yesus dan Buddha Gautama, pendiri agama Buddha, yang dapat membenarkan kesamaan akar cerita tentang bintang. Sebuah tradisi muncul dalam ajaran Buddha bahwa 'Roda Angkasa' yang besar dengan ribuan jari-jari muncul di langit. Ketika roda itu menampakkan diri seutuhnya kepada raja yang adil, ia menjadi penguasa dunia. Beberapa prasasti awal di India menghubungkan kisah tentang Roda Angkasa dan kemunculan raja adil dengan pemimpin India legendaris, Asoka, yang menjadi raja pada 270 atau 272 SM. Ia mengumumkan serangkaian titah sebagai bagian dari Dharma-nya, atau 'Hukum Kebajikan', yang memuji perbuatan baik, kasih sayang, kebebasan, kejujuran, dan kemurnian.

Asoka mengirim utusan ke daerah-daerah lain di dunia untuk menyatakan pandangannya tentang Hukum Kebajikan, dan kisah Buddha tentang Roda Angkasa muncul untuk menggambarkan upaya ini secara simbolis. Stanka menyimpulkan bahwa meskipun Asoka hidup jauh lebih dulu sebelum kelahiran Kristus, boleh jadi ada hubungan antara Roda Angkasa Asoka dan Bintang Betlehem yang mewartakan kelahiran Putra kasih dan damai sejahtera.

Teori ini memunyai beberapa unsur menarik, namun dari semua teori yang diajukan substansinya paling sedikit. Ketidaksesuaian kronologis antara tahun pemerintahan Asoka dan kelahiran Kristus menghapus penafsiran orang-orang Majus dan bintang itu sebagai ajaran Buddha dari ranah kenyataan sejarah. Lagipula, tujuan utama orang-orang Majus di Matius bertentangan dengan para utusan Asoka. Orang-orang Majus datang untuk menemukan dan menyembah raja baru, sedangkan para utusan Asoka menyebarkan kata-kata pujian tentang raja yang sudah ada. Jadi, kita perlu melihat melampaui gagasan imajinatif kepada teori yang paling mungkin tentang orang-orang Majus: mereka datang dari Persia, atau Iran masa kini.

5. Persia

Ada lebih banyak bukti bahwa Persia adalah asal orang-orang majus. Sejarawan Yunani kuno, Herodotus, mencatat pada abad kelima SM bahwa orang-orang majus berasal dari salah satu suku bangsa Midian (Persia). Orang-orang ini berasal dari kasta pendeta, seperti kaum Druid bangsa Kelt atau suku Lewi di Ibrani. Istilah "majus" muncul untuk mengacu kepada profesi keimaman yang berhubungan dengan hal magis alih-alih secara eksklusif kepada kebangsaan tertentu, namun akar-akarnya masih ada Persia. (t/Dicky)

Diterjemahkan dan disunting dari:
Judul buku: The Return of the Star of Bethlehem
Judul asli artikel: Gurus From the East
Penulis: Ken Boa dan William Proctor
Penerbit: Zondervan, Michigan 1980
Halaman: 15 -- 22

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Semua Orang Mengalami Pencobaan

Semua Orang Mengalami Pencobaan

1 Korintus 10:13

10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Ayub mengalami pencobaan yang sangat berat dalam hidupnya, namun melalui segala pencobaan itu, Tuhan meningkatkan kualitas hidup Ayub. Dengan demikian kita tahu bahwa Tuhan juga memproses orang-orang non-Yahudi untuk memiliki kelayakan di hadapan Tuhan—tentu dengan ukuran manusia Perjanjian Lama.

Itulah sebabnya Alkitab mengatakan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Perhatikan, dikatakan kekuatan manusia, bukan kekuatan anak Tuhan. Ini menunjukkan bahwa semua manusia juga mengalami pencobaan, bukan hanya orang-orang percaya. Jika kita memperhatikan kehidupan orang-orang lain di sekitar kita, pada kenyataannya mereka juga mengalami berbagai persoalan hidup yang disebut sebagai pencobaan. Masalahnya adalah bagaimana setiap individu memperlakukan sesamanya di tengah segala pergumulan hidupnya.

Misalnya, dalam Luk. 16:19–31 dikisahkan tentang seorang kaya yang mendapat pencobaan, yaitu kehadiran seorang pengemis bernama Lazarus di depan rumahnya. Bagaimana ia memperlakukan Lazarus, itulah yang memberi nilai atas hidupnya. Sayang sekali ia tidak memperlakukan Lazarus dengan baik, sehingga tidak pernah menikmati kenyamanan di balik kuburnya.

Si orang kaya ini berbeda dengan orang-orang yang digolongkan Tuhan sebagai domba dalam Mat. 25:31–46. Mereka menolong orang lapar, bertelanjang, di penjara dan lain sebagainya. Perlakuan mereka terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan atau orang-orang yang menderita tersebut disejajarkan dengan perlakuan mereka terhadap Tuhan. Harus diperhatikan dengan seksama di sini bahwa diperkenankannya mereka untuk bisa bersama dengan Tuhan bukan karena iman, melainkan karena perbuatan baik atau kasih. Tentu ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak mendengar Injil.

Jadi kita tahu bahwa Tuhan juga menggarap orang-orang di luar Yahudi dan juga di luar Kekristenan melalui segala pencobaan. Tuhan yang adil memperlakukan mereka dengan adil; sekalipun Ayub bukan orang Yahudi dan tidak pernah mengenal Kristus yang hadir ribuan tahun sesudahnya pun kita dapat berkata bahwa Ayub pun masuk surga. Tentu di dunia ini masih banyak Ayub-ayub lain yang bertebaran di segala tempat; masakan kita tidak bertemu mereka di dunia yang akan datang kelak?

Tuhan yang adil memperlakukan semua manusia dengan adil, dan menggarap mereka juga melalui segala pencobaan.

Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

"Jadilah Kepadamu Menurut Imanmu"

 "Jadilah kepadamu menurut imanmu."

(Yes 29:17-24; Mat 9:27-31)

"Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil

berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah

Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya

dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat

melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." Lalu

Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut

imanmu." Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan

kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal

ini." Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu"(Mat 9:27-31),

·   Orang buta matanya memang

memiliki kerugian besar, karena tidak dapat melihat dan menikmati keindahan

ciptaan-ciptaan Tuhan, entah itu manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Maka

kiranya ia memiliki kerinduan atau dambaan dapat melihat segala sesuatu dengan

jelas. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan dua orang buta yang mengikuti

Yesus dan akhirnya berseru-seru dan berkata kepadaNya:"Kasihanilah kami, hai Anak Daud". Karena iman mereka, maka mereka

pun menerima anugerah penyembuhan dari Tuhan dan "meleklah mata mereka". Marilah dengan rendah hati kita hayati bahwa

kita pun juga tidak dapat melihat segala sesuatu dengan jelas karena terhalang

oleh aneka bentuk egoisme dan semangat materialistis, sehingga kita hanya

melihat samar-samar tentang keindahan dan kemuliaan ciptaan-ciptaan Tuhan.

Dengan kata lain marilah kita mawas diri apakah kita sungguh hidup dan

bertindak dijiwai oleh iman kita, artinya bersama dan bersatu dengan Tuhan kita

hidup dan bertindak, melihat segala sesuatu yang ada di lingkungan hidup kita.

Dalam dan dengan iman kita hayati bahwa Tuhan senantiasa berkarya dalam

ciptaan-ciptaanNya di dunia ini. "Jadilah

kepadamu menurut imanmu", demikian sabda Yesus, kepada dua orang buta yang

mohon penyembuhan, kepada kita semua yang  beriman kepadaNya. Apa dambaan dan kerinduan kita? Marilah kita usahakan

dalam dan dengan iman, dengan demikian akan menjadi kenyataan. Dengan dan dalam

iman berarti kita bekerja keras, 100% mengerahkan kekuatan untuk mewujudkan

dambaan atau kerinduan dan 100% mengandalkan diri pada rahmat Tuhan.

·   "Orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan

orang-orang yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran" (Yes 29:24),

demikian kata-kata penghiburan Tuhan melalui hambaNya, nabi Yesaya, kepada

bangsanya yang mengalami kesulitan, yang tersesat dan bersungut-sungut. Memang

pada umumnya orang yang tersesat akan mudah mengeluh, menggerutu dan

bersungut-sungut, demikian juga orang-orang yang mengalami kesulitan atau

menghadapi masalah, hambatan dan tantangan. Pengertian, pengajaran, pencerahan

dan kekuatan akan dianugerahkan kepada kita jika kita dengan rendah hati

membuka diri pada Penyelenggaraan Ilahi. Penyelenggaraan Ilahi menjadi nyata

atau menggejala antara lain dalam diri orang-orang yang berkehendak baik, maka

marilah kita buka diri kita terhadap aneka sentuhan, sapaan dan bantuan

orang-orang yang berkehendak baik ketika kita sedang mengadapi masalah, tantangan,

kesulitan atau hambatan. Orang-orang yang berkehendak baik lebih banyak

jumlahnya daripada yang berkehendak jahat dan ada di mana-mana. Hendaknya kita

juga tidak membatasi diri dalam kehendak baik dari orang-orang yang seagama,

sesuku , seras atau sebangsa saja, melainkan seluruh umat manusia tanpa pandang

bulu atau SARA. Dengan kata lain di masa Adven ini kita diajak untuk mawas diri

perihal hidup persaudaraan atau persahabatan kita: apakah kita bersaudara atau

bersahabat dengan siapapun. Ingatlah dan sadari bahwa yang kita nantikan

kedatanganNya adalah Penyelamat Dunia: Ia akan datang untuk menyelamatkan dunia

seisinya. Kita siapkan kedatanganNya dengan membangun dan memperdalam hidup

dalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Dalam persaudaraan dan

persahabatan sejati kita akan memperoleh aneka pengertian dan pengajaran yang

berguna bagi keselamatan dan kebahagiaan hidup atau jiwa kita.

"Sesungguhnya, aku

percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup!

Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN"

 (Mzm 27:13-14)


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Proyek Percontohan

Proyek Percontohan

Bacaan: 1 Korintus 10:1-11

10:1 Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut.

10:2 Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.

10:3 Mereka semua makan makanan rohani yang sama

10:4 dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.

10:5 Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.

10:6 Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,

10:7 dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala,sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: "Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria."

10:8 Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.

10:9 Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.

10:10 Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.

10:11 Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.

Bangsa Israel telah mengalami perlindungan Tuhan yang luar biasa. Mereka telah makan dari makanan rohani dan minuman rohani yang sama dari batu karang rohani yang sama yaitu Kristus, namun sebagian besar dari mereka tidak memperoleh perkenanan Allah.

Sebagai Pencipta manusia, Tuhan berurusan dengan semua manusia ciptaan-Nya secara serius. Ayub yang bukan orang Israel dipandangnya sebagai manusia yang cemerlang di mata-Nya. Ayub seorang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan, serta selalu mempersembahkan korban bakaran dan memohonkan ampun atas kesalahan anak-anaknya. Kita tidak tahu ritual apakah yang digunakan oleh Ayub, sebab pada waktu itu belum ada Taurat; namun satu hal yang kita tahu, bahwa Allah menulis Taurat-Nya di dalam hati nurani setiap insan (Rm. 2:13–15).

Tentu setiap bangsa memiliki cara sendiri-sendiri untuk mengekspresikan Taurat yang tertulis di dalam hati nurani mereka. Kita tidak boleh menyoroti ritual mereka dengan kacamata Taurat Yahudi, apalagi kacamata iman Kristen. Yang terpenting yang harus kita pahami adalah, mereka yang tidak memiliki Taurat yang tertulis di atas loh batu dan kitab adalah mereka yang mengekspresikan Taurat itu dalam berbagai perilaku dan upacara ibadah.

Jangan lagi kita memandang eksklusif bangsa Israel atau orang Yahudi sebagai individu. Eksklusivitas bangsa itu hanya terletak pada komunitas mereka, sebagai pewaris pengenalan akan Allah dan bangsa yang melahirkan Mesias. Lebih dari itu, tidak ada yang eksklusif. Buktinya, raja-raja Yehuda dan nenek moyang Mesias juga berasal dari keturunan bangsa non-Yahudi, yaitu Rut orang Moab (Mat. 1:5)

Saat memandang kehidupan bangsa Yahudi yang tertulis di dalam Alkitab, kita menemukan diri kita dan karakter manusia pada umumnya di seluruh dunia ini. Bangsa itu disebut umat pilihan, sebab telah menjadi proyek percontohan Allah bagi semua bangsa di dunia ini. Alkitab menulis bahwa Israel dijadikan contoh dan peringatan bagi kita (1Kor. 10:11).

Dengan melihat kehidupan bangsa Israel, kita belajar untuk memperlakukan Tuhan Semesta Alam secara benar. Ia tegas menghukum orang yang menyembah berhala, mencobai Tuhan, dan bersungut-sungut. Kita yang mengenal Allah yang benar harus hidup dengan cara yang dikenan-Nya.

Dengan melihat kehidupan bangsa Israel, kita belajar untuk memperlakukan Tuhan dengan benar.

Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

BERTUMBUH SECARA SPIRITUAL DAN KARAKTER

ARTIKEL: BERTUMBUH SECARA SPIRITUAL DAN KARAKTER

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya." (Roma 8:28-30)

Kalau kacamata kita sudah berpusat pada diri kita sendiri, maka kebaikannya selalu baik menurut kita. Kadang-kadang kalau ada kesulitan, orang mengatakan: Tuhan pasti punya maksud yang baik di balik itu semua. Tetapi kalau maksud baiknya tidak sesuai dengan maunya kita, maka kita akan protes lagi pada Tuhan.

Apa maksud "baik" di sini? Di dalam NIV Study Bible, kata "goodness for good" untuk orang-orang pilihan itu adalah semakin menyerupai Kristus. Ternyata di dalam kesulitan, Tuhan terus memoles kita dan membentuk kita, sehingga kita semakin menyerupai Kristus. Bukan baik-baik seperti menurut kita. Kadang-kadang kalau sudah benar-benar susah, kita akan mengatakan bahwa ada maksud yang indah. Tetapi indah menurut maksud siapa?

Seorang utusan Injil meninggalkan anak dan istrinya dan bersama seorang teman pergi ke pedalaman. Belum ada jiwa yang ia injili atau yang menerima keselamatan dari Tuhan, tetapi mereka berdua sudah dibunuh. Rencana indah apa kalau sudah seperti itu? Kalau membawa Kabar Baik ke pedalaman Afrika, lantas orang sekampung diselamatkan, kemudian kita mati, tidak apa-apa. Kalau belum mulai sudah mati, itu namanya mati konyol. Apa yang baik kalau seperti itu!

Banyak kali yang terjadi dalam hidup, kita mengatakan bahwa Tuhan memunyai rencana yang baik. Sekali lagi: kita tidak berpusat pada diri sendiri -- apa yang enak, apa yang senang dan nyaman menurut saya; tetapi apa yang Allah mau. Dalam hal ini "for good" itu, "good"-nya adalah "To the Lighness of His Son". Bukan kalau kita menyerupai Kristus, maka kita kita bisa langsung membuat mukjizat. Tetapi dalam hal moral dan karakter. Semakin hari kita semakin dipoles menyerupai Kristus.

Dalam Roma 8:30, ada kata dipilih, dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan. Kalau hari ini di dalam ruangan ini kita bisa berkumpul sebagai orang percaya, saya pikir tidak ada harta yang lebih berharga di dunia ini selain keselamatan kita. Bahwa kita boleh hidup di dalam Kristus. Ini adalah mukjizat yang paling ajaib, bahwa orang berdosa seperti kita, sampah di mata Tuhan boleh menjadi mutiara berharga di mata-Nya. Ini luar biasa.

Semakin tahun saya melihat pengajaran kepada anak-anak semakin sulit. Untuk metode, kita memang bisa menyampaikan dengan gaya mereka. Tetapi kita harus berani memberikan kepada mereka sesuatu (content) yang keras, dalam arti jangan selalu memberikan yang lembut-lembut, yang menghibur, itu tidak akan menghasilkan apa pun, kecuali mental yang melempem, yang tidak berkembang sebagaimana harusnya. Misalnya, waktu kita mengajar, memotivasi, apalagi ketika kita mengajar "Character Building", itu tidak bisa banyak teori. Misalnya tentang bagaimana memerhatikan orang. Tidak cukup anak hanya mendengar suara orang, mereka juga harus tahu perasaan orang. Caranya bagaimana? Kalau ada orang sedang berbicara kamu harus lihat matanya, mukanya, supaya kalau dia senang atau tidak senang, kamu bisa tahu.

Pada waktu mengajar tidak bisa terlalu banyak teori, tetapi harus banyak motivasi. Mengapa setelah kita mengajar, kita merasa begitu lelah? Karena pada waktu kita mengajar, hati kita harus ada di sana, sehingga pada waktu mengajar mereka, pastikan bahwa mereka tahu bahwa kita tidak ada motivasi lain, tidak mencari pujian karena kita mengajarnya enak atau apa pun, tetapi satu hal bahwa kalau kamu keluar dari kelas ini dan kamu tidak berubah, maka kamu langsung berurusan dengan Tuhan, karena gurumu sudah omong. Hal-hal seperti itu menantang mereka.

Kitab Yesaya mengatakan, "Allah akan memberi kita hati yang taat". Kita diubahkan. Itu masuk ke masa pengudusan atau penyucian (Sanctivication). Hidup dalam pengudusan ini berarti pikiran kita harus diubah. Kita menjadi milik Allah, akal budi kita diubah (ini proses) dan kita belajar menyenangkan Tuhan dengan hidup sesuai firman-Nya. Untuk apakah semua itu? Kadang sebagai orang tua, kita malu kalau anak kita urakan. Kita maunya anak itu rapi, duduknya sopan dan tenang, yang tahu aturan, bilang terima kasih kalau menerima sesuatu, dll..

Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita tidak terlepas dari jebakan keinginan agar anak-anak kita memunyai penampilan yang sempurna. Ke mana pun mereka pergi, paling tidak orang-orang bisa bilang, "Anaknya baik-baik ya?" Ada rasa bangga untuk hal ini. Tetapi di dalam penyucian/pengudusan tidak sedangkal itu yang ingin kita capai. Bukan hanya agar anakku punya moral yang baik, anakku bisa bertegur sapa, anakku bisa memunyai mulut yang manis dan menyenangkan orang lain. Pengudusan lebih dari pada itu, karena menyangkut tujuan kekal (eternal goal). Tujuan untuk masa kita dimuliakan. Pengudusan memiliki pengertian semakin menyerupai Kristus dalam moral dan karakter. Dalam ayat 29 dikatakan bahwa supaya Kristus menjadi yang sulung dari banyak saudara. Jadi, tidak hanya dari segi moral dan etika anak-anak kita dikatakan baik.

Saya jadi teringat pada murid-murid saya: mereka sering bingung ketika saya bertanya, "Kamu yakin kalau kamu sudah diselamatkan? Kalau tiba-tiba nanti sore kita dipanggil Tuhan, apakah kamu siap?" Mereka tidak berani menjawab. Ini menakutkan bagi saya yang sudah mengajar berulang-ulang pada mereka. Muncul pertanyaan dalam hati, "Mengapa?" "Apa yang membuat mereka seperti ini?" Akhirnya, saya ubah pertanyaan dengan, "Siapa yang pernah menerima Kristus dalam hati dan siapa yang tahu bahwa sekarang Tuhan Yesus ada di dalam hati?" Banyak yang angkat tangan. Ketika saya menanyakan mengapa tadi kalian tidak angkat tangan? Mereka menjawab, "Kan kami masih suka bohong, masih suka bicara jorok." Akhirnya saya mengerti mengapa tadi mereka tidak berani menjawab. Ternyata mereka pikir bahwa kalau mereka sudah menerima Kristus, mereka sudah tidak bisa bohong.

Saya jelaskan pada mereka bahwa di masa pengudusan ini, ketika sudah menerima Kristus, bukan berarti kita langsung masuk surga. Tetapi kamu harus mengadakan perlawanan terhadap dirimu, terhadap dosa. Kamu tidak berdiam diri saja. Setiap hari perang, bukan melawan orang, tetapi memerangi segala sesuatu yang muncul di dalam diri kita untuk tidak taat kepada Tuhan. Roh itu yang harus terus dilawan. Kamu tidak boleh menyerah. Kalau kamu jatuh, kamu boleh mengaku di hadapan Tuhan, tetapi jangan biarkan dirimu jatuh dengan sengaja. Akhirnya, anak-anak mulai mengerti bahwa masa-masa pengudusan itu adalah masa-masa kita terus berperang. Sampai kapan? Sampai nanti Tuhan bilang "STOP".

Sebagai orang tua, kita juga harus cukup mengerti bahwa ini adalah masa-masa yang sulit. Kita yang sudah dewasa saja, yang "self control"-nya sudah lebih besar daripada anak-anak, kita masih juga mengalami jatuh-bangun, dsb.. Apalagi bagi anak-anak yang masih sangat muda dan masih kecil. Di sinilah masa-masa kita belajar dan bertumbuh. Di sini juga kita harus mengajarkan kepada anak-anak untuk bertobat setiap saat. Begitu salah, langsung minta ampun pada Tuhan. Itu akan cukup menjaga langkah mereka. Suatu kali mereka bersalah atau berdosa, Roh Kudus pasti mengingatkan, dan pada saatnya mereka akan berkata Tuhan ampunilah saya.

Bagaimanapun masa-masa ini adalah masa-masa pembentukan atau "pemolesan". Banyak hal yang negatif di dalam hidup kita harus dilepas. Kita adalah manusia yang lebih senang berada di dalam "comfort zone" (zona aman/zona nyaman kita). Merasa nyaman dengan keadaan kita yang sekarang, dengan alasan: kalau sudah enak dengan keadaan sekarang, mengapa kita harus berubah? Untuk berubah itu bukan hal yang mudah. Ini harus cukup kita pahami.

Kemudian kata "pertumbuhan". Kalau kita katakan kita bertumbuh, anak kita bertumbuh, apa artinya itu? Bertumbuh di sini berbeda dengan pertumbuhan fisik. Kalau anak semakin besar ,mereka akan semakin mandiri dan bisa mengerjakan segala sesuatunya sendiri, makin independen. Tetapi bertumbuh secara rohani bagi seorang Kristen berbeda. Semakin dewasa maka dependensinya kepada Tuhan, itu semakin jadi. Semakin mengutamakan Tuhan, apa-apa Tuhan.

Pada waktu baru bertobat saya punya masalah dan datang pada pembimbing saya. Beliau hanya mengatakan "berdoa saja". Pada waktu itu saya sangat jengkel. Sepertinya, dia tidak punya jalan lain selain berdoa. Apa tidak ada jalan atau cara lain? Tetapi itu merupakan ciri-ciri dari orang yang dewasa rohani. Semakin dewasa, semakin dia "dependent" (bergantung) kepada Allah.

Satu hal yang sangat melegakan adalah bukan soal seberapa besarnya aku bertumbuh, tetapi apakah aku bertumbuh. Mengapa? Karena dalam kehidupan Kristen, kalau tidak maju, kita mundur. Tidak ada diam di tempat. Pada saat kita merasa tidak bertumbuh, kita "stag". Itu bukan berhenti tetapi kita sedang mundur teratur. Jadi, pastikan kita selalu maju. Anak-anak juga begitu. Kita tidak bisa menuntut mereka atau membandingkan mereka. Setiap anak unik, setiap anak memunyai masa pertumbuhannya sendiri dan Tuhan tahu itu. Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Doakan dan minta Tuhan untuk memberikan pertumbuhan.

Apakah salah kalau kita memunyai mimpi/cita-cita/harapan untuk anak-anak kita? Tidak, tidak salah. Itu wajar dan positif. Tuhan bisa pakai cara itu. Tetapi cara kita untuk melihat anak kita sudah dewasa secara rohani atau belum, adalah dengan memberikan dia masalah. Melalui penyelesaian masalah yang ia lakukan, apakah firman Tuhan, dll. yang sudah kita sampaikan atau ajarkan kepadanya, dia terapkan dalam penyelesaian masalah tersebut. Maka kita akan tahu "warna" anak itu (apakah sudah matang atau belum). Untuk anak-anak yang terbuka kita akan lebih gampang mendeteksinya.

"Familly devotion". Kita sering menjadikan "family devotion" itu sebagai sesuatu yang kaku, semua harus duduk diam dan tegak, tidak boleh tidur-tiduran, membuka Alkitab, dan tidak boleh bicara dengan yang lain. Anak-anak yang sudah kelas 6 ke atas akan merasa sedang dihukum dengan keharusan tersebut. Dia sangat tidak menyukainya dan akan menghindarinya. Namun di satu sisi, itu keharusan agar anak tahu bahwa di dalam keluarga ini, berlaku hukum Tuhan yang setiap hari kita bicarakan. Setiap hari juga kita mengucap syukur pada Tuhan. Kalau ada masalah kita pasti mengadunya pada Tuhan.

Di keluarga saya sendiri, saya bergumul dengan hal ini. Saya tidak mau anak-anak merasa "muak" atau jenuh dan tidak menikmati hal ini, sehingga yang saya lakukan adalah, setiap malam berkumpul di tempat tidur Papi-Mami. Kadang-kadang saya tidak baca Alkitab, tetapi memulainya dengan menanyakan ada cerita apa yang mau diceritakan, dan saya juga bisa memulainya terlebih dahulu. Misalnya menceritakan kekesalan terhadap salah seorang murid, tetapi saya coba menyelesaikannya dengan berdoa minta kekuatan dari Tuhan. Jadi, kami hanya "share" saja. Namun inilah waktu yang mereka tunggu-tunggu. Kalau saya sedang lelah dan mau langsung istirahat, mereka akan minta "ngobrol" dulu. Kita tidak harus selalu membaca Alkitab, tetapi melalui kasus-kasus yang ada, bagaimana kita sebagai orang tua memberikan arahan yang tentunya berdasarkan firman Tuhan. Tetapi kebiasaan membaca Alkitab juga harus ada. Maka, kami menentukan untuk melakukannya pada hari-hari tertentu. Ada kebiasaan dalam keluarga kami untuk baca Alkitab sama-sama, doa sama-sama, dan siapa pun yang ada masalah didoakan sama-sama. Judulnya bukan persekutuan tetapi "ngobrol".

Diambil dari:
Judul buku: Mendidik Anak Sesuai Zaman dan Kemampuannya: Kumpulan Pembelajaran Institut Konseling Parenting Terapan
Judul asli artikel: Spiritualitas dan Karakter
Penulis: Tidak dicantumkan
Editor: Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha
Penerbit: Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3), Tangerang 2007
Halaman: 151 -- 156


MUTIARA GURU

"Kurangnya waktu bersama dapat menjadikan musuh paling berbahaya bagi keluarga yang sehat." (Gary J. Oliver)


Powered by Telkomsel BlackBerry®