Jumat, 18 November 2011
Jangan Menunggu
1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.
2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.
3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.
4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan...
5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tâÞi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.
6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis. tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.
8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai,maka kamu akan dicintai.
9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah,. bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.
10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah,maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.
11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur. tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.
12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!
Dan...Jangan menunggu lama lagi untuk membagikan tulisan ini kepada semua orang yang anda kenal...sehingga kita semua tersadar...
Life is beautifuLL if we can enjoy it with ourseLf.....♡(∩_∩)
Berilah & Tuailah Terlebih Dahulu, Maka Kau akan Menuai ber-Kelimpahan:) :)
┏┉┄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┉┓ (*) ┆Ǧ̩ọƌ̲̣ß̍Ŀε̲̣ƨ̣̇ƨ̣̇ϔọυ̲̣ ({}) ☆ └┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈ ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶
www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®
Selasa, 15 November 2011
BUKAN REMISI
Seorang narapidana memperoleh remisi, antara lain karena ia
dianggap berkelakuan baik selama berada di dalam penjara. Kebaikan
membuahkan pengurangan hukuman. Anugerah Allah bekerja sebaliknya.
Dia mencurahkan anugerah justru karena kita durhaka dan tidak mampu
memperbaiki diri dengan kekuatan sendiri.
Daud sangat menyadari hal ini. Ketika berzina dengan Batsyeba, ia
sedang berada di puncak kejayaan sebagai raja Israel. Bangsanya
mengenalnya sejak ia menjadi pahlawan kecil yang secara mengejutkan
menumbangkan raksasa Goliat. Selanjutnya ia memimpin pasukan Israel
ke dalam berbagai kemenangan sehingga ia dielu-elukan oleh rakyat.
Ketika akhirnya menjadi raja, ia juga mencatat prestasi mengesankan:
mengembalikan tabut Allah yang dirampas bangsa Filistin ke
Yerusalem, meraih sekian banyak kemenangan militer, dan menunjukkan
kebaikan yang tulus kepada Mefiboset.
Namun, saat bertobat dari dosanya, ia tidak mengutip satu pun
pencapaian itu sebagai senjata untuk "merayu" Allah agar mengurangi
hukuman-Nya. Sama sekali tidak. Menarik dicatat pula, ia hanya
berseru, "ya Allah" bukan "ya Allahku". Ia menyadari betapa parah
dosa merusak hubungannya dengan Allah. Maka, ia hanya meminta belas
kasihan, kasih setia, dan rahmat Allah Yang Mahabaik. Kebaikannya
selama ini tidak berguna untuk meringankan dosa; hanya anugerah
Allah yang sanggup mengampuni dan menebusnya.
Anda bergumul dengan suatu pelanggaran, dan merasa harus melakukan
perbuatan baik tertentu untuk menebusnya? Berhentilah bergumul
seperti itu. Ikutilah teladan pertobatan Daud.
DOSA TIDAK DAPAT DIRINGANKAN OLEH PERBUATAN BAIK
NAMUN DAPAT DIHAPUSKAN OLEH ANUGERAH ALLAH
Mazmur 51:1-8
1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, (51-2) ketika nabi
Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. (51-3)
Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah
pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!
2 (51-4) Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan
tahirkanlah aku dari dosaku!
3 (51-5) Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku
senantiasa bergumul dengan dosaku.
4 (51-6) Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah
berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata
Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.
5 (51-7) Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam
dosa aku dikandung ibuku.
6 (51-8) Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin,
dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.
7 (51-9) Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku
menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari
salju!
8 (51-10) Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah
tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Setiap Orang...
(2Mak 7:26-31; Luk 19:11-28)
" Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan
kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku." Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem." (Luk 19:15-28),
· Semakin orang memiliki banyak pekerjaan/fungsi/jabatan pada umumnya juga akan semakin bekerja keras: efisien, efektif dan afektif dalam menggunakan waktu dan tenaga, sehingga menghasilkan 'buah pekerjaan maupun keterampilan' yang memperkaya dirinya maupun orang lain. Sebaliknya orang yang hanya memiliki satu pekerjan/fungsi/jabatan sering dengan seenaknya melaksanakan tugasnya atau fungsi/jabatannya. Pada hari-hari terakhir dalam kalendarium/tahun Liturgi ini kita diajak uutuk mawas diri: sejauh mana kita telah menumbuh-kembangkan iman, keterampilan, bakat atau aneka macam anugerah Tuhan dalam rangka "meneruskan perjalanan ke Yerusalem", artinya menuju akhir hidup kita, sewaktu-waktu kita dipanggil Tuhan. Dengan kata lain: apakah kita semakin suci, semakin baik dan berbudi pekerti luhur, semakin berbakti kepada Tuhan dengan rendah hati, sebagaimana pepatah mengatakan 'tua-tua keladi/bulir padi semakin berisi akan semakin menunduk'.
Kami percaya bahwa umur kita bertambah, kesejahteraan hidup secara ekonomis juga bertambah, namun apakah juga semakin beriman, suci, rendah hati, baik dan berbudi pekerti luhur kiranya boleh dipertanyakan. Kita semua diharapkan menjadi 'hamba-hamba yang baik', yang senantiasa berbuat baik kepada siapa pun dan di mana pun.
· "Aku mendesak, ya anakku, tengadahlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatunya yang kelihatan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan kesemuanya itu dari barang yang sudah ada. Demikianpun bangsa manusia dijadikan juga. Jangan takut kepada algojo itu. Sebaliknya, hendaklah menyatakan diri sepantas kakak-kakakmu dan terimalah maut itu, supaya aku mendapat kembali engkau serta kakak-kakakmu di masa belas kasihan kelak." (2Mak 7:28-29), demikian kata seorang ibu kepada anaknya yang akan menerima hukuman mati karena kesetiaan imannya. Kata-kata di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita sebagai umat beriman atau beragama ketika karena kesetiaan dalam penghayatan iman harus menghadapi aneka macam ancaman, masalah maupun hambatan. Ingatlah dan hayatilah bahwa kita pernah tidak ada sama sekali dan keberadaan kita sampai saat ini merupakan anugerah atau karya Tuhan. Maka segala sesuatu yang ada di dunia ini,
termasuk tubuh kita, sungguh bersifat sementara, hidup kita hanya sementara, sebagaimana dikatakan dalam pepatah Jawa bahwa 'urip iku koyo wong mampir ngombe". Memang karena hanya sementara ada dua kemungkinan orang menyikapinya, yaitu hidup seenaknya menuruk keinginan pribadi dan berpesta pora atau bekerja keras tanpa kenal lelah seraya membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah. Tentu saja sebagai umat beriman atau beragama kita diharapkan memilih yang kemudian itu, yaitu bekerja keras tanpa kenal lelah seraya membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah. Maka marilah kita mawas diri apakah kita semakin membaktikan sepenuhnya kepada Allah dengan mengerahkan waktu dan tenaga kita sepenuhnya pada penghayatan panggilan, pelaksanaan tugas pengutusan atau kewajiban, apakah kita semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia dimana pun dan kapan pun.
"Langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidak goyang. Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku."
(Mzm 17:5-6)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
BAGAIMANA MENDAMPINGI ORANG SAKIT YANG MENJELANG AJAL
Dokter perlu memberitahukan kepada pihak keluarga, bahwa pasien sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lebih lama lagi. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan keluarga dan pasien itu sendiri. Jika pihak keluarga tidak diberi tahu mengenai keadaan pasien yang sebenarnya dan akhirnya sang pasien meninggal, maka dokter bisa saja disalahkan oleh pihak keluarga. Dokter tidak perlu menutupi keadaan pasien, jika memang yang bersangkutan sudah tidak bisa ditolong. Setelah mendiagnosis dan kelihatannya tidak ada harapan, sebaiknya dokter memberitahukan kebenarannya.
Biasanya, reaksi pertama dari keluarga pasien adalah bingung dan mungkin tidak percaya. Mereka akan mencoba untuk bertanya lagi kepada dokter yang lain atau berobat ke tempat lain. Namun demikian, dokter sebaiknya tetap berusaha menjelaskan hasil pemeriksaan sedetail mungkin, dengan bahasa awam supaya dapat dimengerti.
Di satu sisi, ada keluarga yang memang tidak siap untuk menerima kenyataan seperti itu. Mereka pun berpikir, "Masa suami saya atau istri saya itu harus pergi secepat itu?" Tapi kalau kenyataannya seperti itu, kita harus bisa memberikan penjelasan secara kedokteran atau secara ilmiah. Pasien juga harus diberi tahu karena dia yang memunyai tubuhnya. Dalam kode etik di Indonesia, seharusnya pasien dulu yang berhak tahu. Tapi pada kenyataan atau praktiknya, keluarga yang minta agar si pasien jangan diberi tahu. Dalam kondisi seperti ini, disarankan agar pasien tetap diberi tahu, karena dialah yang memiliki tubuhnya sendiri. Tentu saja dengan memilih waktu yang tepat, setelah hati si pasien disiapkan, dan dengan pendekatan yang baik.
1. Sebagai keluarga yang dekat dengan pasien, entah sebagai suami, istri, atau anak, kita terlebih dahulu harus bisa menerima keadaan.
2. Mengenai obat, biasanya kalau untuk meringankan rasa sakit (penstillen) si pasien pasti mau.
3. Untuk penyakit yang tergolong berat, kalau bisa pihak keluarga mendampingi sepanjang waktu. Pasien membutuhkan pendampingan terutama dari orang yang dia kasihi dan orang yang paling berarti, terutama pada saat-saat terakhir.
4. Beberapa cara untuk menolong orang yang menderita penyakit yang makin lama makin parah. Kalau dia orang Kristen, kita tetap bisa mendoakan dengan bersuara, bisa pegang tangannya, menyanyi untuk dia, dan membacakan firman Tuhan untuknya. Jadi, dia masih merasakan bahwa kita ini masih memerhatikan, dengan begitu dia akan dibangkitkan kembali.
5. Kalau ada anggota keluarga yang koma, mungkin kita sulit menghadapinya. Bagaimana kita berkomunikasi dengan orang yang koma? Sebetulnya kalau jantungnya masih berdetak, kita bisa membisikkan dan mengucapkan sesuatu yang mungkin masih bisa didengarnya atau diresponinya. Saat koma, pasien biasanya tidak bergerak, hanya reaksi pupil terhadap cahaya masih bagus. Tapi kalau jantungnya sudah tidak berdetak, dipasang alat bantu pun percuma. Kalau keadaan pasien sudah makin kritis, biasanya keluarga akan dipanggil untuk hadir, ini sangat berpengaruh pada dirinya. Karena si pasien akan merasakan dia tidak sendiri, bagi orang yang akan meninggal, yang paling sulit itu dia akan meninggalkan dunia ini sendirian. Kita harus mengingat, Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Meskipun dokter mengatakan tidak ada harapan, kita tetap bersandar penuh pada Tuhan. Jadi, kita harus mencoba yang terbaik yang bisa kita lakukan, meskipun membutuhkan biaya yang banyak untuk merawat orang yang kita kasihi. Ada banyak pasien yang oleh dokter dikatakan tidak ada harapan, tapi sembuh karena Tuhan menyatakan mukjizat.
6. Kita bisa tahu bahwa pasien itu benar-benar sudah meninggal, misalnya dengan memeriksa nadinya sudah tidak ada, atau dari pupil matanya biasanya kalau sudah meninggal pasti melebar.
Biasanya kalau pasien akan meninggal dunia, seorang dokter Kristen akan mengingatkan kembali tentang Kristus yang mati di kayu salib untuk menebus dosa. Juga berita Injil tentang rumah Bapa di surga.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs: TELAGA.org
Alamat URL: http://telaga.org/audio/bagaimana_mendampingi_orang_sakit_yang_menjelang_ajal
Judul transkrip: Bagaimana Mendampingi Orang Sakit yang Menjelang Ajal (T035B)
Penulis: Dr. Yanti & Dr. Vivian Andriani Soesilo
Tanggal akses: 10 Agustus 2011
Powered by Telkomsel BlackBerry®
PERLAWATAN ORANG SAKIT
Orang sakit kerap kali berkeluh kesah, lebih-lebih kalau sakitnya sudah cukup lama. Yang cukup berat, kalau kondisi tubuhnya merosot pelan-pelan. Karena itu, keluh kesah, kekecewaan, putus asa, marah, tidak mau lagi berdoa, menumpuk menjadi satu. Tidak hanya yang sakit yang mengalami hal itu, tetapi juga keluarganya. Kemungkinan besar, mereka pun ikut hanyut dalam situasi itu.
Salah satu bentuk konseling pastoral kepada mereka yang sedang dalam kelemahan fisik atau sakit adalah melakukan perlawatan pastoral kepada mereka, baik yang dirawat di rumah maupun di rumah sakit. Inti perlawatan pastoral adalah kita menjadi teman bagi orang yang sedang sakit dan menjadi rekan bagi keluarga pasien. Bantuan-bantuan yang bisa kita berikan adalah sebagai berikut:
1. Kunjungan Penyembuhan.
Maksudnya melakukan suatu fungsi penyembuhan "holistik", dalam bentuk kesediaan kita untuk duduk di samping pasien dan mendengarkan dia mengungkapkan perasaan, keluhan, kemarahannya di hadapan kita. Singkatnya, kita menjadi media katarsis baginya atau tempat "mencurahkan hati" dari berbagai keluh-kesahnya.
2. Penguatan.
Maksudnya mendampingi pasien atau keluarga yang merasa mendapat "beban", supaya mereka tidak mengalami stres berkepanjangan. Misalnya: bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan pasien yang menjadi tidak percaya diri pascaamputasi kakinya karena kecelakaan lalu lintas? Setelah amputasi biasanya pasien merasa tidak sempurna/cacat dan tidak bersemangat/bergairah menjalani hidup. Untuk itu, kita harus mendorongnya untuk bangkit lagi supaya tetap memiliki pengharapan. Atau, bagaimana kita harus mendampingi seorang ibu yang dihantui oleh rasa bersalah/berdosa terus-menerus setelah melakukan aborsi, padahal dia melakukannya demi keselamatan nyawanya, karena ia mengidap penyakit lever. Contoh lain: bagaimana kita harus bersikap ketika mendampingi pasien yang mengalami penyakit terminal, yang merasa cemas dalam menjalani hari-harinya dalam ketidakpastian, atau yang ketakutan karena fakta kematian terbentang di hadapannya.
3. Pembimbingan.
Melakukan penelaahan bersama (dengan pasien atau keluarganya) dengan tujuan memahami kasus-kasus yang dialami pasien, yang biasanya tidak ada hubungan dengan rumah sakit sekalipun, tetapi tetap perlu dibantu untuk ditangani. Contoh: konseli yang mengalami perceraian, hamil di luar nikah (dan ingin melakukan aborsi), dll.. Kehadiran kita sangat bermanfaat untuk membantu konseli dalam melihat konsekuensi-konsekuensi untuk mengadakan pertimbangan-pertimbangan moral.
4. Rekonsiliasi (Memperbaiki Hubungan).
Pasien kerap kali memunyai perasaan telah menjadi beban bagi keluarganya, dan keluarga sendiri sering merasa bosan mendengar keluhan tersebut. Akibatnya, terjadi kerenggangan hubungan di antara pasien dan keluarganya. Untuk itu, pelayan perlawatan pastoral berperan sebagai media yang dapat "menyambung hati" antara kedua kubu tersebut. Kasus lain: pasien pengidap TBC, lever, AIDS, dan penyakit kelamin, kerap kali menjadi rendah diri (karena tahu penyakitnya itu termasuk kategori menular atau susah sembuh), maka pelayan perlawatan "Pastoral Care" perlu membantu pasien agar dapat memiliki kepercayaan diri lagi.
Kemampuan Mendengarkan
Syarat utama agar kita dapat menjalankan perlawatan pastoral adalah kemampuan mendengarkan pasien/konseli. Berikut ini, enam syarat yang harus dimiliki agar dapat mendengarkan secara efektif (bdk. Tulus Tu'u, Dasar-dasar Konseling Pastoral, Yogyakarta: Andi Offset, 2007).
1. Menatap wajah lawan bicara sebaik-baiknya. Perlu melakukan kontak mata, supaya orang yang diajak bicara merasa yakin sungguh didengarkan.
2. Menunjukkan minat. Maksudnya kita nampak antusias terhadap persoalan yang tengah diceriterakannya.
3. Memberi perhatian terhadap lawan bicara, tidak sibuk sendiri dengan HP atau kegiatan lain. Singkatnya menyingkirkan segenap gangguan yang ada.
4. Memahami segenap gejolak perasaan yang dialami oleh lawan bicara.
5. Berempati (memiliki keinginan dan kemauan pendengar untuk berada atau masuk dalam situasi/kondisi yang dialami lawan bicara).
6. Bersikap sabar, tenang, dan ramah, saat memberikan masukan/umpan balik.
Lawatan pastoral sangat penting sebagai tanda keprihatinan, kasih, dan perhatian kepada anggota dan keluarga yang sedang bergumul itu. Kalau sakit masih agak baru, mungkin banyak orang yang ikut menengok; tetapi kalau sudah cukup lama, semakin jarang orang melawatnya. Oleh karena itu, gereja sebaiknya memiliki program untuk melawat orang-orang sakit ini. Mereka sangat membutuhkan kasih dan perhatian. Tidak perlu berbicara panjang lebar. Tidak perlu nasihat. Cukup harapan, peneguhan, doa, dan membaca firman Tuhan.
Dirangkum dari:
1. Tu'u, Tulus. 2007. "Dasar-dasar Konseling Pastoral". Yogyakarta: Penerbit ANDI
2. _________. "Pastoral Care terhadap Orang Sakit". Dalam: http://igna.wordpress.com/2009/03/18/pastoral-care-terhadap-orang-sakit/
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Mujizat Keluarga
"Sesungguhnya keluarga kita adalah sebuah mujizat. Boleh dikatakan, keluarga adalah pemberian terindah dari semua yang kita miliki. Orangtua pemberi hidup, anak milik pusaka dan istri adalah kasih karunia. Di dalamnya kita dilahirkan, dibesarkan dan mengenal kasih dan menikmati Anugerah" (JS)Pernahkah Anda membayangkan bagaimana Tuhan mempertemukan pria dan wanita, lantas menumbuhkan cinta di antara mereka? Pernahkah anda perhatikan Tiap pasangan memiliki cara masing-masing sehingga mereka akhirnya saling tertarik dan ingin selalu bersama seumur hidup.
MUJIZAT
Perkawinan adalah mujizat Allah yang terdiri atas anugerah, pemberian, dan penghiburan Ilahi. Kehadiran Tuhan dalam pernikahan dan keluarga kita membuat hidup sungguh bermakna.
Pernikahan yang berbahagia memiliki aspek pertumbuhan di dalamnya. Pria dan wanita yang berasal dari planet berbeda ini berusaha hidup bersama, saling memahami, belajar mengampuni, dan bertumbuh. Lewat suka dan duka, untung dan malang. Bukankah itu semua tidak terjadi jika mereka tidak hidup bersama dalam ikatan berkawinan?
Anak-anak yang lahir dalam sebuah pernikahan juga mujizat. Mereka tidak hadir secara kebetulan. Ada maksud Allah yang Mahatinggi dalam tiap keluarga.
Orangtua kita adalah suatu anugerah mujizat. Bahkan hidup dan dibesarkan dalam sebuah keluarga juga sebuah mujizat. Tidak ada yang kebetulan dari kelahiran kita.
Bayangkan, bagaimana sepasang ayah-ibu belajar mengandalkan Tuhan dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka! Alangkah tidak mudahnya mendidik anak di era ini. Betapa kita membutuhkan mujizat Allah agar anak-anak kita dapat mengerti rencana Allah dalam hidup mereka! Bergantung pada anugrahNya setiap hari.
DINAMIS
Dinamika yang terjadi dalam sebuah perkawinan bukan saja mengubah sistem keluarga, tetapi yang terutama adalah menumbuhkan orang-orang yang ada di dalam institusi itu. Seperti kesaksian seorang Istri tentang suami dan perkawinannya.
"Kamu mengenalkan aku pada apa yang dinamakan cinta," kata seorang wanita tentang pasangan hidupnya.
"Sebelum bertemu kamu, aku tertarik pada beberapa pria, tetapi sulit mengatakan bahwa aku mencintai mereka seperti perasaan yang aku miliki terhadapmu. Cintaku tumbuh diawali oleh adanya rasa aman waktu berjalan bersamamu. Aku suka humormu, sikap melindungi dan perasaan istimewa yang kau hadirkan. Denganmu, aku menjadi wanita." Perkawinan itu membangun rasa percaya dan menerima orang lain apa adanya.
"Perubahan berikutnya yang terjadi dalam diriku adalah aku belajar mempercayakan diri dan masa depanku pada seorang pria yang sebenarnya aku tidak terlalu kenal," kata wanita itu setelah membiarkan angan-angannya sejenak berkelana.
"Aku rasa itu sebabnya banyak kerikil tajam dan batu besar yang kita hadapi pada awal mulanya. Kalau aku ingat sekarang, aku heran juga bagaimana kau mau hidup dengan seorang wanita yang bossy, hampir tidak betah di rumah, dan hanya sedikit punya keinginan mengurus rumah. Lagipula, belum tentu aku bisa memberimu anak, berhubung adanya pendapat dokter tentang kandunganku. Tetapi kamu tidak meninggalkan aku dan sedia menghadapi risiko itu. Denganmu, aku diterima apa adanya."
Salah satu hal penting yang kita pelajari dari pernikahan adalah mendorong orang yang kita cintai ke sebuah perubahan yang lebih baik.
Si wanita itu bersaksi lagi:
"Suamiku memang luar biasa. Dia tahu, istrinya suka membaca dan menulis. Lama-lama suamiku menyadari bahwa hobi ini sekedar untuk menutupi rasa aman palsu, karena dengan demikian aku tidak perlu menjalin hubungan dengan orang lain. Dia menerima aku apa adanya"
Dia melanjutkan: "
"Suamiku melihat bahwa istrinya memiliki beberapa keistimewaan yang masih bisa berkembang. Suamiku memberi arti yang berbeda tentang hobiku. Dia menolong aku untuk menuliskan masalah yang kami hadapi sehingga menjadi bahan pembelajaran bagi orang lain. Ini hal baru buatku karena untuk melakukannya aku harus berhubungan dengan manusia. Ternyata, rasa aman di zona nyamanku ini perlu kubagi dengan orang lain."
HARMONIS
Apakah artinya saling menghargai? Bagi beberapa orang istilah ini diartikan sebagai tidak melakukan kekerasan terhadap anak dan pasangan, saling menolong, tidak melecehkan.
Tetapi pernikahan memberi arti baru pada kata saling menghargai dan hidup harmoni, yaitu siap menanggung kesalahan pasangan dan tidak membiarkan pasangannya merasa malu di depan orang lain. Ortu menjadi pembela anak. Tidak hanya peduli pada anak yang aik-penurut, tetapi juga pada "anak yang hilang", anak yang menjengkelkan.
Keluarga menjadi Harmonis dengan cara menjalankan fungsi sebagai Ayah, Ibu, Anak, Suami dan istri dengan sebaik-baiknya. Seimbang antara menjalani kehidupan karir dan keluarga.
KATARSIS
Keluarga juga tempat paling asyik kita bisa ngobrol apa saja, curhat pada orangtua saat ada masalah dari sekolah. Idealnya suami menjadi tempat curhat istri, saat ada sakit di hati. Istri tempat suami bercerita seelah seharian berjuang di kantor.
Dalam istilah Freud, keluarga menjadi tempat kita katarsis. Boleh ngomong atau curhat apa saja yang mengganggu emosi kita. Karena itu anggota keluarga yang baik, perlu belajar menjadi pendengar yang baik, bersedia menjadi "keranjang sampah" bagi yang lain. Jika tidak, jangan heran anak atau pasangan kita mencarinya di tempat lain.
SUMBER RASA SYUKUR
Mengapa pernikahan itu anugerah istimewa yang selalu patut kita syukuri?
Pertama, pernikahan adalah inisiatif Tuhan sendiri. Dia membentuk manusia pertama, Adam dan memberikan Hawa menjadi istrinya. Allah memberi mereka mandat budaya untuk mengelola bumi ini. (Kej.1:26)
Kedua, keluarga adalah tempat lahir dan dibesarkannya orang-orang besar dan berguna. Para tokoh, pejuang, pahlawan, pemimpin dan pelayan masyarakat juga lahir dari sebuah keluarga. Dalam anugerah-Nya Tuhan memilih. Kita boleh jadi orang biasa saja saat ini. Tapi Kita belum tahu bagaimana kelak keadaan anak-cucu kita. Seratus, empat ratus tahun mendatang, bisa saja lahir orang yang Dia pakai memberkati bangsa ini dari keturunan kita.
Ketiga, perkawinan Itu bersifat "trialog". Tuhan hadir di dalam relasi suami-istri, Orangtua dan anak. Semua melibatkan Tuhan dalam komunikasi mereka. Firman-Nya menjadi tolok ukur, standar nilai-nilai keluarga di tengah tantangan limpahnya media, internet dan sebagainya.
Keempat, pasangan suami dan istri akan menjadi ayah dan ibu. Ini merupakan jabatan istimewa, posisi yang tak tergantikan. Banyak orang dapat menggantikan tugas kita sebagai guru, pembicara, atau direktur perusahaan. Tetapi tidak seorang pun yang dapat menjadi ayah dan ibu bagi anak-anak kita, menggantikan posisi suami bagi istri kita atau menjadi istri bagi suami kita.
Kelima, beberapa penelitian membuktikan, bahwa perkawinan yang sehat dapat menjadi pemulihan hidup dari trauma masa lalu. Keluarga yang intim menjadi benteng stres kehidupan, menjadikan hidup orang yang menikmatinya, sehat serta produktif.
Keenam, fungsi-fungsi dalam keluarga berdampak kekal. Kelak, di hari penghakiman-Nya kita semua berdiri dihadapan Tuhan Hakim yang Adil. termasuk anak dan pasangan kita. KIta perlu menyiapkan keluarga kita untuk menghadapi kekekalan. Semoga kita tidak disibukkan hanya untuk kekinian, sampai lupa keluarga.
PENUTUP
Boleh dikatakan, keluarga adalah pemberian terindah dari semua yang kita miliki. Orangtua pemberi hidup, anak milik pusaka dan istri adalah kasih karunia. Di dalamnya kita dilahirkan, dibesarkan dan mengenal kasih dan menikmati Anugerah-Nya. Soli Deo Gloria
"Julianto Simanjuntak"
Powered by Telkomsel BlackBerry®
TUJUH KUNCI UNTUK MENDORONG PERTUMBUHAN
1. Mengembangkan Lingkungan yang Mendukung.
Hal terbaik yang perlu dikembangkan dalam mendisiplin anak ialah menjaga agar anak-anak kita tetap berkembang secara sehat. Selain itu, kita mesti memanfaatkan setiap kesempatan untuk bisa mendorong mereka. Yang dimaksud lingkungan yang mendukung ialah lingkungan di mana anak-anak kita tahu mereka berharga di hadapan Allah dan di hadapan kita sebagai orang tua; lingkungan di mana kita dapat memberi lebih banyak waktu untuk membangun dan mendorong mereka, bukannya memarahi dan menyalahkan mereka; lingkungan di mana kita menghargai mereka melalui cara kita berbicara; lingkungan di mana kita mendorong mereka untuk melakukan hal yang baik, dan bukannya membiarkan mereka tetap berperilaku buruk. Kita harus lebih banyak memuji mereka atas tanggung jawab yang dilakukan, daripada mengkritik dan mencela mereka karena gagal memenuhi harapan kita; lingkungan di mana kita menanggapi kegembiraan sekaligus kesedihan anak-anak kita.
2. Bersikaplah Terbuka Mengenai Kesalahan dan Kelemahan Anda.
Lingkungan yang mendukung ialah lingkungan di mana ada pengertian saat kita melakukan kesalahan. Sebenarnya, dalam lingkungan seperti itu anak bukan hanya mengerti, tetapi mereka juga dapat belajar bahwa Allah dapat memakai kegagalan mereka untuk menolong mereka bertumbuh. Mereka belajar bahwa yang tertulis dalam Roma 8:28 memang benar. Mereka belajar bahwa pertanyaan terbaik yang patut diucapkan setelah melakukan kesalahan ialah, "Hikmah apa yang dapat saya petik dari hal ini?" Salah satu cara terbaik untuk melakukan hal ini ialah dengan memperagakannya.
3. Siap Sedia.
Kunci ini merupakan kunci paling sederhana di antara ketujuh kunci lainnya, tetapi sekaligus yang tersulit. Kunci ini yang terpenting karena enam langkah lainnya tergantung pada kunci ini. Lalu mengapa kunci ini sederhana? Karena kunci ini tidak memerlukan bacaan atau pelatihan tertentu. Yang perlu dilakukan hanyalah selalu siap sedia bagi anak-anak. Siapa saja dapat melakukan.
Apa yang membuat hal ini begitu sulit? Karena kita semua sibuk. Kita banyak membebani diri dengan tuntutan dan tekanan dari diri sendiri maupun orang lain. Kita selalu merasa bahwa masih ada yang harus dan ingin kita lakukan. Hanya sedikit dari kita yang duduk tenang di penghujung hari dan berkata kita telah menyelesaikan semua yang kita inginkan.
Di tengah berbagai kesibukan, anak-anak dengan mudah dapat menjadi gangguan. Tentunya tidak realistis bagi kita untuk selalu membatalkan semua kegiatan dan memenuhi tuntutan anak-anak kita saja. Pada saat yang sama, kita perlu memahami bahwa mereka tidak memiliki persepsi tentang waktu seperti kita. Anak-anak hanya memiliki keterampilan abstraksi yang rendah dan bagi sebagian besar mereka, masa sekarang ialah segalanya.
Kita dapat selalu siap sedia bagi anak-anak melalui dua cara. Pertama, kita dapat meluangkan waktu khusus bagi mereka, contohnya menyapa pada waktu bangun pagi atau di kesempatan lain dan ada waktu untuk mengobrol. Mungkin Anda juga dapat menemukan waktu-waktu tertentu di sepanjang hari, di mana mereka bersikap lebih terbuka untuk mengobrol. Pada saat-saat seperti ini, akan sangat bijaksana jika Anda "mengesampingkan" jadwal Anda dan "secara kebetulan" siap untuk berbicara dan mendengarkan pengalaman mereka di hari itu, membaca, bermain bersama-sama mereka, atau berbagi pengalaman dengan mereka.
Kedua, kita dapat mempelajari kiat-kiat "menciptakan" waktu pada saat diperlukan. Kita dapat mengembangkan kemampuan untuk mencari "waktu untuk dapat mengajar". Dalam Lukas 5:17-20, Kristus mengajar kelompok orang Farisi dan ahli Taurat yang terkenal. Mereka datang dari jauh untuk mendengar ajaran-Nya. Ketika Yesus sedang mengajar, ada orang-orang yang membongkar atap rumah di atas kepala-Nya. Mereka tidak hanya membongkar atap, tetapi juga menurunkan seorang lumpuh dalam usungan dan meletakkannya di hadapan Yesus.
Meski kebanyakan di antara kita melihatnya sebagai gangguan, tetapi Kristus melihatnya sebagai kesempatan yang unik. Dia melihat adanya suatu kebutuhan. Dia melihat iman mereka dan sudah pasti Dia menganggap hal itu lebih penting daripada pembicaraan-Nya. Dengan segera Dia melihat peristiwa ini sebagai momen yang dapat dipakai-Nya untuk mengajar. Dia betul-betul memanfaatkannya.
Kita dapat meluangkan waktu untuk menolong anak-anak menangani masalah. Kadang-kadang mereka ingin segera mengatasinya. Kadang-kadang mereka perlu memikirkan dan membicarakannya sebelum tidur. Anak-anak tidak selalu dapat melupakan pengalaman emosional yang menyakitkan. Mereka perlu menyelesaikannya. Meskipun demikian, mereka juga perlu belajar menyelesaikannya bersama seseorang yang dapat menolong mereka "keluar dari permasalahan", sekalipun tidak "menyelesaikan" masalah itu bagi mereka. Meskipun mencoba-coba, kita sebagai orangtua dapat meluangkan waktu dan menyediakan tempat yang aman bagi mereka untuk menyelesaikan masalah. Hanya dengan meluangkan waktu bersama, kita akan dapat berkomunikasi, menyelesaikan konflik, membangun, merawat, menyayangi, mengasihi, dan saling menguatkan.
4. Lihat, Dengar, Baru Berbicara.
Ketika berbicara tentang komunikasi yang baik, kebanyakan dari kita telah mengalami kemunduran. Kita cenderung terus berbicara, baru kemudian melihat dan mendengar. Ketika kebanyakan orang berpikir mengenai komunikasi, mereka cenderung menekankan aspek verbal. Bagi mereka, komunikasi ialah kata-kata yang disampaikan seseorang kepada orang lain. Banyak orang terkejut saat mempelajari bahwa untuk menyampaikan pesan sebenarnya hanya diperlukan 7 persen kata-kata. Nada suara menyumbangkan 38 persen, dan faktor-faktor nonverbal lainnya 55 persen.
Saat anak Anda berbicara, kita perlu mengembangkan kebiasaan mendengarkan dengan penuh perhatian. Menjadi pendengar yang baik tidaklah mudah dan tidak terbentuk dengan sendirinya. Alkitab berbicara banyak tentang pentingnya mendengar. Amsal 18:13 mengatakan, "Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya." Kemudian Yakobus 1:19, "Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah."
Salah satu keunikan Tuhan Yesus ialah bahwa Ia sungguh-sungguh memerhatikan setiap pribadi. Bagi-Nya tidak ada orang yang dianggap terlalu rendah, terlalu tua, terlalu muda, terlalu lambat, atau apa pun. Dia selalu meluangkan waktu bersama mereka semua. Orang-orang biasa sudah cukup menjadi alasan bagi-Nya untuk datang, mati, dan bangkit kembali. Jika orang biasa saja penting bagi Yesus, tidakkah anak-anak kita semestinya lebih penting bagi kita?
Anda dapat membuat anak-anak Anda tahu bahwa Anda mengasihi mereka melalui sesuatu yang sederhana. Misalnya lewat kontak mata, senyuman, anggukan kepala, atau kesediaan untuk membiarkan mereka bebas berbicara. Kadang-kadang saat anak Anda ingin mengungkapkan sesuatu, Anda sedang tidak punya waktu untuk mendengarkan. Dengan jujur, katakan bahwa Anda bersedia mendengarkan, tetapi tidak saat itu. Lalu berjanjilah untuk mendengarkannya lain waktu. Yang penting, pastikan untuk memenuhi janji Anda.
Saat mendengarkan anak Anda, jangan hanya mendengar kata-katanya. Belajarlah untuk membaca bahasa nonverbal mereka. Perhatikan ekspresi wajah, postur, dan gerak-gerik tubuh mereka. Selain itu, belajarlah menangkap makna di balik nada suara anak. Adakah perubahan nada, kecepatan, susunan kata-kata, dan volume suara? Ungkapkan interpretasi Anda kepadanya. Hal ini akan membuatnya merasa dipahami dan menolong Anda menguji ketepatan interpretasi Anda.
Jika Anda sudah terampil dalam melihat perubahan raut wajah anak Anda dan mendengarkannya, Anda akan memahaminya dengan lebih baik. Anda akan lebih dapat menyadari adanya sesuatu yang tidak beres. Jika kita bersedia mendengarkan anak-anak dan membiarkan mereka menumpahkan emosi-emosi yang negatif, menyakitkan, dan membingungkan, mereka akan lebih mudah menemukan perasaan-perasaan positif dan menjadi lebih terbuka untuk mendengar beberapa alternatif pemecahan masalahnya.
5. Saat Anda Berbicara, Ajukan Pertanyaan.
Kunci kelima untuk mengusahakan lingkungan yang sehat ialah mempelajari seni mengajukan pertanyaan yang baik. "Ada dua macam pertanyaan: pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka. Pertanyaan tertutup ialah pertanyaan yang dapat dijawab dengan satu kata seperti, "Apakah semuanya berjalan baik hari ini?" Pertanyaan terbuka ialah pertanyaan yang membutuhkan jawaban lebih dari satu kata, misalnya, "Apa yang paling membuatmu senang hari ini?" Akan lebih baik bila kita mengajukan beberapa pertanyaan terbuka daripada pertanyaan tertutup.
Selain itu, penggunaan waktu yang tepat juga penting. Jika memungkinkan, pilihlah waktu ketika Anda dan anak-anak tidak dalam kondisi tergesa-gesa. Jika Anda selalu menyelesaikan ucapan-ucapan anak Anda, atau hanya menjawab, "ya, aku mengerti" atau "cukup", tampaknya Anda telah salah memilih waktu.
Saat mengajukan pertanyaan, pastikan untuk memberi cukup waktu kepada anak Anda untuk menjawabnya. Jika Anda mengajukan pertanyaan dan menuntut jawaban secepatnya, hal itu dapat menekan anak Anda dan memberi kesan keliru. Meskipun Anda bermaksud mengatakan, "Engkau penting bagiku," kesan yang mereka terima dapat menjadi, "Apa yang kau katakan penting jika kau katakan dengan cepat. Ada hal-hal penting lain yang harus saya lakukan."
Ketika anak Anda menjawab pertanyaan, dengarkan apa yang dikatakannya dan bagaimana ia mengatakannya dengan penuh perhatian, karena isi maupun nada suara dalam jawabannya sama pentingnya. Jika ia menjawab dengan bersemangat atau jika ia menambahkan keterangan-keterangan lain, berarti Anda sudah menemukan kuncinya. Daripada mengajukan pertanyaan yang hebat, ajukan pertanyaan seputar topik yang penting baginya, atau temukan waktu saat ia bersedia mengobrol.
6. Izinkan Anak Anda Mengekspresikan Emosinya.
Tedd Tripp menulis bahwa komunikasi bukan sekadar mendisiplin, tetapi juga memuridkan. Komunikasi yang baik dapat menggembalakan anak-anak dalam jalan Allah. Acap kali orang tua terlalu sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk berbicara, kecuali jika ada masalah. Kebiasaan berdiskusi bersama akan membantu kita saat perlu berbicara dalam situasi tegang. Anda tidak akan dapat meraih hati anak-anak Anda, jika Anda hanya berbicara dengan mereka ketika ada masalah.
Karena kurangnya pendidikan atau masuknya informasi yang keliru, kebanyakan di antara kita, khususnya pria, diajar untuk tidak mengacuhkan saat merasakan sesuatu. Ketika mengalami depresi, kita diajar bahwa itu hanyalah keputusan biasa. Ketika merasa sedih, kita diajar untuk bergembira. Ketika marah, kita diajar untuk bersikap tenang. Ketika merasa sakit hati, kita diajari untuk menghadapinya dengan berani dan tersenyum.
Dr. Haim G. Ginot mengatakan, "emosi adalah bagian dari sifat genetis yang menurun". Pengajaran tentang emosi dapat menolong anak-anak untuk menyadari apa yang mereka rasakan dan kapan mereka merasakannya. Menurut Dr.Ginot, "Lebih penting bagi seorang anak untuk mengenal apa yang dirasakannya daripada menyadari alasan ia merasakannya. Ketika ia mengenal apa yang dirasakan dengan jelas, besar kemungkinan ia tidak akan merasakan 'kekacauan' dalam batinnya". Agar anak dapat memiliki dasar yang kuat bagi kehidupan emosi mereka di kemudian hari, mereka perlu dikuatkan untuk mengalami dan mengekspresikan berbagai emosi. Pengalaman emosi mereka seharusnya tidak dibatasi pada emosi yang menyenangkan saja. Jika mereka hanya diizinkan untuk mengalami satu sisi emosinya, mereka akan memiliki kesadaran yang terbatas tentang Allah yang menciptakan mereka dan perspektif yang keliru tentang orang lain. Kemampuan mereka untuk menarik hikmah dari emosi sangat terbatas, dan mereka akan lebih menjadi lebih mudah dikuasai oleh emosi mereka sendiri.
Anak-anak juga perlu didorong untuk mengalami kegembiraan dan kesedihan, harapan dan ketakutan, sukacita dan depresi, kecemburuan dan belas kasihan. Proses belajar yang sejati tidak terjadi dalam lingkup emosi yang terbatas, tetapi dalam emosi yang menyenangkan dan juga menyakitkan. Pernyataan yang menyebutkan bahwa kita diciptakan segambar dengan Allah juga mengandung arti bahwa kita memiliki emosi. Orang tua yang baik akan mengizinkan anak-anaknya mengekspresikan berbagai emosi dengan cara yang tepat. Hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam hal emosi adalah gambaran wajahnya. Perhatikanlah stres emosional yang memengaruhi mereka. Jika memungkinkan doronglah anak Anda untuk menceritakan semua kekhawatiran dan perasaan mereka. Doronglah mereka untuk menceritakan apa pun yang mereka rasakan -- positif atau negatif, menyenangkan atau menyakitkan. Jika mereka sulit untuk terbuka, Anda dapat memulainya dengan menceritakan perasaan Anda sendiri.
7. Memahami Bahwa Hal-hal yang Diperlukan untuk Sukses Dalam Berbisnis dan Mengasuh Anak Tidaklah Sama.
Kunci keberhasilan di kantor mestinya juga dapat dipakai di rumah. Bagaimanapun juga, sudah semestinya orang tua mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia "nyata".
Diringkas dari:
Judul asli buku: Raising Kids to Love Jesus 1
Judul buku terjemahan: Memahami Anak Sesuai dengan Kecenderungan Kepribadiannya
Judul artikel: Tujuh Kunci untuk Mendorong Pertumbuhan Anak-anak
Penulis: H. Norman Wright dan Gary J. Oliver
Penerjemah: Otniel Sintoro dan Mariani Sutanto
Penerbit: Gloria Graffa, Yogyakarta 2003
Halaman: 70 -- 90
Powered by Telkomsel BlackBerry®