Senin, 03 Oktober 2011

Mengasihi Dan Menghormati Tuhan

Wahyu 2: 23

2:23 Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.

Bagaimanakah kita menjadi orang yang mengasihi dan menghormati Tuhan? Kebenaran ini sangat penting dan berharga bagi kita yang berminat untuk mengasihi dan menghormati-Nya. Tetapi kalau kita tidak berminat, kebenaran ini tidak berarti sama sekali.

Betapa celakanya orang yang membanggakan diri dengan apa yang dimilikinya dalam hidup ini, kalau ia tidak menghormati dan mengasihi Tuhan. Sebab semua yang kita miliki—termasuk tubuh kita ini—adalah milik Tuhan, atau berkat yang dipercayakan kepada kita untuk kemuliaan nama-Nya. Kalau tidak mulai menghormati dan mengasihi Tuhan di bumi sekarang ini, maka kita tidak akan pernah mengalami apa yang dimaksud dengan menghormati dan mengasihi Tuhan selamanya. Suatu hari orang-orang yang mengabaikan kebenaran ini dan bangga atas apa yang tidak berhak mereka banggakan akan dipermalukan. Sebab mereka telah menggunakan untuk kehormatan mereka sendiri apa yang seharusnya digunakan untuk kehormatan Pemilik mereka, Tuhan Semesta Alam.

Jadi bagaimana caranya menjadi orang yang mengasihi dan menghormati Tuhan? Langkah nyatanya adalah dengan selalu memperhatikan keadaan batin kita, maksudnya kita harus selalu memeriksa atau mengoreksi diri apakah ada kejahatan dalam hati dan pikiran kita. Kejahatan ini bukan hanya menyangkut kebencian, dendam dan kemarahan; tetapi juga keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan juga menilai sesuatu lebih berharga daripada Tuhan. Inilah unsur-unsur negatif dalam batin kita yang tidak boleh dibiarkan. Kalau dibiarkan terus-menerus akan membangun karakter Lucifer. Oleh karena itulah kuasa kegelapan berusaha agar jiwa manusia diwarnai dengan unsur-unsur tersebut.

Setelah selalu menyadari adanya unsur-unsur negatif dalam diri kita,selanjutnya kita harus belajar untuk membuangnya. Dengan demikian kita akan terbiasa memiliki perasaan tidak merasa sejahtera bila unsur-unsur itu timbul kembali dalam diri kita. Ada penolakan keras setiap kali ada unsur-unsur tersebut di dalam diri kita. Ini akan membangun kesucian hidup yang sejati. Koreksi diri ini harus selalu kita lakukan, sebab Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia menguji batin dan hati orang. Batin (nefrós) menunjuk kepada pikiran kita yang terdalam, sementara hati ( kardía) menunjuk kepada apa yang kita rasakan dan ingini (juga pada 1Tes. 2:4). Mari terus berjuang menjadi orang yang mengasihi dan menghormati Tuhan.

Langkah nyata untuk menjadi orang yang mengasihi dan menghormati Tuhan adalah selalu memperhatikan keadaan batin dan membuang unsur-unsur negatif.


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 02 Oktober 2011

 "Siapakah sesamaku manusia?"

(Yun 1:1-17;2:10; Luk 10:25-37)

" Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Luk 10:25-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Ikatan darah atau suku pada umumnya sangat mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kebanyakan orang, dengan kata lain penghayatan iman atau ajaran agama memang berat dan sulit karena sarat dengan tantangan, masalah dan hambatan, maka orang cenderung hidup dan bertindak sesuai dengan kebiasaan yang telah diterimanya sejak dilahirkan. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk hidup dan bertindak sesuai dengan tiga keutamaan yaitu "iman, harapan dan cintakasih", dan dari ketiga keutamaan tersebut yang terbesar adalah cintakasih. Cintakasih itu bebas, tak terbatas, sedangkan kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Cintakasih dan kebebasan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Karena cintakasih tak terbatas, maka panggilan kita untuk hidup saling mencintai juga tak dapat dibatasi oleh suku, ras maupun agama. Cintakasih mengatasi ikatan suku, ras maupun agama. Marilah kita wujudkan cintakasih kepada sesama kita tanpa pandang bulu, terutama mereka yang sungguh membutuhkan pertolongan, entah karena kecelakaan, menjadi korban bencana alam, miskin, kekurangan dst.. Kita dipanggil untuk mencintai secara total atau sungguh-sungguh, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Sekali lagi kami angkat pengalaman anda sebagai suami-isteri: bukankah anda memiliki pengalaman mencintai yang demikian itu, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual? Maka hendaknya pengalaman tersebut terus diperdalam dan disebarluaskan dalam hidup sehari-hari dimanapun dan rkapanpun.

• "Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki" (Yun 1:14), demikian doa orang banyak sebagai tanggapan atas dosa seseorang yang cukup berpengaruh di dalam kehidupan bersama. Memang dalam kebersamaan ketika ada salah sesrorang berbuat jahat maka semuanya yang berada di dalam kebersamaan tersebut harus menanggung akibatnya. Hal yang demikian juga terjadi dalam tubuh kita yang terdiri dari sekian banyak anggota, ketika ada anggota menderita sakit maka seluruh tubuh ikut merasakannya serta menanggung akibatnya. Maka marilah kita saling mengingatkan dan membantu agar tak ada seorang pun dalam kebersamaan hidup kita berbuat jahat atau berdosa. Mereka yang hendak berbuat jahat atau berdosa hendaknya sesegera mungkin diingatkan dan dicegah dengan dan dalam cintakasih, jangan dimarahi atau dilecehkan. Sebaliknya jika kita tidak berani mengingatkan secara langsung, baiklah kita berdoa kepada Tuhan: mohon kasih pengampunan bagi mereka dan kebebasan sejati bagi kita, sehingga kita dapat hidup dan bertindak saling mencintai terus menerus. Cintakasih juga dapat diwujudkan dalam doa, mendoakan mereka yang kita cintai. Maka meskipun kita secara territorial saling berjauhan, marilah kita saling mendoakan. "Jauh di mata dekat di hati", demikian kata sebuah pepatah.

"Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku" (Yun 2:2-5).


Powered by Telkomsel BlackBerry®

DIPANGGIL DAN DIUTUS

Jika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani, dengan berbicara
langsung dan memberi penglihatan, bagaimana kira-kira tanggapan
orang itu? Mestinya, ia takkan ragu lagi mengorbankan hidupnya
menjalani panggilan itu, meski penuh tantangan, bukan? Namun,
lihatlah Musa. Secara ajaib Tuhan menampakkan diri di Gunung Horeb
dan memanggil Musa untuk membebaskan Israel. Musa takut, gentar, dan
terpesona ketika berhadapan dengan Tuhan (ayat 6). Namun, Musa
menolak panggilan itu. Mengapa?

Pertama, Musa tidak yakin Israel masih mengenal Allahnya dan percaya
Allah masih peduli. Kedua, Musa tak yakin Israel percaya ia berjumpa
Allah yang mengutusnya. Ketiga, Musa tak yakin mampu memimpin Israel
yang "tegar tengkuk". Perasaan tak mampu menghalanginya melihat
kuasa Allah yang bisa bekerja melaluinya. Keempat, Musa tak ingin
zona nyamannya kembali terusik demi membebaskan Israel yang tak tahu
balas budi (lihat Keluaran 2:11-22). Namun, dengan sabar Tuhan
meneguhkan panggilan-Nya; memberi kuasa kepada Musa untuk
berkata-kata dan melakukan banyak mukjizat; bukti bahwa Tuhanlah
yang mengutus dan menyertainya.


Apakah Anda sedang bergumul menjawab sebuah undangan pelayanan?
Mungkin pelayanan itu menuntut pengorbanan waktu, tenaga, perasaan.
Tak mendatangkan keuntungan materi, malah sebaliknya. Tak
mendatangkan gengsi, sebab hanya memperhatikan mereka yang kecil dan
terpinggirkan. Relakah Anda meresponsnya? Ingatlah bahwa Allah telah
melayani Anda lebih dulu dengan memberikan Yesus Kristus mati di
kayu salib menjadi tebusan bagi hidup Anda yang berdosa. Apakah
balasan Anda kepada-Nya? --SST

TUHAN TELAH MEMBERIKAN SEGALANYA BAGI KITA
MAKA, APAKAH YANG PANTAS KITA TAHANKAN TERHADAP-NYA?


Keluaran 3:1-4:17

1 Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro,
mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing
domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung
Allah, yakni gunung Horeb.
2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala
api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah:
semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
3 Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa
penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri
itu?"
4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya,
berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya:
"Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah."
5 Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah
kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu,
adalah tanah yang kudus."
6 Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah
Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia
takut memandang Allah.
7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh
kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar
seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya,
Aku mengetahui penderitaan mereka.
8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan
orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu
negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah
susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang
Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.
9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah
Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka.
10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk
membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir."
11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku
yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari
Mesir?"
12 Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah
tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau
telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan
beribadah kepada Allah di gunung ini."
13 Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan
orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu
telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku:
bagaimana tentang nama-Nya? --apakah yang harus kujawab kepada
mereka?"
14 Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya:
"Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah
mengutus aku kepadamu."
15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah
kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu,
Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku
kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah
sebutan-Ku turun-temurun.
16 Pergilah, kumpulkanlah para tua-tua Israel dan katakanlah kepada
mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan
Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku
sudah mengindahkan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di
Mesir.
17 Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari
kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, orang Het,
orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu
negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
18 Dan bilamana mereka mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus
beserta para tua-tua Israel pergi kepada raja Mesir, dan kamu
harus berkata kepadanya: TUHAN, Allah orang Ibrani, telah
menemui kami; oleh sebab itu, izinkanlah kiranya kami pergi ke
padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan
korban kepada TUHAN, Allah kami.
19 Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu
pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat.
20 Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan
segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di
tengah-tengahnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi.
21 Dan Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa
ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan
tangan hampa,
22 tetapi tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan
dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan
emas dan kain-kain, yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu
lelaki dan perempuan; demikianlah kamu akan merampasi orang
Mesir itu."
1 Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku
dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN
tidak menampakkan diri kepadamu?"
2 TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab
Musa: "Tongkat."
3 Firman TUHAN: "Lemparkanlah itu ke tanah." Dan ketika
dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular[1:1604],
sehingga Musa lari meninggalkannya.
4 Tetapi firman TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu dan
peganglah ekornya" --Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya
ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya
5 --"supaya mereka percaya, bahwa TUHAN, Allah nenek moyang
mereka, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub telah
menampakkan diri kepadamu."
6 Lagi firman TUHAN kepadanya: "Masukkanlah tanganmu ke dalam
bajumu." Dimasukkannya tangannya ke dalam bajunya, dan setelah
ditariknya ke luar, maka tangannya kena kusta, putih seperti
salju.
7 Sesudah itu firman-Nya: "Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam
bajumu." Musa memasukkan tangannya kembali ke dalam bajunya dan
setelah ditariknya ke luar, maka tangan itu pulih kembali
seperti seluruh badannya.
8 "Jika mereka tidak percaya kepadamu dan tidak mengindahkan tanda
mujizat yang pertama, maka mereka akan percaya kepada tanda
mujizat yang kedua.
9 Dan jika mereka tidak juga percaya kepada kedua tanda mujizat
ini dan tidak mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus
mengambil air dari sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah
yang kering, lalu air yang kauambil itu akan menjadi darah di
tanah yang kering itu."
10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai
bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada
hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah."
11 Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah
manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat
orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?
12 Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan
mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."
13 Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang

patut Kauutus."
14 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman:
"Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu,
bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai
engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam
hatinya.
15 Maka engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu
ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan
mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan.
16 Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia
akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti
Allah baginya.
17 Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk
membuat tanda-tanda mujizat."
www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

RIWAYAT: INGWER LUDWIG NOMMENSEN
(1834 -- 1918 Penginjil)

Nommensen adalah seorang tokoh pengabar Injil berkebangsaan Jerman yang terkenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya adalah berdirinya sebuah gereja terbesar di wilayah suku bangsa Batak Toba. Gereja itu bernama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Tidak berlebihan, jikalau ia diberi gelar Rasul Batak. Ia sudah memberikan seluruh hidupnya bagi pekerjaan pengabaran Injil di tanah Batak.

Nommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin dan selalu sakit-sakitan.

Pada umur 8 tahun, ia mencari nafkah dengan menggembalakan domba milik orang lain pada musim panas, dan pada musim dingin ia bersekolah. Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani sehingga pekerjaan itu tidak asing lagi baginya. Semuanya ini tampaknya merupakan persiapan bagi pekerjaannya sebagai pengabar Injil di kemudian hari.

Tahun 1846 Nommensen mengalami kecelakaan yang serius. Pada waktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, tiba-tiba ia ditabrak oleh kereta berkuda. Kereta kuda itu menggilas kakinya sehingga patah. Oleh karenanya, terpaksa ia hanya bisa berbaring saja di tempat tidur selama berbulan-bulan. Teman-temannya biasa datang untuk menceritakan pelajaran dan cerita-cerita yang disampaikan guru di sekolah. Cerita-cerita itu adalah tentang pengalaman pendeta-pendeta yang pergi memberitakan Injil kepada banyak orang, dan Nommensen sangat tertarik mendengar cerita-cerita itu.

Lukanya makin parah, sehingga dia tidak dapat berjalan sama sekali. Sekalipun sakit, Nommensen belajar merajut kaos, menjahit, dan menambal sendiri pakaiannya yang robek. Pada suatu hari, ia membaca Yohanes 16:23-26, yaitu tentang kata-kata Tuhan Yesus bahwa siapa yang meminta kepada Bapa di Surga, maka Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya, apakah perkataan Yesus itu masih berlaku atau tidak. Ibunya meyakinkannya bahwa perkataan itu masih berlaku. Ia mengajak ibunya untuk berdoa bersama-sama. Nommensen meminta kesembuhan dan dengan janji, jikalau ia sembuh maka ia akan pergi memberitakan Injil. Doanya dikabulkan, dan beberapa minggu kemudian kakinya sembuh. Setelah sembuh, Nommensen kembali menggembalakan domba. Janjinya selalu menggodanya untuk segera memenuhinya. Oleh karena itu, ia melamar untuk menjadi penginjil pada Lembaga Pekabaran Injil Rhein (RMG). Beberapa tahun lamanya ia belajar sebagai calon pengabar Injil.

Tahun 1861 ia ditahbiskan menjadi pendeta. Dan sesudahnya ia berangkat menuju Sumatera dan tiba pada bulan Mei 1862 di Padang. Ia memulai pekerjaannya di Barus. Ia mulai belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu, yang cepat sekali dapat dikuasainya. Sekarang ia mulai mengadakan kontak-kontak dengan orang-orang Batak, terutama dengan raja-raja. Ia tidak jemu mengadakan perjalanan keliling untuk menciptakan hubungan pergaulan yang baik. Ia mempelajari adat-istiadat Batak dan mempergunakannya dalam mempererat pergaulan.

Nommensen meminta izin untuk masuk ke pedalaman namun dilarang oleh pemerintah, karena sangat berbahaya bagi seorang asing. Namun Nommensen tidak takut. Ia memilih Silindung sebagai tempat tinggalnya yang baru. Ia mendapat gangguan yang hebat di sini, namun ia tidak putus asa. Ia berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (Kampung Damai). Tahun 1873 ia mendirikan sebuah gedung gereja, sekolah, dan rumahnya sendiri di Pearaja. Sampai sekarang Pearaja menjadi pusat HKBP.

Pekerjaan Nommensen diberkati Tuhan, sehingga Injil makin meluas. Kemudian dia pindah tempat tinggal ke kampung Sigumpar pada tahun 1891, dan ia tinggal di sana sampai dia meninggal.

Nommensen memberitakan Injil di tanah Batak dengan berbagai macam cara. Ia menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru (PB) ke dalam bahasa Toba dan menerbitkan cerita-cerita Batak. Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, menebus hamba-hamba dari tuan-tuannya, serta membuka sekolah-sekolah dan balai-balai pengobatan.

Dalam pekerjaan pengabaran Injil, ia menyadari perlunya mengikutsertakan orang-orang Batak. Maka dari itu, dibukalah sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Juga untuk kebutuhan guru-guru sekolah, dia membuka pendidikan guru.

Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan, maka pimpinan RMG mengangkatnya menjadi Ephorus pada tahun 1881.

Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Universitas Bonn memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Nommensen.

Nommensen meninggal pada umur yang sangat tua -- 84 tahun. Ia meninggal pada tanggal 12 Mei 1918. Nommensen dikuburkan di Sigumpar, di tengah-tengah suku bangsa Batak setelah bekerja dalam kalangan suku bangsa ini selama 57 tahun lamanya.

Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja
Judul artikel: Nommensen, Ingwe Ludwig
Penulis: Drs. F.D. Wellem, M.Th.
Penerbit: PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1999
Halaman: 198 -- 200

Diambil dari:
Nama situs: e-MISI
Alamat URL: http://misi.sabda.org/ingwer-ludwig-nommensen
Tanggal akses: 10 Juni 2011


TAHUKAH ANDA: PENINGGALAN NOMMENSEN DI NUSANTARA

Bagi orang Batak, Nommensen bukan cuma tokoh pembawa agama. Ia juga dikenal sebagai pembaru yang membangun sektor pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Selama berada di Tanah Batak, Nommensen telah mendirikan 510 sekolah dengan murid 32.700 orang, antara lain di Balige, Tarutung, Siantar, Sidikalang, Samosir, dan Ambarita. Setiap mengunjungi desa-desa, dia selalu membawa kotak obatnya, dan berusaha menyembuhkan penyakit warga.

Sumber: http://bataknews.wordpress.com/2007/04/05/tb-silalahi/

www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

• HUKUM PENGULANGAN •

Αda kuasa yg luar biasa dlm pengulangan /repetisi. Itu sebabnya utk menanamkan sebuah pesan, pengajaran, propaganda, dsb, maka hal tsb hrs dilakukan scr berulang2. Sebuah informasi yg disampaikan berulang2 akan dianggap sbg KEBENARAN oleh otak kita. Pernah lihat film Dora the explorer? Coba amati, kalimat yg disampaikan oleh Dora terus diulang2 hingga 3x. Hal ini dilakukan supaya pesan yg disampaikan benar2 bisa diterima oleh anak2 yg melihatnya.

Utk alasan yg sama, TUHAN memerintahkan kpd seluruh bangsa Israel utk membaca & merenungkan Taurat TUHAN siang & malam. Demikian juga sejarah bangsa Israel & bagaimana campur tangan TUHAN atas bangsa itu hrs diceritakan berulang2 dari generasi ke generasi. Tujuannya, supaya Taurat TUHAN itu benar2 menancap kuat dlm kehidupan org2 Israel, sehingga mereka menaruh Kepercayaannya kpd ALLAH & tdk melupakan perbuatan2 ALLAH yg besar (Maz 78:7).

Apa aplikasinya dlm kehidupan kita? Sesungguhnya setiap org butuh Firman TUHAN yg diulang2. Hanya sedikit org yg bisa menerima sebuah pengajaran Firman TUHAN hanya dlm 1x pemberitaan. Itu sebabnya jika pengajaran Firman TUHAN disampaikan kpd kita berulang x, jgn pernah merasa bosan, merasa sudah tahu & mengabaikan hal tsb. Jika kita sdh pernah membaca seluruh Alkitab, bukan berarti kita berhenti utk membaca Alkitab lagi. Kita hrs mengulangnya scr terus menerus sampai benar2 Firman TUHAN itu mendarah daging dlm kehidupan kita.


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 01 Oktober 2011

 Yes 5:1-7; Flp 4:6-9; Mat 21:33-43

" Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita"

Pada masa Orde Baru jika ada tokoh masyarakat, bangsa atau Negara yang tidak taat kepada orang nomor satu di negeri ini, meskipun orangnya cerdas, beriman dan baik, maka yang bersangkutan akan diusir atau disingkirkan atau `dikeluarkan dari fungsi/jabatannya yang strategis' dalam hidup bermasyarakat , berbangsa dan bernegara. Jika ada orang baik yang mencoba mengganggu atau mempersulit keinginan dan dambaan anggota keluarga orang nomor satu di negeri ini juga disingkirkan dengan berbagai cara. Ada yang dibunuh, ada yang dipenjarakan dan ada yang melarikan diri keluar negeri dst.. Bahkan orang-orang pandai yang bersifat egois alias tidak prihatin dan berpartisipasi membangun dan membenahi kesremawutan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara juga lebih senang bercokol di luar negeri. Cara berpikir atau paradigma orang bersikap mental materialistis atau duniawi memang berlawanan dengan cara berpikir atau paradigma Tuhan. Maka marilah kita renungkan sabda Yesus hari ini.

"Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." (Mat 21:42)

Yang dimaksudkan dengan `tukang-tukang bangunan' disini tidak lain adalah mereka yang bersikap mental materialistis atau duniawi, yaitu yang gila akan harta benda/uang, pangkat/ keududukan/jabatan dan kehormatan duniawi, seperti orang-orang Farisi yang menjadi tokoh-tokoh bangsa Yahudi pada zaman Yesus. Dengan keserakahan dan kesombongannya mereka merampas hak-hak rakyat dan orang baik, cerdas dan beriman. Mereka menggunakan `aji mumpung' atau kesempatan sesuai dengan selera pribadi dan kewenangan atau kekuasaannya. Pada masa perjuangan kemerdekaan negeri kita mungkin dapat kita kenangkan tokoh Sukarna dan Hatta, yang sempat dibuang oleh penguasa penjajah berkali-kali dan akhirnya menjadi proklamator kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan namanya diabadikan di pintu gerbang negeri ini, nama bandara internasional terbesar di negeri ini, Bandara Sukarna-Hatta Cengkareng-Jakarta.

Mayoritas penumpang pesawat terbang yang melalui Bandara Sukarna-Hatta Cengkareng maupun bandara-bandara lainnya di negeri ini adalah orang-orang penting dan kaya, dengan kata lain menentukan kwalitas hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka kami berharap kepada mereka ini agar setiap kali singgah sejenak atau seraya menunggu keberangkatan pesawat terbang di ruang tunggu Bandara Sukarna-Hatta Cengkareng, untuk mengenangkan cara hidup, cara bertindak, perjuangan dan pengorbanan para proklamator negeri ini. Saya percaya bahwa para proklamator negeri ini sungguh cerdas beriman, hidup, berjuang dan berkorban demi kesejahteraan umum atau bangsa seluruhnya.

Kepada siapapun yang berada `di poros bisnis maupun di poros badan publik' dalam hidup bersama di negeri ini kami harapkan berpihak pada dan bersama mereka yang berada `di poros komunitas', yaitu rakyat. Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa anda berada `di poros badan publik' karena dipilih dan didukung oleh rakyat dan ketika berkampanye anda berjanji untuk mensejahterakan rakyat, demikian pula yang berada `di poros bisnis' hendaknya menyadari dan menghayati bahwa keberhasilan bisnis anda tak terlepas dari rakyat, kerja, perjuangan dan keringat rakyat. Jangan ingkari janji dan kebenaran ini: rakyat adalah batu sendi atau penjuru bangunan hidup bersama, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tentu saja secara konkret kami juga berharap kepada segenap orangtua untuk senantiasa berpihak dan bersama dengan anak-anak yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Bukankah hidup berkeluarga atau sebagai suami-isteri tanpa anak terasa hambar dan kurang bergairah? Bukankah kehadiran anak-anak dalam keluarga anda menggembirakan dan menggairahkan hidup anda berdua? Boroskan waktu dan tenaga anda bagi anak-anak anda sebagai bukti cintakasih anda kepada anak-anak anda, yang telah dianugerahkan Tuhan kepada anda berdua!

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Flp 4:6-8)

Ajakan atau peringatan Paulus kepada umat di Filipi di atas ini hendaknya juga dijadikan ajakan atau peringatan kita semua, umat beriman atau beragama. Pertama-tama kita semua diharapkan tidak kuatir tentang apa pun juga; orang yang mudah kuatir berarti tidak/kurang beriman. Ingatlah dan sadari bahwa jika kita dalam keadaan kuatir atau takut berarti ketahanan tubuh kita dalam keadaan lemah dan dengan demikian mudah terserang oleh aneka jenis virus dan penyakit serta akhirnya jatuh sakit. Marilah kita imani dan hayati bahwa Allah senantiasa menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan masing-masing serta kita diharapkan senantiasa bersyukur karena pendampingan atau penyertaanNya. Sebagai ucapan syukur kepada Allah kita diharapkan memikirkan "semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis dan semua kebajikan".

Jika kita senantiasa memikirkan hal-hal di atas berarti kita juga akan melakukan atau menghayatinya, karena apa yang akan kita lakukan atau hayati sangat tergantung dari apa yang sedang kita pikirkan. Cara hidup dan cara bertindak kita tergatung dari apa yang kita pikirkan. Marilah kita melakukan apa yang benar, mulia, adil, suci, manis dan bijaksana kapan pun dan dimana pun, karena apa yang disebut benar, mulia, adil, suci, manis dan bijaksana hemat saya berlaku secara universal atau umum, dimana saja dan kapan saja. Kami berharap nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari para orangtua.

"Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak;Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya" (Yes 5:5-6), demikian firman Allah melalui nabi Yesaya kepada kita semua, umat beriman atau beragama. Firman ini hemat saya merupakan peringatan bagi kita semua yang tidak melakukan apa yang benar, mulia, adil, suci, manis dan bijaksana. Orang yang tidak menghayati keutamaan-keutamaan tersebut akan menderita dan sengsara, tidak hidup dalam damai dan sejahtera. Mereka akan merasa dirinya ditinggalkan oleh semua orang dan dengan demikian akan merasa kesepian. Maka baiklah firman Allah di atas ini sungguh kita renungkan, sehingga kita tergerak terus menerus untuk melakukan apa yang benar, mulia, adil, suci, manis dan bijaksana.

"Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir, telah Kauhalau bangsa-bangsa, lalu Kautanam pohon itu. dijulurkannya ranting-rantingnya sampai ke laut, dan pucuk-pucuknya sampai ke sungai Efrat.: Mengapa Engkau melanda temboknya, sehingga ia dipetik oleh setiap orang yang lewat? Babi hutan menggerogotinya dan binatang-binatang di padang memakannya.Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu" (Mzm 80:9.12-16)


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Produk Gagal

Matius 10: 28

10:28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Manusia yang paling berhasil, beruntung dan bahagia di mata Tuhan adalahmereka yang menghormati dan mengasihi-Nya. Memang sejatinya manusia diciptakan hanya untuk ini. Manusia yang tidak menghormati dan mengasihi Tuhan adalah produk gagal. Mereka menjadi barang apkiran, yaitu barang yang ditampik dan ditolak karena tidak bisa dipakai oleh Allah. Manusia–manusia seperti ini akan terbuang untuk selamanya di kegelapan abadi, terpisah dari Pencipta-Nya yang juga sumber kehidupan. Jangan anggap remeh hal ini, sebab pertaruhannya sangat besar.

Pada penghakiman akhir zaman nanti banyak orang akan menyesali kehidupannya karena mereka tidak memperhatikan hal ini dengan serius, sehingga menjadi barang yang tidak berguna sama sekali di mata Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan agar kita tidak takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh, tetapi takutlah kepada yang berkuasa membuang tubuh dan jiwa ke dalam api kekal. Pernyataan Tuhan ini berarti pula kita jangan takut menjadi produk yang gagal di mata manusia, tetapi takutlah menjadi produk yang gagal di mata Allah. Tuhan Yesus mengungkapkan hal ini sebab pada umumnya manusia takut mejadi produk yang gagal bagi dirinya sendiri dan manusia pada umumnya, tetapi tidak takut menjadi produk yang gagal di mata Tuhan. Untuk itu, haruslah setiap kita memeriksa diri, apakah kita telah menjadi produk yang baik, atau produk gagal.

Membangun kehidupan demi menjadi produk yang baik menurut pandangan manusia sendiri adalah suatu kebodohan. Pikiran sesat seperti ini menguasai nyaris semua manusia di bumi ini, sebab mereka telah terbelenggu dengan pola kehidupan yang salah. Mereka tidak pernah belajar untuk mengerti bagaimana produk yang berhasil atau baik menurut Tuhan. Mereka berurusan dengan Tuhan hanya karena membutuhkan Tuhan untuk dapat meraih cita-cita menjadi produk yang baik menurut keinginan dan pengertiannya sendiri. Mereka bergereja dan melakukan berbagai kegiatan rohani hanya untuk memperoleh apa yang menurut kedagingan manusia menyenangkan. Sejatinya mereka tidak mengasihi Tuhan tetapi mengasihi diri sendiri secara salah.

Seharusnya, bila kita berurusan dengan Tuhan, kita mesti mempersoalkan bagaimana menjadi produk yang baik menurut Dia, Sang Pencipta. Itulah sebabnya keselamatan adalah proses mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula, menjadi produk yang baik menurut Tuhan. Untuk itu harus mengerti bagaimana produk yang baik menurut Tuhan itu.

Kita tidak boleh takut menjadi produk gagal di mata manusia, tetapi harus takut menjadi produk gagal di mata Allah


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®