Senin, 28 November 2011

MENDAMPINGI ORANG YANG AKAN MENINGGAL

MENDAMPINGI ORANG YANG AKAN MENINGGAL

Bila Anda mengetahui bahwa sebentar lagi Anda akan meninggal, apa yang akan Anda lakukan? Seseorang yang tahu bahwa dia akan meninggal kemungkinan besar akan mengalami penurunan, entah itu harapannya atau kondisi emosinya. Dalam keadaan seperti ini, konselor pastoral sebaiknya mendampingi dengan sabar dan memberikan penguatan iman, sehingga pengharapannya di dalam Kristus tidak goyah.

Sebagai seorang konselor, saya pernah bertemu dengan seorang wanita yang menderita kanker, namanya Lois. Ia membicarakan ketakutannya akan rasa sakit. Lois juga takut menghadapi rasa kehilangan yang mungkin akan dialaminya pada waktu menjelang kematiannya. Dia cemburu ketika melihat sepasang suami istri yang tua berjalan bergandengan. Dia juga membicarakan pentingnya untuk tidak menunda menghadapi persoalannya dengan orang lain.

Saya pun mengatakan kepadanya, bahwa keadaannya dalam bulan-bulan terakhir, menjadi lebih penting dan bersemangat daripada bulan-bulan sebelumnya. Lois pun menanggapi, "Bila Anda mengetahui masa depan Anda di sini mungkin pendek, itu akan membuat masa sekarang menjadi lebih penting." Ketika kami mengakhiri pembicaraan kami, dia mengatakan bahwa adanya kesempatan membicarakan pengalamannya secara lengkap benar-benar sangat berarti baginya. Saya katakan kepadanya betapa saya juga tersentuh secara mendalam oleh segala hal yang diceritakannya. Lois menolong saya melihat lebih jelas bahwa bagi sebagian orang, proses mendekati kematian dapat menjadi suatu tahap penting dari pertumbuhan individu yang terus-menerus!

Keadaan seseorang saat menjelang kematian sama uniknya dengan keadaan seseorang dalam menjalani hidupnya. Berikut ini, ada lima hal yang membantu sebagian orang dalam menghadapi kematian, sehingga dapat memperoleh perspektif yang lebih luas, menggerakkan kekuatan baru, dan kemudian meninggal dengan tenang.

1. Memunyai suatu komunitas penggembalaan, yang terdiri atas orang-orang yang akan mendengar dan memberi dukungan yang hangat.

Keadaan menjelang kematian adalah suatu pengalaman yang sangat pribadi dan suatu pengalaman antarpribadi yang hebat. Dalam masyarakat kami, ketika orang merasa sendirian, kekayaan jaringan antarpribadi seseorang dapat membuat perbedaan yang dahsyat dalam kualitas keadaan mendekati kematian seseorang.

2. Menyelesaikan sebanyak mungkin masalah yang belum diselesaikan dalam kehidupan mereka, khususnya dalam hubungan dekat mereka (misalnya, mengungkapkan kasih, atau meminta dan menerima pengampunan orang lain). Ted Rosenthal, seorang konselor, menjelaskan, "Saya pikir orang tidak takut akan kematian. Apa yang mereka takutkan adalah ketidaksempurnaan hidup mereka."

3. Melaksanakan "kerja kedukaan" yang kompleks karena keadaan mendekati kematian, sehingga mereka dapat mencapai pengalaman penerimaan (Kubler-Ross).

4. Memunyai suatu sistem iman, suatu rasa percaya, dan merasa betah dalam alam semesta, memberi suatu arti yang melebihi kehilangan yang berlipat ganda karena keadaan menjelang kematian.

5. Memunyai suatu latar tempat seseorang dapat meninggal dengan bermartabat. Gerakan pembangunan rumah perawatan pasien terminal (hospice) ialah pembangunan yang paling manusiawi dalam tahun-tahun terakhir ini, berkaitan dengan keadaan menjelang kematian. Cicely Sander, seorang dokter Kristen, telah merintis berdirinya rumah perawatan pasien terminal yang pertama pada tahun 1967 yang bernama panti St. Christopher. Panti ini terletak di daerah pinggiran kota London. Sanders mengatakan, sebuah rumah perawatan pasien terminal, baik itu berupa panti asuhan atau bangsal rumah sakit, atau rumah yang dikelola oleh perawat keliling atau oleh staf rumah sakit, bertujuan untuk memampukan pasien agar dapat hidup hingga batas potensi kekuatan fisik, mental, dan emosional, serta hubungan sosialnya.

Program "hospice" memungkinkan pasien terminal meninggal di rumahnya dengan dikelilingi oleh anggota keluarganya. Jadi, dia tidak mati dalam suasana yang impersonal (tak berpribadi), yang merupakan ciri khas dari banyak rumah sakit. Hal ini dimungkinkan karena program hospice ini dengan hati-hati mengurus pasien. Di samping itu, seorang tenaga sukarelawan sering berkunjung untuk memberi dukungan dan pendampingan pada orang yang akan mati dan keluarganya. Sukarelawan yang bekerja dalam rumah perawatan pasien terminal, terus berhubungan dengan keluarga ketika mereka mengerjakan tugas kedukaan mereka sesudah kematian.

Program penggembalaan suatu jemaat, sepantasnya belajar dari dan bekerja sama secara penuh dengan program rumah perawatan pasien terminal setempat, atau berprakarsa membantu kelancaran program semacam itu jika belum ada. Para pendeta sepantasnya mendorong anggota jemaat untuk mengikuti pendidikan rumah perawatan pasien terminal dan berpartisipasi dalam pelayanan ini.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul asli buku: Basics Types of Pastoral Care and Counseling
Judul buku: Tipe-Tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral
Judul asli artikel: Membangun dan Menuntun Suatu Kelompok Penyembuhan Kedukaan
Penulis: Howard Clinebell
Penerjemah: Pdt. B.H. Nababan, DPS
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta 2002
Halaman: 301 -- 302

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Umat Pilihan Allah

Umat Pilihan Allah
Ayub 1:6-12

1:6 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.

1:7 Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."

1:8 Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."

1:9 Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?

1:10 Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.

1:11 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya,ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."

1:12 Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainyaada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmuterhadap dirinya." Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.

Dari tokoh-tokoh Perjanjian Lama, Ayub cukup istimewa, sebab sekalipun ia bukan orang Israel, namun Tuhan sangat mengasihinya. Kisah Ayub dalam Alkitab sangat tua, bahkan menurut para ahli, Ayub sudah hidup sebelum zaman Abraham. Sebetulnya bisa dikatakan semua tokoh sebelum adanya bangsa Israel bukan orang Israel. Ini termasuk Set, Henokh dan Nuh—orang-orang saleh yang diperhatikan Tuhan—yang merupakan nenek moyang orang Israel; tetapi Ayub bukan termasuk dalam garis nenek moyang orang Israel.

Dari kisah kehidupan Ayub yang bukan dalam garis nenek moyang orang Israel, dapat kita temukan bahwa Tuhan mengasihi semua manusia, individu per individu, secara adil. Artinya Ia mengasihi manusia secara pribadi, bukan secara komunitas suatu bangsa atau kelompok. Allah kita bukanlah Allah yang diskriminatif.

Allah itu adil; tidak mungkin Ia mengasihi orang Yahudi secara individu lebih daripada bangsa lain, misalnya orang Cina, India atau Afrika. Namun bukankah orang Israel adalah umat pilihan Allah? Kita harus memahami apa yang dimaksud dengan umat pilihan Allah dengan benar.

Pernyataan Alkitab bahwa bangsa Israel adalah umat pilihan berartisecara komunitas mereka terpilih sebagai bangsa yang dilibatkan dalam rencana penyelamatan umat manusia di seluruh dunia. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yoh. 4:22). Dari bangsa Yahudi, semua manusia di dunia mengenal Allah yang benar, yang menciptakan langit dan bumi. Dalam hal ini bangsa Yahudi terpilih untuk menerima warisan pengenalan akan Allah. Catatan kehidupan bangsa ini dalam bersentuhan dengan Allah menjadi dasar pengetahuan tentang-Nya.

Bangsa Yahudi juga disebut sebagai umat pilihan, sebab dari bangsa itu lahir Mesias, Juruselamat dunia. Ini penting sekali untuk diperhatikan. Memang Anak Allah datang ke dunia melalui bangsa Yahudi dan memberitakan Injil pertama-tama kepada mereka, tetapi keselamatan bukan monopoli milik orang Yahudi. Keselamatan adalah milik semua manusia di muka bumi ini. Ironisnya sebagian besar bangsa itu justru telah menolak Mesias yang sebenarnya mereka sedang nantikan. Itulah sebabnya Alkitab menyatakan bahwa mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena orang percaya, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang (Rm. 11:28). Jadi jangan anggap suatu bangsa lebih daripada yang lain; Tuhan mengasihi semua orang sama dan sejajar secara individu.

Allah adil dan mengasihi semua orang sama dan sejajar secara individu,tanpa memandang suku dan bangsa.

Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

GIZI BAGI JIWA

GIZI BAGI JIWA

Harold Kushner, seorang rabi dan penulis termasyhur, pernah
mengemukakan bahwa pada usia di atas lima puluh, biasanya manusia
mempunyai satu kerinduan khusus, yakni kerinduan akan makna. Ia pun
menanyai dirinya sendiri, "Apa arti dari semua yang kumiliki, apa
arti hidupku?" Ia ingin mendapatkan arti hidup. Demikian pula kurang
lebih perasaan Yakub dalam kisah yang kita baca hari ini.

Yakub telah begitu lama terpisah dengan Yusuf, anak kesayangannya.
Bayangkan, 22 tahun! Dan, selama itu pula ia seolah-olah kehilangan
makna hidup. Saat berjumpa lagi, pertemuan mereka begitu
mengharukan! Yusuf memeluk leher ayahnya dan lama menangis di
bahunya (ayat 29). Pertemuan itu menghadirkan keharuan memuncak,
juga kelegaan yang mendalam bagi Yakub. Katanya, "Sekarang, bolehlah
aku mati setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau
masih hidup ..." (ayat 30). Kembali melihat Yusuf adalah hal yang
menyempurnakan dan "memberi gizi" bagi jiwa Yakub pada masa tuanya.

Ada kalanya hidup seseorang begitu "pahit" sehingga ia melihat
segala sesuatu dengan muram dan suram. Kehilangan, kerinduan akan
sesuatu, harapan yang belum tercapai, masa lalu yang pedih, bisa
menjadi musababnya. Dalam relasi dengan sesama, apakah kehadiran
kita memberikan "nutrisi" atau "gizi" pada jiwa orang lain, sehingga
hidup mereka kembali bermakna? Kita bisa memulainya, setidaknya dari
lingkup terkecil, yakni keluarga. Hadirkan diri di situ. Berikan
perhatian dan kasih yang nyata. Kita dapat menjadi penguat bagi
mereka, agar tegar menghadapi serta mengelola segala kepahitan hidup
yang mungkin menghampiri.

JADILAH PRIBADI YANG SELALU SIAP MEMBERI MAKNA
KHUSUSNYA AGAR ORANG LAIN MERASAKAN HIDUPNYA BERHARGA

Ayat Alkitab: Kejadian 46:28-30

28 Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dahulu mendapatkan Yusuf,
supaya Yusuf datang ke Gosyen menemui ayahnya. Sementara itu
sampailah mereka ke tanah Gosyen.
29 Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan
Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah
leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya.
30 Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehlah aku mati,
setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih
hidup."

www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Lubang Hitam

Lubang Hitam
Mazmur 23

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau   besertaku;gada-Mu dan tongkat-Mu ,itulah yang menghibur aku (Mazmur 23:4).

 

      Perjalanan hidup mantan Presiden B.J. Habibie dan isterinya, Ibu Ainun, ibarat sinetron

Cinta  Fitri yang sampai beberapa episode baru selesai tayang. Setelah Ibu Ainun tiada, bulan Maret 2010, Habibie tiba-tiba merasa

"terperangkap" dalam emosi yang bergejolak. Tim dokternya dari Jerman menasihati agar beliau tidak masuk dalam

black hole, lubang hitam, suatu kondisi

psikosomatis malignan, di mana gangguan emosional berdampak negatif pada sistem organ vital manusia. Nasihat itu ditindak lanjuti dengan menulis buku, katanya:

"Buku ini saya tulis supaya saya tidak tenggelam. Buku ini adalah proses untuk mengembalikan saya pada kehidupan yang normal." Tanpa diduga dalam delapan bulan telah terjual 60.000 eksemplar. Siapa pun bisa masuk ke dalam

black hole, bisa tenggelam dan larut dalam masalah yang dihadapinya.

     Daud pernah mengalaminya. Ketika dalam suasana aman, ia bisa berkata: "

Tuhan adalah gembalaku, Tuhan membaringkan aku,Tuhan menyegarkan jiwaku, Tuhan menuntun aku." Apa yang terjadi ketika Daud harus berjalan dalam lembah kekelaman ? (ayat 4). Apa sikap kita ketika zona aman tiba-tiba berubah tidak nyaman? Padang rumput hijau berubah menjadi kering kerontang tanpa air? Jalan-jalan tertutup, seolah-olah kehilangan Penuntun?

      Hadapilah perobahan hidup ini dengan tetap semangat dan berani mengatasinya.Hindari  untuk tidak masuk dalam lubang hitam, melainkan tetap melihat dengan iman bahwa ada Gembala yang Baik menyertai kita dan menjamin hidup kita. Masih ada gada dan tongkat di tangan Gembala, kekuatan untuk bertahan, dan arah yang jelas untuk mendampingi kita.

      Masih banyak yang tersisa untuk masa depan hidup ini. Manusia paling takut dengan

"masa depan", apalagi masa depan yang suram. Selama masih berjalan di belakang Gembala yang Baik, jangan takut kekurangan. Saatnya akan tiba semua tersedia tepat pada waktunya.  Percayalah dengan iman.

      Berjuanglah terus untuk menjadi pemenang dalam lembah kekelaman. Hanya kepada raja dan imam, Tuhan memberikan urapan di kepala mereka dengan minyak. Hidup Anda juga akan dipenuhi dengan kuasa-Nya yang dari atas untuk tampil sebagai pemenang bahkan  kelimpahan dalam banyak perkara.

      Lubang hitam lembah kekelaman akan terhindar dari hidup ini jikalau kita percaya dan berani berkata:

"Tuhan adalah gembalaku". Kita pasti dituntun -Nya sampai menemukan jalan keluar.  —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

 

Bersama Yesus, Gembala yang Baik, kita akan dibawa untuk mengalami lompatan di atas lubang hitam kekelaman.

www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 22 November 2011

Harta Terpendam

Harta Terpendam

Matius 13: 44-46

13:44. "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.

13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."

Telah tersedia harta kekayaan yang tidak terbatas dalam pengiringan kita kepada Tuhan. Kita harus bekerja terus sampai kita menemukan kekayaan yang terpendam itu. Dalam teks ini, kita dapat melihat bahwa harta itu terkubur di dalam tanah, lalu ditemukan. Tersirat bahwa si peladang sedang bekerja di ladangnya, tanpa menduga bahwa di ladang yang digarapnya tersebut terdapat harta kekayaan yang tak ternilai.

Ini menunjukkan bahwa seseorang tidak akan mengenali kekayaan dalam Injil sebelum berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memburu Tuhan. Setelah ia menemukan kekayaan dalam Kristus, barulah ia bersedia barter, yaitu melepaskan segala sesuatu dan menganggapnya sampah, seperti Paulus (Flp. 3:7–14). Setelah Paulus menyadari betapa hebat kekayaan dalam Kristus Yesus, barulah ia mau melepaskan semua yang baginya dulu merupakan keuntungan atau nilai lebih—ketaatannya kepada hukum Taurat, asal-usul Yahudinya, anggota Farisi, penganut agama Yahudi yang fanatik. Kini semua itu dianggapnya tidak ada harganya; yang diinginkannya hanyalah berusaha untuk mengenali Dia, serta menujukan dirinya untuk mengaishi-Nya dengan segenap hidup.

Rasul Paulus mengatakan bahwa ia mengejar kesempurnaan (Flp. 3:12). Ia tidak merasa puas dengan taraf kehidupan rohani yang sudah dicapainya. Tuhan menghendaki kita memiliki target rohani yang jelas, jadi tentu Ia sedih melihat orang-orang yang tidak berusaha mencapai tingkat kerohanian yang lebih tinggi. Bagaimana perasaan orang tua yang mengharapkan anaknya bisa meningkatkan kualitas diri guna persiapan hidup hari esok, tetapi anaknya menolak dan sibuk dengan segala hal yang tidak berkaitan dengan persiapan menyongsong hari esok?

Waktu yang tersedia sangat singkat, tetapi kalau kita gunakan dengan serius, maka kita akan dapat memperoleh pemahaman-pemahaman baru yang mencengangkan, dan kita akan memahami betapa hebat kekayaan Kerajaan Surga. Keselamatan abadi yang disediakan oleh Tuhan Yesus sampai Ia menyerahkan nyawa-Nya bukan untuk hal-hal fana di dunia yang bisa hilang. Seperti peladang yang melepaskan segala yang dimilikinya untuk bisa memperoleh harta terpendam, marilah kita lepaskan keterikatan dengan dunia agar kita bisa memperoleh kekayaan Kerajaan Surga.

Jika kita memburu Tuhan dengan sungguh-sungguh, kita akan sadar bahwa untuk memperoleh kekayaan dalam Kristus kita layak melepaskan segalanya.

Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 21 November 2011

Empat Cara Untuk Menerima Firman Tuhan

Empat Cara Untuk Menerima Firman Tuhan

Yakobus 1:21b) "Sebab itu, buanglah setiap kebiasaan yang kotor dan jahat. Terimalah dengan rendah hati perkataan yang ditanam oleh Allah di dalam hatimu, sebab perkataan itu mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan kalian."

Jika kita akan diberkati oleh Firman Tuhan, kita harus memiliki hati yang siap menerima.
Dijelaskan dalam Alkitab, Firman Tuhan selalu digambarkan dengan benih.
Ketika Yesus mengatakan perumpamaan tentang penabur, Dia berkata, "Firman Allah adalah benih dan itu ditanam di hati kita" (Lukas 8:11-12).

Sekarang, mengapa memungkinkan untuk mengambil dua benih yang persis sama, menanam keduanya di dua lokasi yang berbeda, namun, mendapatkan benih yang satu menghasilkan lebih banyak dari benih yang lain?
Hal ini karena salah satu benih ditanam di tanah yang siap untuk menerima benih dan yang lainnya ditanam di tanah yang tidak siap.

Jadi, mengapa Anda dapat mengambil dua orang, menempatkan mereka dalam ibadah gereja yang sama -- di mana mereka mendengar pesan yang sama -- namun, satu orang sangat diberkati oleh itu dan orang lain mengatakan dia tidak mendapatkan apa-apa dari itu.
Hal ini karena orang yang satu memiliki hati yang siap yang lainnya tidak.

Yakobus mengatakan ada empat "alat bantu dengar" yang membantu kita menerima Firman Allah:

1. Berhati-hatilah.
"Jadilah cepat untuk mendengar, lambat bicara ..." (Yakobus 1:19)
Kita harus memiliki sikap yang hati-hati.
Banyak dari masalah kita disebabkan karena kita cepat berbicara bukannya cepat untuk mendengar.
Jadilah siap.
Jadilah orang yang memiliki niat untuk menerima Firman Tuhan.

2. Jadilah Tenang.
"Dan lambat untuk marah ..." (Yakobus 1:19) Jadilah tenang jika Anda mau menerima Firman Tuhan dan mau diberkati olehnya.
Sikap tenang meningkatkan penerimaan.
Jika Anda sedang tenang, orang lebih dapat berkomunikasi dengan Anda.
Kita tidak mendengar banyak ketika kita marah, kesal, pahit, atau emosional.
Kepahitan merupakan penghalang, sebuah tembok emosional yang membuat kita sulit untuk mendengar Firman Tuhan.

Beberapa mungkin bertanya, "Kenapa Tuhan tidak pernah berbicara kepada saya?"
Mungkin Anda punya beberapa kekesalan dan kepahitan dalam hidup Anda, yang perlu Anda singkirkan.

3. Jadilah Bersih.
"buanglah setiap kebiasaan yang kotor dan jahat ..." (Yakobus 1:21)
Bila Anda memiliki dosa dalam hidup Anda, itu akan menghalangi pendengaran Anda dan membuat Firman Allah tidak dapat tertanam ke dalam hati Anda.
Dia mengatakan untuk menyingkirkan dosa apapun yang kita tahu ada dalam hidup kita.

Bagaimana kita bisa menjadi bersih?
Oleh pengakuan.
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9)

4. Jadilah Rendah Hati.
"Terimalah dengan rendah hati perkataan yang ditanam oleh Allah di dalam hatimu ..." (Yakobus 1:21)
Jadilah orang yang mau diajar, rendah hati, bersedia untuk berubah.
Jangan bertindak seperti Anda tahu semuanya.
Jika Anda tahu semuanya, Firman Tuhan tidak bisa tertanam dalam hati Anda.


Mikha 1:1-7; Ibrani 7:1-1

Kita harus memiliki hati yang siap untuk menerima Firman Tuhan, supaya Firman yang ditaburkan dapat tertanam dan bertumbuh dalam hati kita.

www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 20 November 2011

LORD KELVIN

WILLIAM THOMSON (LORD KELVIN)
(1824 -- 1907 Ilmuwan, Ahli Fisika)

William Thomson lahir di Belfast, Irlandia, pada tanggal 26 Juni 1824. Dia adalah anak ke-4 dari tujuh bersaudara, anak James Thomson, guru dan penulis buku pelajaran matematika. Ketika William berusia 6 tahun, ibunya meninggal. Tidak lama kemudian, ayahnya menjadi Profesor Matematika di Universitas Glasgow. James Thomson membiayai sendiri pendidikan anak-anaknya dan mengajarkan temuan-temuan terbaru dalam matematika yang belum masuk dalam kurikulum kepada mereka. William dan saudaranya yang lebih tua, James, sangat berbakat. Keduanya masuk Universitas Glasgow pada usia 10 dan 11 tahun. (Seperti William, James kelak menjadi ahli fisika dan insinyur terkemuka, meskipun tidak sehebat adiknya.)

Di Universitas Glasgow, William mempelajari karya kontroversial ahli matematika Perancis, Jean-Baptiste Fourier. Meskipun kebanyakan ilmuwan Inggris menolak karya Fourier, tetapi William menyetujuinya. Bahkan, dia percaya bahwa karya Fourier dapat dilanjutkan, dan matematika yang sama dapat diterapkan pada aliran listrik dan gerakan fluida. Dia juga menerbitkan karya tulis ilmiah -- dua karya tulis, yang berisi alasan-alasan mengapa ia menyetujui pandangan Fourier yang terbit saat ia berusia 16 (karya pertama) dan 17 tahun (karya kedua).

Tahun 1841, ketika berusia 17 tahun, William belajar di Universitas Cambridge. Ia lulus pada tahun 1845 dan memperoleh gelar BA (Sarjana Muda) dengan nilai memuaskan. Pada tahun yang sama, dia mempelajari karya George Green (yang menerapkan matematika pada listrik dan magnetisme) dan karya ahli fisika dan kimia, Michael Faraday (manfaat magnet dalam menciptakan listrik dan bagaimana arus listrik mengeluarkan medan magnetis).

Tahun 1846, saat berusia 22 tahun, Thomson menjadi profesor dalam ilmu fisika (dulu disebut filsafat alam) di Universitas Glasgow. Dia memegang jabatan ini selama 53 tahun, meskipun banyak tawaran untuk mengajar di tempat lain. Ketika Thomson menjadi profesor ilmu fisika, fisika mencakup rentangan topik yang luas dan hampir tidak ada ikatan yang menghubungkan topik-topik tersebut. Namun, dalam karya-karya Fourier, Faraday, dan Green, dia mulai melihat adanya kesatuan. Dia sendiri mampu menentukan secara matematis hubungan antara gerakan fluida dan aliran listrik. Gagasan ini diperolehnya dari karya Fourier, ketika ia masih berusia 16 tahun.

Tahun 1847, untuk pertama kalinya Thomson mendengar karya James Joule mengenai hubungan panas dan gerak mekanis. Asas penyimpanan tenaga dalam karya Joule kelak dikenal sebagai Hukum Termodinamika Pertama. Meskipun Joule diakui sebagai penemu utama termodinamika, Thomsonlah yang "memantapkan termodinamika menjadi disiplin ilmu yang resmi dan merumuskan hukumnya yang pertama dan kedua dengan terminologi yang tepat." [1]

Hukum Termodinamika Pertama menyatakan bahwa tenaga tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, tetapi bentuknya dapat diubah. Artinya, jumlah tenaga/zat di alam semesta adalah tetap. "Hukum ini secara meyakinkan mengajarkan bahwa alam semesta tidak menciptakan diri sendiri! Struktur alam semesta sekarang adalah hasil konservasi, bukan inovasi sebagaimana dinyatakan oleh teori evolusi." [2] Sementara kaum evolusi tidak dapat menjelaskan asal-usul tenaga/zat yang jumlahnya tetap ini, Alkitab bisa menjelaskan, yaitu hanya Allah yang dapat menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Semua perubahan yang terjadi, oleh manusia atau kekuatan alam, adalah penyusunan kembali dari yang sudah ada.

Meskipun banyak ilmuwan Inggris meragukan karya Joule, Thomson mengakui bahwa hal ini cocok dengan pola perpaduan yang mulai muncul dalam fisika. Tahun 1851, Thomson menerbitkan tulisan berjudul "On the Dynamical Theory of Heat", yang mendukung teori Joule mengenai panas dan gerak. Tulisan ini merupakan langkah penting dalam proses perpaduan bagian fisika yang terpisah-pisah. Karya ini juga memuat Hukum Termodinamika Kedua versi Thomson. (Tanpa diketahui Thomson, tahun sebelumnya, ahli fisika Jerman, R.J.E. Clausius sudah mengajukan hukum yang sama dengan Hukum Termodinamika Kedua versi Thomson.)

Hukum Kedua Termodinamika juga disebut Hukum Peluruhan Tenaga. Asas universal yang mendasari hukum ini menunjukkan bahwa semua sistem, jika tidak diprogram sebelumnya atau tidak diatur dengan tepat, cenderung berubah dari keadaan teratur menjadi tidak teratur. Ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, alam semesta berproses terus-menerus menuju kondisi di mana pengaturan semakin berkurang. Namun, evolusi mengandalkan gagasan yang sebaliknya. Ahli biologi evolusionis Inggris yang terkenal, Sir Julian Huxley mengatakan, "Evolusi dalam pengertian luas, dapat diartikan sebagai proses terarah yang pada hakikatnya tidak dapat dibalik lagi, yang terjadi sepanjang waktu, dan menimbulkan perkembangan ragam dan pengaturan yang semakin rumit." [3] Gagasan ini jelas bertentangan dengan Hukum Termodinamika Kedua.

Ringkasnya, hukum termodinamika menunjukkan bahwa "jumlah tenaga di alam semesta tidak berubah, tapi tenaga yang ada senantiasa berkurang." [4] Hukum ini bertentangan dengan pemikiran evolusioner, tapi sepenuhnya konsisten dengan kisah penciptaan Allah pada suatu waktu di masa lampau, yang diikuti oleh degenerasi secara berangsur-angsur menuju ketidakteraturan (perbudakan kebinasaan, seperti tertulis dalam Roma 8:21).

Hubungan panas dan gerak mekanik yang pertama kali diajukan oleh Joule, mendorong Thomson kepada penemuan yang paling menjadikannya terkenal, yakni skala suhu mutlak. Pakar Perancis, Jacques Charles, menyatakan isi gas akan menjadi 0, bila suhu diturunkan sampai -273° (tepatnya -273,15°) pada skala Celsius (sama dengan -459,67° Fahrenheit). Thomson sadar bahwa bukan isi gasnya, melainkan tenaga gerak partikel gaslah yang akan menjadi nol. Artinya, pada -273° Celsius, partikel gas akan berhenti bergerak. Thomson lalu merancang skala suhu baru dengan -273°. Satuan pada skala ini adalah kelvin (dengan lambang K ditulis tanpa tanda derajat [°]), sebagai penghargaan bagi Thomson yang kemudian diberi gelar Lord Kelvin. Thomson selanjutnya menyarankan pemakaian termometer gas untuk memungkinkan pengukuran cermat terhadap suhu yang lebih rendah.

Pemakaian skala suhu mutlak (yang tidak bisa bernilai negatif) kelak sangat membantu ahli fisika matematis Skotlandia, James Clerk Maxwell, dalam karyanya mengenai teori kinetik gas. Sumbangan terbesar Thomson bagi ilmu adalah bahwa "orang yang menonjol di antara ilmuwan Inggris yang jumlahnya sedikit membantu meletakkan dasar fisika modern." [5] Hal ini dilakukannya dengan menunjukkan kaitan antara listrik, magnetisme, panas, gerakan mekanik, dan gerakan gas, serta menunjukkan kerangka matematika umum yang mendasari hasil-hasil eksperimen dalam berbagai bidang fisika ini. Ini adalah perluasan teori yang penting atas karya para ilmuwan besar seperti Fourier, Faraday, dan Joule. Proses perluasan kerangka teori ini kemudian dilanjutkan oleh Maxwell dalam teori cahaya elektromagnetik. Maxwell mengakui utangnya pada Thomson sebagai mentornya.

Bersama ahli matematika dan fisika Skotlandia, Percy Guthrie Tait (juga seorang Kristen yang tulus), Thomson menulis buku pelajaran fisika agar dapat meneruskan kerangka teoretisnya kepada para ahli fisika kelak. Dia juga menerbitkan lebih dari 600 karya ilmiah.

Tahun 1844, Samuel Morse sukses memperagakan mesin telegrafinya. Tapi apakah temuan ini dapat dipakai untuk komunikasi antarbenua dengan memakai kabel bawah laut? Ternyata usaha Morse untuk memperagakan telegrafinya lewat kabel bawah laut gagal. Mathew Maury, seorang oseanograf Amerika Serikat dan William Thomson adalah orang yang mendukung gagasan Morse. Thomson menjadi konsultan kepala pada Atlantic Telegraph Company dan turut serta pada tahap awal pemasangan kabel itu. Thomson menciptakan alat penerima telegram yang disebut galvanometer cermin untuk digunakan bersama kabel di bawah laut. Tapi ia tidak sependapat dengan kepala kelistrikan perusahaan, E.O.W. Whitehouse, mengenai rancangan kabelnya. Perusahaan mulanya memakai gagasan Whitehouse, tapi kemudian menyadari bahwa rancangan Thomson lebih baik. Akhirnya, rancangan Thomson dipakai untuk kabel dan pemakaian galvanometer cermin. "Dengan berbuat demikian, perusahaan menghemat waktu dan biaya." [6]

Penemuan kabel transatlantik merupakan terobosan besar dalam dunia komunikasi. Sebagai penghargaan atas sumbangan Thomson untuk keberhasilan proyek itu, Ratu Victoria menghadiahkan gelar bangsawan kepadanya tahun 1866. Namanya menjadi Sir William Thomson. Kemudian dia menjadi mitra dalam perusahaan-perusahaan teknik mesin yang terlibat dalam perencanaan dan pembuatan kabel-kabel di bawah laut lainnya. Setelah keberhasilan pemasangan kabel transatlantik, galvanometer cermin -- pencatat perpindahan pipa (siphon) -- yang telah dimodifikasi Thomson dipakai di hampir semua kabel bawah laut di seluruh dunia.

Selama hidupnya, Thomson memperoleh hak paten untuk sekitar tujuh puluh temuannya, termasuk beberapa alat listrik untuk kabel bawah laut. Thomson juga merupakan anggota kunci dari komite Inggris untuk penggunaan perangkat satuan listrik, dan ini kemudian diterima secara internasional. Thomson juga berhasil dalam merekacipta kompas kapal jenis baru yang hampir tidak terpengaruh oleh besi kapal. Setelah itu dia menciptakan alat peramal pasang surut laut yang dapat memperkirakan tingginya permukaan laut di suatu pelabuhan. Dia juga menciptakan alat pengukur kedalaman laut.

Thomson sangat menentang gagasan geologi uniformitarian Charles Lyell dan teori evolusi Charles Darwin. (Uniformitarianisme berpendapat bahwa bentukan-bentukan geologis merupakan hasil kekuatan biasa yang terjadi selama waktu yang tak terhingga lamanya.) Tahun 1865, Thomson menerbitkan tulisannya berjudul "The Doctrine of Uniformity in Geology Briefly Refuted". Penolakan Thomson terhadap uniformitarianisme dan evolusi ditegakkan di atas dasar-dasar ilmu dan kekristenan. Thomson mengatakan, "Kehidupan di bumi pasti tidak terjadi oleh tindakan kimiawi atau listrik atau pengelompokan kristal molekul-molekul. Kita harus merenung, menyelami misteri dan keajaiban Penciptaan segala makhluk." [7] Dia berdebat dengan Thomas Huxley, Presiden Geological Society of London mengenai bukti ilmiah uniformitarianisme dan evolusi. (Huxley dikenal sebagai "anjing buldog Darwin" karena kegigihannya mempertahankan gagasan Darwin.)

Perdebatan berkepanjangan antara Thomson dan Huxley, berawal ketika Thomson menghitung usia maksimal bumi berdasarkan hukum termodinamika. Tahun 1862, Thomson mengalkulasi, jika bumi terbentuk melalui proses pendinginan masa yang meleleh, sebagaimana anggapan umum, maka menurut hukum termodinamika, bumi tidak mungkin berusia lebih dari 100 juta tahun. (Ini adalah batas atas berdasar hukum fisika, bukan berdasarkan kepercayaan Thomson.) Kalkulasi ini jelas berlawanan dengan waktu yang diperlukan untuk proses evolusi yang lamban, seperti gagasan Darwin. Thomson ingin menunjukkan bahwa teori geologi dan biologi seharusnya tidak bertentangan dengan teori fisika yang sudah diakui.

Ketika radioaktivitas ditemukan menjelang akhir hidup Thomson, para lawannya menyatakan bahwa temuan ini menggagalkan kalkulasinya mengenai usia maksimal bumi. Meskipun benar bahwa panas radioaktivitas memang mengubah kalkulasi tersebut, Thomson kemudian membuat kalkulasi lagi dengan memperhitungkan panas radioaktivitas. Sampai menjelang ajalnya, Thomson masih terlibat dalam kontroversi mengenai perhitungan usia maksimum bumi berdasarkan efek radioaktivitas. (Dalam tulisan singkat berjudul "Evidence for a Young World", ahli fisika, Dr. Russel Humphreys, membahas 15 ranah bukti ilmiah yang menentang kerangka waktu evolusi. [8])

Selama hidupnya, Thomson menerima 21 gelar doktor kehormatan. Tahun 1851, dia diterima sebagai "Fellow of the Royal Society" -- asosiasi Inggris paling bergengsi untuk para ilmuwan. Dia menjabat Presiden Royal Society dari tahun 1890-1895. Tahun 1892, Thomson diberi gelar Baron Kelvin dari Largs oleh Ratu Victoria. Sejak itu, dia lebih dikenal sebagai Lord Kelvin ketimbang Sir William Thomson. Lord Kelvin meninggal di Largs, Ayrshire, Skotlandia, tanggal 17 Desember 1907. Dia mendapat kehormatan besar untuk dimakamkan di Westminster Abbey di London.

Iman Kelvin sangat teguh. Dia percaya bahwa alam memberikan banyak bukti yang mendukung imannya. "Di sekeliling kita berlimpah-ruah bukti mengenai adanya rancangan yang cerdas dan penuh kebajikan... gagasan ateis sangat tidak masuk akal, sehingga saya tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata." [9] Kelvin tidak melihat pertentangan antara ilmu dan Alkitab. Bahkan, dia mengatakan bahwa "mengenai asal-usul kehidupan, ilmu... memastikan adanya kekuasaan yang kreatif." [10]

Pustaka Acuan

1. H.M. Morris, Men of Science, Men of God, Master Books, Colorado Springs, 1982, hlm 63.
2. S.M. Huse, The Collapse of Evolution, Baker Books, Grand Rapids (Michigan), 1983, hlm 59.
3. J. Huxley, Evolution and Genetics, Bab 8 dalam What ia Science?, J.R. Newman (red.), Simon & Schuster, New York, 1955, hlm 278.
4. H.M. Morris, The Scientific Case for Creation, Master Books, Colorado Springs, 1977, hlm 14.
5. Encyclopaedia Britannica, edisi ke-15, 1992, jld 22, hlm 503. 6.
6. ibid, hlm 505.
7. Thomson dikutip dalam:
D.C.C. Watson, Myths and Miracles - A New Approach to Genesis 1-11, Creation Science Foundation, Acacia Ridge (Queensland, Australia), 1988, hlm 113.
8. D.R. Humphreys, Evidence for a Young World, Creation Science Foundation, Acacia Ridge (Queensland, Australia).
9. W. Thomson, Journal of the Victoria Institute, jld 124, hlm 267.
10. Thomson dikutip dalam Morris (Acuan 1), hlm 66.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul asli buku: 21 Great Scientists Who Believed the Bible
Judul buku: Para Ilmuwan Mempercayai Ilahi
Judul artikel: William Thomson (Lord Kevin) 1824 -- 1907
Penulis: Ann Lamont
Penerjemah: Lillian D. Tedjasudhana
Penerbit: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF Jakarta
Halaman: 214 -- 226
www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®