Minggu, 01 Agustus 2010

DAPATKAH ANDA DIHUBUNGI?

DAPATKAH ANDA DIHUBUNGI?


Dengan telepon genggam, kini seseorang bisa dihubungi kapan pun dan di
mana pun. Ironisnya, alat komunikasi ini juga bisa menciptakan
kesalahpahaman. Seorang istri jengkel ketika gagal menghubungi
suaminya yang berada di luar kota. Sang suami membawa dua telepon
genggam, tetapi ketika dua-duanya dihubungi, tidak diangkat. Spontan
si istri mengira suaminya selingkuh. Padahal tidak demikian. Ketika
rapat siang harinya, telepon genggam sang suami dipasang pada posisi
silent. Ia lupa mengembalikannya ke posisi normal, sehingga tidak bisa
mendengar bunyi telepon masuk! Allah selalu ingin menghubungi kita,
tetapi terkadang hati kita berada pada posisi "silent". Tidak
merespons ketika mendengar suara-Nya. Itulah yang dialami Eli. Karena
membiarkan dosa anak-anaknya, ia kehilangan daya dengar rohaninya.
Akibatnya, "pada masa itu firman Tuhan jarang" (ayat 1). Lalu Tuhan
beralih menghubungi seorang muda yang hatinya bersih. Namanya Samuel.
Tiga kali Tuhan memanggil namanya. Mula-mula tidak terjadi komunikasi
karena Samuel diam saja. Tuhan baru berbicara setelah Samuel memberi
respons, "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar" (ayat 10). Jadi,
untuk berkomunikasi dengan Tuhan, kita perlu peka. Menyatakan diri
sedia untuk mendengar-Nya. Tuhan selalu ingin berbicara kepada Anda
lewat firman-Nya, termasuk saat Anda berwaktu teduh. Ada pesan yang
Tuhan ingin sampaikan. Namun, dapatkah Anda dihubungi? Ketika Tuhan
menegur, apakah Anda peka dan segera merespons? Ataukah hati Anda
sudah menjadi tuli karena dosa? Atau, terlalu sibuk, sehingga selalu
berkata "nanti saja"? --JTI

APABILA ANDA SUDAH LAMA MERASA TUHAN TIDAK BERBICARA
PASTIKAN HATI ANDA TIDAK BERADA DALAM POSISI "SILENT"

http://alkitab.sabda.org/?1+Samuel+3:1-10

1 Samuel 3:1-10

1 Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan
Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatanpun
tidak sering.
2 Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat
melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya.
3 Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam
bait suci TUHAN, tempat tabut Allah.
4 Lalu TUHAN memanggil: "Samuel! Samuel!", dan ia menjawab: "Ya,
bapa."
5 Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: "Ya, bapa, bukankah
bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil;
tidurlah kembali." Lalu pergilah ia tidur.
6 Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi. Samuelpun bangunlah, lalu
pergi mendapatkan Eli serta berkata: "Ya, bapa, bukankah bapa
memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil, anakku;
tidurlah kembali."
7 Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan
kepadanya.
8 Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya.
Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: "Ya,
bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Lalu mengertilah Eli, bahwa
Tuhanlah yang memanggil anak itu.
9 Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: "Pergilah tidur dan
apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN,
sebab hamba-Mu ini mendengar." Maka pergilah Samuel dan tidurlah
ia di tempat tidurnya.
10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang
sudah-sudah: "Samuel! Samuel!" Dan Samuel menjawab: "Berbicaralah,
sebab hamba-Mu ini mendengar."

Bacaan Alkitab Setahun:
http://alkitab.sabda.org/?Mazmur+57-59
http://alkitab.sabda.org/?Roma+4

Bukan Kegiatan Sesaat

Bukan Kegiatan Sesaat


Yohanes 12:24–26

12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke
dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan
menghasilkan banyak buah.
12:25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi
barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk
hidup yang kekal.
12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada,
di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati
Bapa.


Harus terus diingatkan bahwa pelayanan tidak hanya dalam bentuk pekerjaan
gerejani. Itu barulah satu dari sekian banyak cara untuk mempresentasikan atau
mewujudkan panggilan pelayanan. Pada dasarnya pelayanan berorientasi pada usaha
untuk memberitakan kabar tentang keselamatan dalam TUHAN Yesus kepada orang
yang belum mengenal TUHAN Yesus. Bagi orang yang sudah menerima Injil, mereka
harus didewasakan melalui pelayanan penggembalaan. Untuk ini orang perlu
berjemaat. Bagi orang yang sudah mendengar Injil, tetapi belum membuka hati
menerima TUHAN Yesus sebagai Juru Selamat, harus terus menerus diberi kesaksian
yang baik melalui kehidupan orang percaya. Untuk menyelenggarakan pelayanan ini
dibutuhkan perangkat dan berbagai fasilitas sebagai sarananya.


Tentu saja untuk membawa Injil ke tempat-tempat tertentu dibutuhkan dana. Di
sini seorang pengusaha dapat mendukung dalam hal keuangan. Sedangkan
pelaksanaan lapangan penginjilan dilakukan oleh seorang penginjil. Setelah
orang-orang yang menerima berita Injil bertobat, maka dibutuhkan gereja, sarana
tempat ibadah dan fasilitas penggembalaan. Tetapi pelayanan bukanlah kegiatan
sesaat.

Pelayanan adalah irama kehidupan. Seorang yang meneladani kehidupan TUHAN
Yesus, pasti memiliki hati seperti anggur yang tercurah (ay. 24). Pelayanan
merupakan kebutuhan. Bila seseorang memiliki beban maka beban itu rasanya ingin
dilepaskan, demikian pula dengan beban-beban terhadap keselamatan orang lain,
maka ia akan berusaha untuk melepaskan beban itu dengan melayani mereka. TUHAN
Yesus menyatakan itu sebagai rezeki atau makanan (Yoh. 4:34). Pelayanan
merupakan pengabdian mutlak yang tidak bisa dihindari. Sebagai orang yang telah
ditebus oleh darah Yesus, kita harus hidup untuk kepentingan-NYA.

TUHAN Yesus berkata, "Barangsiapa melayani AKU, ia harus mengikut AKU dan di
mana AKU berada, di situpun pelayan-KU akan berada. Barangsiapa melayani AKU,
ia akan dihormati Bapa." (ay. 26) Pelayanan adalah gerak hidup manusia sampai
maut menjemput kita. Kita tidak boleh berhenti melayani sampai jantung kita
berhenti berdetak. Dengan memahami pelayanan seperti ini, maka setiap kita
tidak boleh berpikir berhenti melayani. Hidup kita harus difokuskan kepada satu
tujuan saja yaitu melayani TUHAN. Berhenti melayani berarti berhenti
menyelenggarakan kehidupan. Kehidupan ini menjadi benar-benar bernilai kalau
kita ada dalam pelayanan pekerjaan TUHAN. Sehingga prinsip hidup kita adalah
"Pelayanan adalah hidupku".


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
http://virtuenotes.blogspot.com

kawin beda agama...

Kawin Beda Agama, Mengapa Tidak ?


.karena cinta kuat seperti maut,

kegairahan gigih seperti dunia orang mati,

nyalanya adalah nyala api TUHAN!,

air yang banyak tak dapat memadamkan cinta.

~Kidung Agung 8:6-7

I. Pengantar

Kerapkali dilontarkan pernyataan bahwa cinta pada hakikatnya merupakan
sesuatu yang subtil dan menembus batas. Dikatakan subtil (halus/tak
kentara) karena memang misterius. Tak ada seorangpun yang mampu secara
pasti memahami mengapa, bagaimana dan kapankah cinta datang, bersemi serta
menghangatkan sanubari. Agaknya dari situ lantas jamak dipopulerkan idiom
jatuh cinta, mengingat kehadiran cinta yang tiba-tiba, layaknya seseorang
yang tiba-tiba terpelanting dan jatuh. Dan dikatakan menembus batas karena
memang itulah keniscayaan cinta. Semua bangunan tembok pemisah yang direka
oleh manusia seperti ras, adat, suku, budaya, bahasa, aturan main, ideologi
dan agama, pada kenyataannya tak dapat membendung nyala cinta. Karena
nyalanya adalah nyala api TUHAN! demikian sabda Kidung Agung.

Begitu sepasang anak manusia terhisap dalam pusaran cinta, maka secara
substantive sejatinya tiada yang dapat menghalangi kesatuannya. Dan
kalaupun toh dipaksa untuk berpisah, maka tentu akan segera bermunculan
kisah-kisah baru; kisah cinta berlatar tragedi sejenis Romeo and Juliet
ataupun Siti Nurbaya. Karenanya tak berlebihan jika kitab Kidung Agung di
dalam Perjanjian Lama memberikan apresiasi yang sangat mendalam akan
keagungan cinta: Begitu cinta membara, maka sungai-sungai tak dapat
memadamkan serta menghanyutkannya.

Dengan demikian cinta pada hakikatnya merupakan sesuatu yang sacred,
sakral. Bersumber dari kedalaman Kasih Sang Khalik sendiri.

Bahwa dalam perjalanannya cinta menjadi tidak lagi sakral dan tercemari
oleh banyak pengaruh profan yang bersumber dari kedagingan manusia,
sehingga pijar cinta memudar atau malah musnah, maka itu perkara lain.
Namun penghargaan terhadap cinta adalah sesuatu yang mutlak.

Maka dalam rangka menopang dan mengupayakan struktur pendukung bagi
keberadaan cinta, institusi perkawinan pun lantas hadir serta mengemuka.
Dan mereka yang hendak melangsungkan perkawinan pada prinsipnya tak boleh
dihalang-halangi. Seorang penjahat yang paling sadis pun diperkenankan,
dijamin atas nama cinta dan Hak Azasi Manusia, tidak boleh dilarang jika
meminta melangsungkan perkawinan. Konsekuensinya, hal yang sama juga
idealnya diberlakukan bagi sepasang anak manusia yang berbeda agama.Kawin
beda agama, mengapa tidak ?

II. Kawin beda agama (campur) dalam Alkitab

Jika mencermati kisah-kisah perkawinan dalam Perjanjian Lama, maka terdapat
penolakan, atau dengan kata lain, kata TIDAK atas frase kawin beda agama.

(Lihat kisah Ulangan. 7:1-11; Keluaran. 34:12-16; Maleakhi. 2:10-15; Ezra.
2:59-62; Nehemia. 7:61-64; 13:23-29.) Sebagaimana penelusuran kawan saya,
Pdt Andri Purnawan, penolakan tersebut dilatarbelakangi pemahaman bahwa
tatkala perkawinan beda agama dilakukan maka umat Yahweh yang secara
kuantitas jumlahnya jauh lebih kecil daripada umat/bangsa lain yang berbeda
agama akan terancam luntur.

Atas dasar kekuatiran lenyapnya Yahwehisme, demi alasan mengamankan
identitas, serta konservasi jumlah penganut iman yang sedikit, maka
munculah pelarangan dan penolakan terhadap kawin beda agama/beda suku. Umat
Yahweh hanya boleh kawin dengan sesama umat Yahweh, tidak boleh kawin
dengan goyim/yang bukan umat Yahweh.

Namun berdasar penelusuran Pdt Andri Purnawan, tak dapat dipungkiri pula
bahwa kenyataan dari perjumpaan dengan peradaban dan suku bangsa lain yang
beragam, menjadikan kawin beda agama sebagai realitas yang tak
terhindarkan. Andri mencatat bahwa, bahkan tokoh-tokoh besar Israel pun
mengalaminya, seperti diperlihatkan dalam :

Kej. 38 :1-2 (Yehuda kawin dengan Syua,wanita Kanaan)
Kej. 46: 10 (Simeon kawin dengan wanita Kanaan)
Kej. 41:45 (Yusuf kawin dengan Asnat, anak Potifera, imam di On-Mesir)
Kej. 26:34 (Esau dengan Yudit, anak Beeri orang Het)
Bil. 12:1 (Musa - sang pemimpin Israel - kawin dengan seorang perempuan
Kusy)


Bahkan dalam konteks tertentu malah diijinkan. Sebagaimana terdapat dalam
Ulangan 21:10-14. yang merupakan rangkaian dari perikop yang berbicara
mengenai hukum perang yang ditetapkan bagi orang Israel (lihat Ul. 20 -
21 :14). Andri mengungkapkan bahwa pada bagian ini dengan gamblang diatur
apabila Israel menang perang, menawan musuh dan diantaranya ada para
perempuan yang menarik, maka perempuan itu harus diperlakukan secara
manusiawi, dihormati hak-haknya.Lalu sesudah itu bolehlah engkau
menghampiri dia dan menjadi suaminya, sehingga ia menjadi istrimu. Dalam
konteks ini perkawinan dengan perempuan non-Israel/yang beragama lain
diijinkan supaya umat tidak terjatuh pada dosa kejahatan perang, dalam hal
perlakuan biadab terhadap para perempuan tawanan perang.

Dalam Perjanjian Baru (PB).

Andri Purnawan di dalam penelusurannya atas Perjanjian Baru mencatat
penggunaan teks 2 Kor. 6:14 yang berbunyi Janganlah kamu merupakan pasangan
yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan
apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang
dapat bersatu dengan gelap? yang merupakan teks favorit, yang paling sering
dikutip untuk melegitimasi pelarangan melakukan perkawinan dengan orang
yang berbeda agama.

Namun jika menilik konteksnya, Andri menerangkan bahwa sejatinya ayat itu
tidak ditujukan untuk melarang atau mendukung seorang Kristen menikah
dengan orang non-Kristen, melainkan lebih ditujukan bagi mereka yang baru
saja bertobat namun pasangannya masih memeluk kepercayaan yang lama.
Tujuannya jelas, yakni agar orang-orang Kristen/petobat baru, benar-benar
menerapkan kekudusan dalam hidupnya dan tidak lagi terjatuh dalam kehidupan
cemar yang masih menjadi gaya hidup pasangannya. Mereka dipanggil untuk
menularkan positive influence bagi pasangannya yang belum percaya. Paulus
tetap melarang orang-orang Kristen menceraikan pasangannya yang berbeda
iman, kecuali pasangannya yang menginginkan (lihat : I Kor. 7:12-16, I
Petrus 3:1-7).

Maka dengan demikian, berdasarkan penelusuran Andri diatas, dapat
diketengahkan pokok baru tentang kesucian.

Di dalam Yudaisme berkembang hukum halal-haram. Apabila yang suci bertemu
dengan yang cemar, maka yang suci dikalahkan oleh yang cemar, oleh yang
najis. Dari situ kemudian berkembang konsep separasi radikal yang
memisahkan secara dikotomis antara -mereka yang suci-dengan-mereka yang
najis.

Namun di dalam Perjanjian Baru konsep itu dirombak.

Yang suci tidak perlu bercerai dengan yang cemar. Umat tebusan tidak perlu
memisahkan diri dari umat yang bukan tebusan. Karena bukan hanya yang
najis/cemar saja yang dapat mempengaruhi. Yang suci pun juga mampu untuk
mempengaruhi yang cemar. Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan
oleh istrinya dan istrinya yang tidak beriman itu dikuduskan oleh
suaminya(1Korintus 7:14). Dan kenyataan ini menurut Pdt. DR Bambang Ruseno
merupakan proklamasi yang luar biasa.

Gusti Yesus sendiri, melalui aksiNya yang menyentuh langsung orang yang
terkena lepra, perempuan Samaria, perempuan yang kena pendarahan, dan
kumpulan manusia lain yang di dalam tradisi Yudaisme diklaim sebagai
golongan cemar/najis-pada hakikatnya telah membongkar pemahaman tentang
kesucian yang semula bersifat tertutup/eksklusif menjadi terbuka/inklusif.
Dan tentunya roh dari pemahaman ini diteruskan serta digemakan ulang oleh
Paulus selaku muridNya di dalam surat-surat penggembalaan, termasuk kepada
jemaat di Korintus.

Jika dikaitkan dengan kawin beda agama, maka tatkala yang berbeda dianggap
sebagai najis, secara teologis perkawinan itu tidak selalu bermakna bahwa
yang suci akan dicemarkan oleh yang najis, sehingga harus dilarang.
Melainkan dapat bermakna sebaliknya; yang najis sangat mungkin dipengaruhi
oleh yang suci melalui kesaksian keseharian hidup yang nyata. Sehingga
tidak harus dilarang.

III. Kawin beda agama: sejak sejarah Gereja hingga Hindia Belanda

Scisma ke II atau perpecahan gereja pada kisaran tahun 1500-1800 antara
Katolik versus Protestan sebenarnya diawali oleh perselisihan pada ranah
ajaran. Yang kemudian menjalar dan mengakibatkan pertentangan (perebutan)
kekuasaan secara politis. Perselisihan yang terjadi secara tak terelakkan
pada gilirannya memunculkan jurang pemisah.

Menurut L.M Gandhi SH (dalam: Pelaksanaan UU Perkawinan dalam perspektif
Kristen, BPK-GM, 1994, hlm 131) semula orang katolik dilarang untuk kawin
dengan non katolik. Dan mengingat gereja Katolik berkuasa maka di wilayah
Eropa awalnya perkawinan tunduk pada hukum dan ketentuan gereja. Karenanya
pemberlakuan hukum perkawinan bersifat kaku dan eksklusif.

Namun seiring dengan semangat reformasi yang melanda zaman itu, pada
gilirannya di Eropa timbulah protes serta gejolak pemberontakan terhadap
kekuasaan gereja. Maka pasca revolusi Perancis, akhirnya diundangkanlah
Code Civil. Dengan demikian perkawinan memperoleh babak baru; diatur
sebagai perkara sekuler, ditata dalam hukum perdata yang dibedakan serta
tidak lagi berada dalam ranah kewenangan gereja/agama. Konsekuensinya
seseorang bisa saja meminta untuk dicatatkan perkawinannya oleh Negara
(legitimatio), namun tidak merasa perlu untuk meminta pemberkatan
(konfirmatio) pada pihak gereja.

Pada masa Hindia Belanda, semula dalam rangka mencegah percampuran
identitas yang disinyalir dapat meruntuhkan bangunan kastayang dibuat
penguasa, maka VOC menekankan separasi/pemisahan secara ketat. Dan ketika
pada 1799 VOC menyerahkan kedaulatan ke tangan pemerintah Hindia Belanda,
kebijakan pelarangan kawin campur juga masih diberlakukan. Artinya, orang
Belanda dilarang keras kawin dengan pribumi/bumiputra. Orang Indonesia
Kristen juga dilarang melakukan perkawinan dengan non Kristen. Sebagai
dampaknya, banyak pasangan yang berupaya menyiasati dengan melakukan kumpul
kebo atau melakukan perkawinan tersembunyi.

Namun mengingat dinamika perjumpaan antar manusia yang muskil begitu saja
dapat dihalangi, pada perkembangannya seiring dengan terbitnya kesadaran
baru terhadap keberadaan cinta yang memang tidak seharusnya dihalangi maka
pada tahun 1848 larangan kawin beda agama pun dicabut. Lantas pemerintah
Hindia Belanda menerbitkan aturan serta hukum materiil yang mendasari
perkawinan beda agama yang disebut sebagai: Regeling op de Gemengde
Huwelijk disingkat GHR, Staatsblaad.1989 no 158.

Di dalam GHR pasal 7 ayat 2 terdapat klausul yang berbunyi:
Perbedaan agama, bangsa atau asal sama sekali bukanlah menjadi halangan
untuk perkawinan itu.

IV. UU perkawinan No 1/1974 & implikasinya terhadap kawin beda agama

Ketika Indonesia Merdeka pada tahun 1945, muncul semangat untuk secara
mandiri mengatur landasan bagi kehidupan bersama di bumi Indonesia, yang
didasari oleh Pancasila. Kemudian dalam prosesnya diajukan dan dibahaslah
rancangan undang-undang (RUU) perkawinan yang berdasarkan Pancasila,
bersifat Nasional, berlaku bagi seluruh warga negara serta menjamin
kepastian hukum.

Semula pasal 2 ayat 1 RUU Perkawinan berbunyi:
Perkawinan adalah sah apabila dilakukan di hadapan pegawai pencatat

perkawinan, dicatat dalam daftar pencatat perkawinan oleh pegawai tersebut,
dan dilangsungkan menurut ketentuan Undang-Undang ini dan atau ketentuan
hukum perkawinan pihak-pihak yang melakukan perkawinan, sepanjang tidak
bertentangan dengan Undang-Undang ini (Albert Hasibuan, Beberapa Pokok
Pikiran Tentang Penyelesaian masalah perkawinan campuran, dalam Pelaksanaan
Undang-Undang Perkawinan dalam perspektif Kristen, Jakarta:BPK-GM, 1994,
hlm77-79)

Namun menurut Albert Hasibuan, pembahasan RUU tersebut mendapat reaksi dan
protes keras dari golongan yang menghendaki berlakunya hukum agama di dalam
peraturan perundangan perkawinan. Reaksi keras tidak hanya menyangkut
sahnya perkawinan, tetapi juga tentang asas monogami, perceraian,
perwalian, termasuk juga pasal (11) ayat (2) RUU yang memuat ketentuan
yang memungkinkan kawin beda agama.

Maka ketika Undang Undang Perkawinan disahkan, muncullah ketentuan yang
bersifat kompromistis. Albert mengungkapkan bahwa UU Perkawinan no 1/1974
dikatakan kompromistis karena memberlakukan hukum agama menjadi hukum
positif, sebagai hukum Negara: pada akhirnya Pasal 2 ayat 1 UU no 1/1974
berbunyi:
Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu

Jadi yang semula di dalam draft RUU, sahnya perkawinan adalah jika
dilakukan di hadapan Negara, kini sahnya perkawinan adalah ketika dilakukan
menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan. Dan tentang kawin beda
agama dalam RUU pasal 11 ayat 2 menjadi dihilangkan (di-drop). Namun tetap
timbul kesimpangsiuran dalam menafsirkan pelaksanaannya. Terutama berkaitan
dengan kawin beda agama.

Di dalam UU No.1/1974 pasal 57 memang diatur tentang kawin campur, dan yang
dimaksud adalah:
perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang
berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak
berkewarganegaraan Indonesia.

Sementara untuk perkawinan campuran antara dua orang yang berbeda agama
sama sekali tidak diatur. Maka jelas terdapat kekosongan hukum. Dengan
demikian dapat dipahami jika alasan ketiadaan aturan kerapkali digunakan
sebagai justifikasi/dasar pembenar dari pihak Catatan Sipil, lembaga agama,
bahkan Gereja, guna menolak mereka yang hendak melangsungkan perkawinan
beda agama.

Namun jika dicermati di dalam ketentuan peralihan pasal 66 UU No.1/1974,
terdapat pernyataan yang berbunyi:
untuk perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan
berdasarkan atas Undang-Undang ini, maka dengan berlakunya Undang-Undang
ini, ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (Burgerlijk Wetboek), Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen
(Huwelijk Ordonantie Christen Indonesiers S. 1933 No.74), Peraturan
Perkawinan Campuran (Regeling Op De Gemengde Huwelijken S.1898 No.158), dan
peraturan peraturan lain yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah
diatur dalam Undang-Undang ini, dinyatakan tidak berlaku.

Sehingga menurut Albert Hasibuan, dengan mendasarkan diri pada
penafsiran a-contratio atau tafsir yang membandingkan perbedaan
dan melihat sisi sebaliknya, maka kalimat sejauh telah diatur, sejatinya
dapat berarti bahwa Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling Op De Gemengde
Huwelijken S. 1898 No 158, yang disingkat GHR) masih tetap berlaku, dan
dapat digunakan, mengingat bahwa aturan tentang kawin beda agama memang
belum ada dan belum diatur di dalam UU no1/1974.

V. Konsekuensi eklesiologis

Pasal 66 di atas pada gilirannya mendasari terbitnya akta KETETAPAN SIDANG
MPL-PGI NOMOR 01/MPL-PGI/1989 Mengenai Pemahaman Gereja-Gereja di Indonesia
tentang Sahnya Perkawinan dan Perkawinan Bagi Warga Negara Yang Berbeda
Agama. Ketetapan yang dirumuskan dalam persidangan Persekutuan
Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor pada 29
April 1989, juga menetapkan konsekuensi eklesiologis; bahwa gereja dapat
memberkati perkawinan beda agama.

Lantas bagaimana dengan Greja Kristen Jawi Wetan ?

Sebagai dasar kiprah dan gerak langkah gereja, maka tersebutlah Tata dan
Pranata GKJW terbitan Majelis Agung tahun 1996. Di dalam bagian pranata
tentang perkawinan memang sama sekali tidak terakomodasi pergumulan yang
terkait dengan kawin beda agama. Dalam Bab IV.Hal Khusus, pasal 16 bahkan
sayup-sayup terdengar gema paradigma eksklusivisme, ketika diungkapkan
bahwa:
apabila ada suami-istri yang salah satunya masuk Kristen, perkawinannya
belum dapat disahkan secara gerejawi

Dengan demikian yang perkawinannya dianggap sah secara gerejawi hanyalah
mereka yang sama-sama menganut agama Kristen. Jika hanya salah seorang yang
menganut agama Kristen maka tidak sah. Sementara secara biblical sejatinya
jelas bertolak belakang dengan semangat pemahaman 1 Korintus 7:14 yang
bercorak inklusif.

Faktanya, GKJW memang menghadapi pergumulan mengenai kawin beda agama.
Bahkan secara strategis GKJW pernah berkorespondensi langsung dengan Dirjen
BIMAS Kristen Departemen Agama RI, menyoal kawin beda agama, yang kemudian
dibalas per tanggal 29 September 1976.

Di dalam isi surat balasan, dikemukakan persetujuan BIMAS Kristen Depag RI
tentang kesimpulan dan penjelasan GKJW terkait pasal 66 UU No.1/1974 yaitu:
a. Hal-hal yang sudah diatur dalam UU No 1/1974, maka peraturan yang sudah
ada sebelumnya tidak berlaku, sebab yang berlaku adalah peraturan yang
sekarang.
b. Mengenai hal-hal yang belum diatur di dalam UU1/1974, maka peraturan
yang sudah ada sebelumnya dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah-masalah
ini, dengan demikian pasal (75) dari HOCI masih berlaku.

Hanya saja, kala itu yang digunakan GKJW sebagai dasar hukum argumentasi
kawin beda agama bukanlah GHR melainkan HOCI/Huwelijk Ordonatie Christen
Indonesier, pasal 75, yang juga mengatur ketentuan tentang kawin beda agama.

Dengan demikian di satu sisi, secara tekstual, dengan mendasarkan pada
Tata-Pranata tahun 1996, GKJW terlihat menganut paham eksklusivisme.
Menutup diri terhadap kemungkinan kawin beda agama. Berkat perkawinan
dipahami hanya secara eksklusif diperuntukkan kepada sesama umat tebusan.
Karenanya bagi suami-istri yang salah satunya masuk Kristen, perkawinannya
belum dapat disahkan oleh gereja.

Padahal secara hakiki, gereja bukanlah Kristus.Gereja bukanlah sumber
berkat, melainkan hanyalah sekadar sarana guna mengejawantahkan berkat yang
bersumber dari Tuhan sendiri.

Di sisi lain, secara factual, GKJW di dalam praksisnya sebenarnya nampak
tidak begitu saja menutup mata terhadap dinamika konteks yang membutuhkan
perhatian dan pelayanan nyata. Buktinya, ketika terdapat pergumulan terkait
keberadaan warga yang hendak kawin beda agama, GKJW tidak tinggal diam. Ada
upaya untuk melayani dan merengkuh. Dan komitmen pelayanan tersebut
setidaknya terlihat dengan keberadaan surat advokasi/pembelaan kiriman PHMA
kepada BIMAS Kristen Depag RI pada tahun 1976 yang berisi saran dan meminta
persetujuan bagi penggunaan dasar hukum HOCI pasal 75, guna mendukung
terlaksananya kawin beda agama secara konstitusional.

Jadi, dengan mengingat bahwa Tuhan itu baik bagi semua orang dan penuh
rahmat terhadap yang dijadikanNya (Maz 145:9), serta dengan memperhatikan
tema Program Kegiatan Pembangunan (PKP) GKJW yang selama ini selalu
berorientasi pada upaya untuk menjadi rahmat bagi sesama dan dunia, maka
GKJW perlu menegaskan sikapnya bahwa pada prinsipnya Greja Kristen Jawi
Wetan mengakui dan menghargai perkawinan beda agama.

Ketika prinsip ini diamini, artinya GKJW berani menegaskan bahwa agama
sebagai hasil konstruksi manusia tidak seharusnya digunakan untuk
menegasikan/meniadakan cinta sebagai sesuatu yang ultimate dan sacral.

Sehingga konsekuensinya, tatanan/pranata yang tertulis pun harus direvisi
guna menyelaraskan dengan prinsip yang digenggam. Konsekuensi berikutnya,
jika terdapat pasangan yang hendak meminta pemberkatan kawin beda agama,
maka Majelis Jemaat tidak diperkenankan untuk menolak dan harus tetap
melayaninya. Termasuk juga turut mendampingi prosesnya untuk ke Catatan
Sipil, atau ke Pengadilan Negeri, guna mendapat yurisprudensi yang bisa
digunakan sebagai dasar pencatatan sipil.

VI. Beberapa keberatan dan kesulitan teknis.

Walaupun demikian bukan berarti kawin beda agama tidak menemui hambatan.
Saya mencatat beberapa keberatan yang muncul, salah satunya yang
dilontarkan oleh sobat Andri Purnawan:
Ketidaksamaan standar moral etis dalam sebuah keluarga bisa saja terjadi.
Dan sangat mungkin menjadi awal dari sebuah bencana besar dalam hidup
berkeluarga, terutama jika keluarga itu berhadapan dengan problem rumah
tangga. Misalnya : yang satu mengharamkan perceraian, sementara yang lain
mengatakan boleh. Yang satu memegang erat asas monogami, yang lain
mengatakan boleh poligami asal adil, dan masih banyak masalah yang lain,
termasuk menyangkut makanan perihal halal/haram, ada tidaknya meja pemujaan
di rumah, dsb. Ada lagi satu pertanyaan prinsip. Siapakah yang menjadi
kepala rumah tangga? Tentu bukan lagi Kristus. Dampaknya keluarga tersebut
bisa jadi tidak akan dapat memainkan peran dalam menjawab tugas kerasulan
untuk menjadi garam dan bercahaya bagi Kristus. Jika dipaksakan untuk terus
berjalan sendiri? Bisa! Tapi sehatkah keluarga yang demikian?

Argumentasi di atas memang benar. Itu sangat mungkin terjadi. Namun yang
pertama, bahaya perpecahan dan ketidakmampuan untuk mentolerir
perbedaan/ketidaksamaan standar moral, sejatinya tidak hanya melulu menjadi
resiko yang harus dihadapi oleh mereka yang melangsungkan kawin beda agama
saja, melainkan menjadi resiko dan bahaya yang harus diantisipasi secara
bijak oleh setiap semua pasangan yang membangun rumah tangga-apapun
agamanya. Memang diperlukan pengelolaan dan kebijaksanaan bagi mereka yang
melakoni kawin beda agama, namun bukan berarti dapat diklaim begitu saja,
bahwa seolah-olah mereka yang kawin beda agama jauh lebih rentan untuk
mengalami bencana besar jika dibandingkan dengan mereka yang kawin seagama.

Apakah sebilah pisau yang mempunyai faktor resiko dapat melukai tangan dan
potensial digunakan sebagai alat pembunuhan harus dilarang keberadaannya?
Tidak begitu bukan?!. Walaupun mengandung resiko, namun tidak berarti bahwa
keberadaan pisau harus sama sekali dilarang peredarannya.

Maka demikian pula dengan kawin beda agama. Keberadaan resiko dalam
perkawinan dua orang yang berbeda agama, tidak dapat dibawa begitu saja
pada kesimpulan untuk menegasikan/melarang kawin beda agama.

Bahwa kemudian dipandang perlu untuk memberikan touchstone yang
mendeskripsikan secara rinci faktor resiko dalam kawin beda agama, maka ini
menjadi kewajiban Gereja guna memaparkan dan mendampingi dalam proses
katekisasi khusus.

Yang kedua, terkait dengan asumsi triumphalistis, yang mengklaim bahwa
keluarga beda agama tidak akan mampu menjawab tugas kerasulan untuk menjadi
garam dan terang. Asumsi tersebut menurut saya dibuat melalui kacamata
eksklusif, dengan penekanan bahwa hanya yang sewarna-lah yang dapat
mewujudnyatakan misi. Yang berbeda warna tidak.

Maka sebaliknya, adakah jaminan bahwa yang sewarna/keluarga kristen dapat
secara tuntas mewujudnyatakan garam dan terang, serta memberlakukan Misio
Dei secara tuntas dan total?

Jika menjadi garam dan terang sejatinya terkait dengan perilaku keseharian,
yang diwujudkan melalui ujaran, pikiran dan tindakan yang dilingkupi kasih,
maka tidakkah mungkin bagi keluarga yang berbeda agama untuk menghadirkan
harmoni dan kedamaian melalui kisah hidup keseharian mereka?

Saya pikir kemungkinan itu senantiasa terbuka lebar. Dan ketika taruhlah
sesuatu yang baik, yang indah, yang sedap didengar, yang dilandasi oleh
kasih serta kebenaran hadir dan muncul sebagai buah hidup dari keluarga
beda agama, maka bukankah sejatinya hal tersebut juga merupakan upaya
pemberlakuan kehendak Allah?

Di dalam Yohanes 14:15 Gusti Yesus berujar, Jikalau kamu mengasihi Aku,
kamu akan menuruti segala perintahKu. dan dalam Yoh 15:17 Gusti Yesus
mengungkapkan bahwa: Inilah perintahKu kepadamu: Kasihilah seorang akan
yang lain.

Maka ketika keluarga beda agama memberlakukan kasih secara nyata, tidakkah
mereka dapat disebut sebagai keluarga yang menuruti perintah Tuhan dan
membiarkan nilai-nilai Kristus untuk mengepalai serta menutun rumah tangga
mereka?

Yang artinya secara tidak langsung juga dapat disebut sebagai keluarga yang
dikepalai oleh Kristus sendiri bukan?!

Kesulitan teknis

Beberapa pertanyaan terkait dengan kesulitan teknis.

Bagaimana dengan formulir N1-N5 yang dibuat dengan asumsi sama agama?
Bagaimana pula dengan KTP yang disyaratkan oleh catatan sipil harus seagama?

Mengingat kawin beda agama merupakan kasus khusus, maka formulir N1-N5
diisi sesuai prosedur, dan sertakan juga KTP secara apa adanya. Agama tak
perlu direkayasa untuk disamakan. Ketika catatan sipil tidak bersedia
menerima pengajuan kawin beda agama dan tetap menolak walaupun telah
disodorkan argumentasi dengan mendasarkan pada ketentuan peralihan UU No
1/1974 pasal 66, yang memungkinkan berlakunya HGR/HOCI, maka artinya greja
harus memiliki kebijaksanaan khusus.

Dasar bagi kebijaksanaan khusus adalah UU No 1/74 pasal 2 ayat 1, yang
menyebutkan bahwa perkawinan sah menurut hukum masing-masing agama.

Maka dengan demikian, majelis jemaat memiliki kewenangan untuk mengesahkan
kawin beda agama dan membuat Surat Tanda Pengesahan Kawin Beda
Agama/SuTaPKaBA (sehingga memenuhi kaidah sesuai hukum masing-masing
agama). Setelah itu SuTaPKaBA diberikan pada catatan sipil untuk
dicatatkan. Namun jika pihak Catatan Sipil masih menolak, dan tidak
bersedia menerima, maka dengan dasar surat penolakan tersebut, dimintakan
yurisprudensi ke Pengadilan Negeri supaya diterbitkan surat perintah
pencatatan.

Bagaimana jika ada yang hendak melangsungkan kawin beda agama, namun tidak
bersedia diberkati di gereja?

Maka -sebagaimana dituturkan oleh Pdt. Sumardiyono mekanismenya dapat
diatur melalui persidangan Majelis Jemaat khusus yang agenda tunggalnya
adalah mengesahkan perkawinan beda agama. Di dalamnya tidak ada berkat.
Hanya doa.

Bagaimana jika ada yang bersedia diberkati di gereja, namun dengan tetap
meminta pengakuan dan penghargaan atas perbedaan keyakinan yang dianutnya?

Mengapa tidak. Artinya, gereja dapat menghadirkan pemuka agama sesuai
dengan agama yang dianut oleh salah seorang mempelai. Sebagaimana yang
diberlakukan di GKJ Salatiga, pemberkatan perkawinan dapat dilakukan oleh
pendeta dan kiai, secara bersamaan sekaligus, dengan menggunakan liturgi
khusus.

Dibalik kesemuanya ini, segala sesuatu yang teknis pada hakikatnya hanya
mengikuti dari hal-hal yang bersifat prinsip. Maka ketika secara prinsip
gereja memutuskan untuk mengubah dirinya dari paradigma iman
eksklusif/tertutup ke paradigma iman yang inklusif/terbuka, maka yang
teknis dapat ditata dengan mendasarkan diri pada hal-hal yang prinsip.
Akhirnya, perkawinan beda agama pada konteks tertentu, jika memang harus
terjadimengapa tidak.***

Bahan rujukan:

- UU Perkawinan No.1 tahun 1974.

- Pdt. Andri Purnawan, Nikah Beda Agama, Mungkinkah?, di posting pada
www.gkjwcaruban.org/.

- Weinata Sairin, J.M Pattiasina, ed., Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan
dalam Perspektif Kristen, himpunan telaah tentang perkawinan di lingkungan:
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, BPK-GM, 1994.

-Tata dan Pranata Greja Kristen Jawi Wetan, Majelis Agung GKJW, 1996

menolak agen assuransi

Jika Anda Ingin Menolak Agen Asuransi

Pasti sangat mengesalkan jika terus menerus dikejar-kejar oleh agen
asuransi. Semakin Anda menolak, semakin gigih usahanya untuk membuat Anda
membeli produk mereka. Asuransi sebenarnya tidak selalu berkonotasi negatif
karena dalam kenyataannya asuransi sangat berguna. Tetapi jika Anda ingin
menolak asuransi tersebut, berikut ini beberapa cara untuk menolak agen
asuransi yang mendatangi Anda, sebagai berikut: Jangan katakan
bahwa Anda tidak punya uang untuk beli asuransi. Karena agen asuransi akan
melihatnya sebagai kesempatan. Ia beranggapan bahwa orang yang tidak mampu
membeli asuransi sebenarnya justru orang yang lebih membutuhkan asuransi
dibandingkan dengan orang yang mampu membelinya kemudian dia akan
mengatakan bahwa asuransi adalah rekening ajaib yang akan dapat mengurus
pembayaran semua tagihan-tagihan lainnya jika anda menderita sakit kritis,
cacat tetap, atau meninggal dunia. Jangan katakan bahwa Anda
masih punya cicilan kredit rumah. Karena dia akan mengatakan apakah Anda
masih bisa memenuhi kewajiban tersebut, jika anda meninggal dunia atau
mengalami cacat tetap sebelum cicilan kredit tersebut selesai. Dan dia akan
menyarankan Anda untuk memastikan keluarga anda akan tetap tinggal di rumah
yang indah, rumah yang telah anda berikan bagi mereka untuk selamanya
dengan Anda mengikuti asuransi. Jangan katakan Anda tidak
membutuhkan asuransi. Karena dia akan mengatakan bahwa asuransi harus
dibeli justru pada saat Anda tidak membutuhkannya. Karena pada saat Anda
membutuhkannya, mungkin Anda sudah tidak dapat membelinya lagi. itulah
Asuransi. Anda hanya dapat membeli asuransi ketika Anda sehat. Anda membeli
asuransi dengan kesehatan Anda dan membayarnya dengan uang Anda. Dia akan
meyakinkan Anda bahwa Inilah saat yang tepat bagi Anda untuk membeli
asuransi. Jangan katakan bahwa Anda akan mendiskusikan dulu
dengan istri Anda. Hal ini akan menempatkan istri Anda ke dalam keadaan
yang sulit, selain itu agen asuransi itu akan mengatakan bahwa asuransi
adalah hadiah yang terbaik yang Anda belikan untuk istri Anda jadi
sebaiknya Anda tidak perlu berdiskusi dengan istri Anda. Jangan
katakan bahwa Anda akan membandingkan dengan Asuransi perusahaan lain lebih
dulu. Meskipun ini adalah gagasan yang baik, namun Anda tidak akan
benar-benar mendapatkan perusahaan asuransi yang menurut Anda terbaik.
Karena pasti akan ada kelemahan Dengan kata lain, jika Anda benar-benar
melakukannya, Anda sedang membuang waktu Anda. Asuransi sebenarnya
sangat berguna untuk Anda tetapi jika Anda benar-benar ingin menolak,
hal-hal di atas mungkin akan mengurangi tekanan dari agen asuransi.
Source : vivanews.com/dan/jawaban.com

Why Not The Best?

Why Not The Best?

2 Korintus 5:11–21

5:11 Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan
orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata
juga demikian bagi pertimbangan kamu.

5:12. Dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada
kamu, tetapi kami mau memberi kesempatan kepada kamu untuk memegahkan kami,
supaya kamu dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah
dan bukan batiniah.

5:13 Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah dalam pelayanan Allah,
dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah untuk kepentingan kamu.

5:14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa
jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.

5:15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak
lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah
dibangkitkan untuk mereka.

5:16. Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia.
Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak
lagi menilai-Nya demikian.

5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama
sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

5:18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah
mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan
pendamaian itu kepada kami.

5:19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak
memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu
kepada kami.

5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati
kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah
dirimu didamaikan dengan Allah.

5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita,
supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.


Karena TUHAN telah memberikan dirinya sendiri, tidak ada alasan bagi kita untuk
tidak memberi yang terbaik bagi TUHAN. Masalahnya adalah, apakah yang terbaik
itu? Yang terbaik bukan diukur dari jumlah pemberian atau persembahan. Dalam ay.
14–15, dinyatakan bahwa tidak ada persembahan yang dikatakan terbaik,
kecualisemuanya harus dipersembahkan, artinya kita sudah mati, tidak ada yang
tersisa pada kita. Bukan diukur pada jumlah yang diberikan, tetapi sisa yang
masih di simpan untuk diri kita sendiri. Yang terbaik menyangkut sikap hati,
artinya yang kita persembahkan bagi TUHAN diukur dari hati kita. Hati ini diukur
dari perkenanan TUHAN atas apa pun yang kita lakukan (harus ada dalam
pemerintahan TUHAN). Hati juga diukur dari kecintaan kita kepada TUHAN.

Persembahan yang terbaik kepada TUHAN adalah sikap mengembalikan kepada-NYA,
bukan memancing berkat TUHAN. ALLAH menghendaki kita memberi apa yang terbaik
bagi-NYA. Hal ini jelas dapat kita mengerti, sebab seharusnya DIA yang Tertinggi
memang layak menerima persembahan yang terbaik. Kesediaan kita memberi yang
terbaik bagi TUHAN adalah ciri kedewasaan kita dan kecintaan kita kepada TUHAN.
Pemberian tanpa kerelaan pastilah pemberian palsu.

Yang terbaik juga menyangkut waktu yang tepat untuk berbuat bagi TUHAN.
Persembahan yang bukan pada waktunya bisa tidak berarti. Pada waktu kita diberi
kesempatan untuk mencari TUHAN dan bertobat, maka haruslah kita gunakan
kesempatan ini sebaik mungkin. TUHAN Yesus mengatakan, "Bekerjalah selagi hari
siang" (Yoh. 9:4). Kita harus mulai saat ini, sebab kesempatan yang diberikan
TUHAN bisa berlalu dan kita kehilangan kesempatan selama-lamanya. Jangan
berpikir bahwa kesempatan bisa diatur dan ditentukan oleh diri sendiri, sebab
kesempatan hari ini tidak bisa ditukar dengan kesempatan hari esok. Kesempatan
hari ini adalah untuk hari ini, besok bisa lain ceritanya. Maka apakah
kesempatan tersebut menjadi berkat ataupun kutuk, menjadi bagian kita untuk
mengarahkan pilihan kita.

Maka sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh-NYA, mengapa kita masih tidak
mau memberikan yang terbaik? Dengan menghargai anugerah keselamatan-NYA, tidak
mungkin kita tidak memberikan yang terbaik. Sekarang saatnya kita berkata dengan
tulus kepada TUHAN, "Berbicaralah TUHAN, hamba-MU mendengar".


Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
http://virtuenotes.blogspot.com

Jalan Menuju Kebahagiaan adalah Belajar Menjadi Rendah hati

Kunci Menuju Kebahagiaan Belajar
Menjadi Rendah Hati


Matius 5:3, "Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena
merekalah yang empunya Kerajaan Sorga."

Pendahuluan

Americans in
Psycology Today melakukan survey dengan memberikan pertanyaan kepada 52.000
orang untuk mengetahui apa yang dapat membuat seseorang menjadi berbahagia.
Jawaban-jawaban yang masuk semuanya berkaitan erat dengan ketertarikan akan
keadaan yang tepat.

Lembaga Survey
ini mendapatkan jawaban bahwa hal-hal yang membuat mereka menjadi
berbahagia adalah: sahabat atau status sosial, kondisi keuangan yang baik;
memiliki rumah atau apartemen; menjadi langsing, cantik dan menarik; berlibur
ke luar negeri; menjadi orang tua, menikah dan memiliki anak; dan sebagainya.

Gambaran
kebahagiaan berdasarkan survey tersebut adalah mendapatkan keadaan yang tepat.
Dengan kata lain, saya bisa menyimpulkan bahwa pola pikiran banyak orang
tentang arti berbahagia adalah "jika dan maka."

·
Jika saya mendapat sekolah, maka saya bahagia

· Jika saya
mendapat pekerjaan, maka saya bahagia

· Jika saya
menikah, saya bahagia

· Jika saya
punya anak, saya bahagia

·
Jika saya punya banyak uang, saya bahagia

Salomo pernah mencari arti kebahagiaan, ia mengejar dan
berusaha dengan segenap kekuatannya mencari kebahagiaan itu sepanjang hidupnya.


Aku berkata dalam hati: "Mari, aku hendak menguji
kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itupun sia-sia." [Peng 2:1]
terjemahan BIS: "Aku memutuskan untuk menyenangkan diri saja untuk mengetahui
apa kebahagiaan. Tetapi ternyata itu pun sia-sia"

Ada 3 [tiga] hal yang dilakukan Salomo untuk mendapatkan
kebahagiaan itu, jika Anda membaca Kitab Pengkotbah pasal 2:

1.
Mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyak;

2. Menikmati kesenangan tanpa
membatasi diri;

3.
Mencapai sukses

Bukankah ketiga hal ini juga yang dikejar abis-abisan
oleh banyak orang sepanjang hidup mereka? Salomo adalah orang yang sangat amat
kaya. Ia menikmati berbagai macam kesenangan. Ia pun seorang yang sangat
berhasil dalam hidupnya.

Kita suka berpikir bahwa dengan mengumpulkan kekayaan
sebanyak-banyaknya maka kita akan berbahagia. seseorang pernah bertanya kepada
orang yang sangat kaya, Howard hughes, berapa banyak uang yang dapat membuat Anda
menjadi bahagia? Ia menjawab, "sedikit lebih banyak lagi uang dari yang ada
sekarang ini." Di sini nampaknya, uang tidak memberikan kebahagiaan sejati
sebab kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang.

Kita pun menikmati berbagai macam kesenangan: berlibur,
shopping, melakukan berbagai kegiatan kesukaan [hobbi] dan sebagainya. Salomo
berkata, "Saya sudah mencoba berbagai macam kesenangan dan saya tidak mengekang
diri untuk menikmati kesenangan."

Mencapai sukses. Jika saya bisa membuat orang berdecak
kagum dengan sukses saya, maka saya akan bahagia. Salomo berkata, "Saya adalah
seorang raja dari sebuah kerajaan besar dan kuat. Saya memiliki budak laki-laki
dan perempuan tetapi, semuanya itu tidak pernanh menjadikan saya berbahagia." Hal
itu ditulisnya dalam Kitab Pengkotbah

"Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah
dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih
payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin;
memang tak ada keuntungan di bawah matahari." [Peng 2:17]

Bayangan dalam pikiran banyak orang berbahagia itu jika
mengalami keadaan yang tepat, namun jalan Tuhan untuk berbahagia adalah jika
kita memiliki sikap hati yang tepat.

Jalan Masuk Pertama Menuju Kebahagiaan: Rendah
Hati

Dalam Matius 5, Tuhan Yesus memberikan kotbah yang
terkenal di atas bukit, di awali dengan kotbah 8 [delapan] kata bahagia. Mengapa
dalam kotbah pembukaan Tuhan Yesus memilih topik bagaimana menjadi berbahagia?
karena kita semua tahu bahwa setiap orang selalu mengejar kebahagiaan tetapi
hanya sedikit yang mendapatkannya.

Suatu kali Tuhan berpikir ingin memberikan kebahagiaan
kepada manusia. Dia memanggil tiga malaikat-Nya untuk meminta pendapat mereka,
"Dimana kebahagiaan itu harus di letakkan?" Malaikat pertama menjawab,
"letakkanlah di bawah dasar samudera, agar tidak sembarang orang bisa
menemukannya." Malaikat kedua menimpali, "Letakkanlah di atas pengunungan
tertinggi, agar lebih mudah ditemukan." Tuhan menjawab mereka, "Janganlah
diletakkan ditempat yang terlalu sukar, nanti hanya sedikit orang yang
menemukannya. Tetapi juga janganlah diletakkan di tempat yang terlalu mudah,
nanti tidak dihargai oleh manusia." Malaikat ketiga membisikkan jawabannya
kepada Tuhan. Tuhan pun mengangguk tanda setuju. Lalu pergilah ketiga malaikat
itu ke dunia, mereka meletakkan kebahagiaan itu di dalam hati manusia, bukan di
luar diri manusia.

Jika kita membaca kotbah Yesus tentang berbahagia, nampak
ada kontradiksi dengan pandangan banyak orang. Yesus mengajarkan jalan menuju
kebahagiaan bukan terletak pada keadaan yang tepat, bukan apa yang sedang
terjadi di luar diri manusia tetapi kebahagiaan itu terletak pada sikap hati
yang tepat, berada di dalam diri kita sendiri.

Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Anda harus memilih
untuk memiliki sikap yang tepat. Pada dasarnya, Anda bahagia hanya apabila Anda memilih
untuk berbahagia. hidup itu penuh dengan tantangan, kesulitan dan pencobaan. Ada
banyak hal yang berjalan tidak semulus apa yang diduga. Kadang hal-hal yang
baik menjauh dari diri kita. Tetapi, kebahagiaan tergantung pada pilihan
untuk memilih sikap yang tepat.

Jalan pertama menuju kebahagiaan adalah memiliki sikap
yang rendah hati.

Arti Misikin di Hadapan Allah

Matius 5:3, "Berbahagialah orang yang mskin dihadapan
Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga."

Apakah artinya miskin di hadapan Allah? Miskin di hadapan
Allah bukan berarti Anda harus menjadi orang yang rendah diri atau minder,
bukan berarti Anda harus berkata-kata sepanjang hari bahwa saya bodoh, saya
jelek, saya najis, saya tidak layak, saya tidak berharga dan sebagainya. Ingat
Yesus mati di salib untuk menebus manusia sebab manusia itu berharga, mulia,
dan berarti di mata Tuhan.

Arti miskin di hadapan Allah adalah bergantung kepada
Allah, menaruh harapan hanya pada Allah dan percaya kepada-Nya. Yesus sedang
bicara tentang 'kerendahan hati.' Keberanian untuk mengakui bahwa saya belum
memperoleh semuanya, saya belum mengerti semuanya tetapi saya masih mau
belajar, mengejarnya dan mencapainya.

Lawan kata dari miskin di hadapan Allah adalah arogan
atau congkak. Yesus berkata, "Jika kamu arogan dan congkak, kamu tidak akan
pernah menjadi orang yang berbahagia." Rendah hati dan berbahagia itu berjalan
bersama-sama, bagaikan saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan satu sama
lainnya. Seperti halnya: kebajikan dan kemurahan Tuhan yang selalu seiring dan
sejalan bersama-sama.

Bagaimana kerendahan hati meningkatkan kebahagiaan sejati

Pertama, kerendahan hati dapat mengurangi stress

Jika saya rendah hati, saya akan menyadari bahwa saya
belum mengerti semuanya dan saya belum mencapai semuanya. Saya tidak mempunyai
solusi atau jawaban untuk semua masalah. Saya berusaha menyelesaikan tugas dan
tanggung jawab saya sebatas kemampuan saya, selanjutnya hal-hal yang tidak bisa
saya selesaikan maka saya mengerti itulah bagian yang akan Tuhan selesaikan.

Jika saya rendah hati, saya tidak akan berpikir bahwa
jika bukan saya yang mengerjakan maka semua menjadi tidak beres. Saya mengerti
batas-batas kemampuan saya.

Jika saya rendah hati, saya tidak akan menuntut diri
saya harus "sempurna" karena saya tahu bahwa Tuhan tidak pernah menuntut
kesempurnaan supaya saya berbahagia.

Saat itu saya hendak berkotbah di salah satu gereja
besar di Jakarta, setelah saya selesai mandi, berpakaian lengkap, lalu menaruh
minyak rambut berupa gel di kepala saya – tibalah saatnya saya hendak menyisir.
Saya berusaha mencari 'benda berharga' itu di tas, di koper, di seluruh kamar hotel
ternyata saya tidak menemukan sama sekali. Ternyata saya lupa membawa 'sisir.'

Apakah saya mau menjadi stress karena masalah sisir? Atau
saya mau belajar rendah hati dengan tidak menuntut harus menyisir? Bukankah
hidup tidak selalu berjalan mulus, kadang ada saja yang 'tertinggal' "kelupaan"
atau 'kesalahan kecil' yang terjadi. Belajar berbahagia berarti belajar
untuk menjadi rendah hati.

Jika saya rendah hati, saya bisa menerima kenyataan
dengan apa yang seharusnya saya inginkan. Saya akan mengerti bahwa di sepanjang
hidup ini selalu ada 'jarak' antara kenyataan hidup dan apa yang seharusnya
terjadi. Kerendahan hati bisa menerima kenyataan hidup dan memilih untuk tetap
berbahagia. Mengapa? Karena Anda mau belajar bergantung kepada Tuhan, Anda percaya
kepada Kasih dan Kebaikan Tuhan.

Anda mungkin tidak mendapatkan pekerjaan yang terbaik
sekarang ini, pernikahan Anda tidak sempurna, tetapi Anda bisa menerimanya –
itulah arti miskin di hadapan Allah.

Saya terkesan sekali membaca kisah seorang guru, bernama
Frank Slazak, yang memiliki impian menjadi seorang astronot. Ia ingin terbang
ke luar angkasa. Ia berhasil lolos seleksi 100 besar dari 43.000 orang pelamar.
Ujian penilaian terakhir dilakukan lewat uji kalustrofobi, latihan ketangkasan,
percobaan mabuk udara. Ia begitu berharap bisa lulus. Ia bertekun di dalam doa.
Lalu tibalah berita yang menghancurkan hatinya. NASA memilih Christina
McAufliffe.

Frank Slazak kalah. Ia mengalami depresi. Rasa percaya
dirinya lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaan dirinya. frank
mempertanyakan semuanya itu. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang
mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan begitu kejam? Ia berpaling pada
ayahnya. Ayahnya berkata kepadanya, "Semua terjadi karena suatu alasan."

Selasa, 28 januari 1986, Frank berkumpul bersama
teman-temannya untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati
menara landasan pacu, ia menantang impiannya untuk terakhir kalinya. Tuhan, aku
bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?
Tujuh puluh detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaannya dan menghapus
semua keraguannya saat Challanger meledak dan menewaskan semua penumpang, lalu
ia teringat kata-kata ayahnya, "Semua teradi karena suatu alasan."

Frank berkata, "Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu,
walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk
kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah;
aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak,
masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan."

Jika saya rendah hati, saya bisa menghindari stress yang
berkepanjangan sebab kita mau bergantung dan percaya kepada Tuhan. Jika saya
bisa mengurangi stress hal ini berarti saya bisa meningkatkan kebahagiaan hidup
saya.

Kedua, kerendahan hati dapat meningkatkan kualitas
hubungan

Ada berapa banyak dari Anda yang suka berada di
tengah-tengah orang yang congkak, arogan dan egois? Anda tahu bahwa mereka
adalah orang-orang yang mudah tersinggung, senang menghakimi, Anda dibuat
menjadi serba salah, mereka senang memotong cerita Anda dan memberikan cerita
mereka yang lebih bagus. Saya yakin orang yang congkak, egois ataupun arogan
akan sulit membangun hubungan dengan orang lain.

Sifat-sifat tersebut adalah sifat yang merusak hubungan
baik dengan orang baik. Orang yang berpusat kepada diri sendiri adalah orang
yang tidak pernah berbahagia. orang yang tidak berbahagia mereka cenderung
membuat orang lain menjadi tidak bahagia. Mereka menyebarkan kemurungan,
kesusahan dan kegelisahan di hati orang lain.

Ada seorang Ibu yang sering keluar masuk Gereja dalam
usahanya menemukan sebuah gereja yang sempurna demi mendapatkan kebahagiaan
dalam hidupnya. Ibu tersebut masuk ke suatu gereja. Setelah satu bulan di
gereja ini, ia meninggalkannya sambil mengeluh, "Sebenarnya gereja ini cukup
baik, tetapi Gebala Sidangnya sombong dan tidak pernah mendatangi dan menyalami
saya."

Minggu berikutnya, ia masuk ke gereja terdekat lainnya.
Setelah dua bulan di gereja ini, ia memutuskan untuk meninggalkannya sambil
menggerutu, "Gembala Sidangnya tidak sombong, tapi istri Gembala Sidangnya
cerewet, saya tidak tahan lagi!"

Kebetulan masih ada satu gereja lagi yang cukup dekat
dengan rumahnya. Tetapi gereja ini juga belum memuaskan hatinya, ia berkata,
"Gembala Sidangnya baik, istrinya juga baik, tapi musiknya itu lho, kuno."

Demi mencari gereja yang sempurna dan mendapatkan
kebahagiaan sejati, saya rela mencarinya ke mana pun juga." Katanya. Ia
memutuskan untuk pergi ke gereja sahabatnya yang cukup jauh. Tetapi tetap saja
tidak cocok. Katanya, 'Gembala Sidang dan istrinya tidak sombong, musiknya juga
bagus, tapi majelisnya mata duitan, tempo hari ada dua orang anggota majelis
datang ke rumah buat minta modal usaha."

Akhirnya satu bulan kemudian, ia menemukan gereja yang
sempurna. Gembala dan Istrinya, para majelis, musik dan program gerejanya
sangat baik. Setelah beberapa bulan kehadirannya, gereja tersebut menjadi tidak
sempurna lagi. Kenapa?

Karena wanita itu ada di sana.

Siapakah di antara Anda yang suka bergaul dekat dengan
orang-orang yang rendah hati? Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah
menimbulkan kesan seolah-olah mereka lebih hebat. Saat Anda bercerita, mereka
tidak selalu memotong dan memberikan cerita lain yang lebih bagus lagi. Mereka
begitu tertarik dan peduli dengan Anda. Anda merasa dibesarkan hatinya dan
semakin bertambah semangatnya.

Ketika kita rendah hati, bukan berarti kita adalah orang
menjadi yang tidak percaya diri, takut salah, takut disalahkan. Orang yang
rendah hati, ia selalu tertarik dan peduli dengan orang lain, ia selalu
berusaha membuat orang lain itu menjadi 'orang yang penting.'

Dampak dari kerendahan hati, orang lain akan tertarik dan
menyukai Anda, mereka akan suka bergaul dengan Anda. Hubungan Anda menjadi
lebih baik. Jika Anda memiliki hubungan yang baik, maka kebahagiaan Anda akan
meningkat.

Ketiga, kerendahan hati itu mengaktifkan kuasa Allah
untuk melakukan keajaiban dalam hidup kita

Alkitab berkata, "... Allah menentang orang yang congkak,
tetapi mengasihani orang yang rendah hati." [Yakobus 4:6]

Rahasia mengaktifkan kuasa Allah adalah berjalan di dalam
kerendahan hati di hadapan Allah. Tuhan mengasihi orang yang rendah hati. Tuhan
memperlengkapi dengan kuasa-Nya kepada orang yang rendah hati di hadapan-Nya.

Orang yang rendah hati adalah orang yang berani mengakui
ketidakberdayaannya dan memohon Tuhan menolongnya. Orang yang rendah hati
berani mengakui kelemahannya, di sanalah Tuhan memberinya kekuatan dan kuasa.

Bartimeus, seorang pengemis buta yang miskin di kota
Yerikho. Dia adalah salah seorang yang bukan hanya miskin secara materi tetapi
juga miskin di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan melawat Yerikho, Bartimeus berteriak
dengan suara nyaring, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" [Lukas 18:38-39]. Ia
berteriak minta Tuhan menolong dia yang tidak berdaya, ia memohon Tuhan
memberinya belas kasihan. Inilah arti miskin di hadapan Allah, rendah hati yang
mengaktifkan kuasa Allah.

Lalu Yesus menghentikan perjalanannya dan bertanya kepada
Bartimeus, " Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" jawab orang itu:
"Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah
engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" dan seketika itu juga melihatlah
ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. [Lukas 18:40-43].

Bartimeus, sebagai seorang pengemis, ia seharusnya
meminta uang recehan saat Tuhan bertanya kepadanya. Namun ia seorang yang
cerdas, ia tidak meminta uang recehan tetapi yang dia minta adalah 'supaya aku
dapat melihat' agar aku dapat mengikuti Engkau kemana pun Engkau pergi, agar
aku dapat mengenal jalan-jalan-Mu ya Tuhan. Bartimues meminta sesuatu yang jauh
lebih penting dari sekedar uang recehan. Tuhan mengubah hidupnya dan masa
depannya.

Tundukkanlah hati Anda, mohonkanlah belas kasihan Tuhan
atas hidup Anda. Mohonkanlah campur tangan Tuhan atas masalah Anda, harapan dan
cita-cita Anda, maka kuasa-Nya akan bekerja mengubah hidup Anda dan masa depan
Anda.

Kamis, 29 Juli 2010

LANGIT

LANGIT

Langit dan benda-benda langit telah memukau manusia sejak dulu.
Entah mungkin karena sinarnya yang tampak misterius; karena jaraknya
yang sangat jauh; atau pergerakannya yang begitu konsisten. Tak
heran jika banyak peradaban kuno percaya bahwa langit adalah tempat
tinggal para dewa, dan benda-benda langit itu adalah para dewa
sendiri.

Ilmu pengetahuan modern pun menunjukkan bahwa benda-benda langit
memang mengagumkan. Coba bandingkan. Bumi kita ini sudah sangat
besar dan bisa menampung enam miliar manusia. Namun, volume planet
Yupiter ternyata lebih dari seribu kali bumi. Sementara, volume
matahari lebih dari satu juta kali bumi. Belum lagi kalau kita
bandingkan dengan seluruh jagad raya. Betapa besar dan mengagumkan!

Kekaguman serupa juga pernah dialami Daud. Ia memandangi langit dan
menyadari betapa megahnya jagad raya dan betapa kecilnya manusia di
hadapan semua itu (ayat 4,5). Meski demikian, Sang Pencipta mau
memperhatikan manusia bahkan mengangkatnya menjadi ciptaan yang
utama, mengatasi segala ciptaan lain (ayat 6-9). Fakta ini membuat
Daud takjub dan memuji kebesaran Tuhan.

Pengalaman Daud ini dapat kita ikuti untuk menyegarkan iman kita.
Apalagi jika hati gundah, jika diri merasa lelah dan tak berdaya,
jika beban hidup berat menggayuti. Tataplah langit ketika malam
cerah. Pandanglah bulan dan bintang-bintang yang ada di sana.
Biarkan diri Anda terhanyut dalam keindahan dan kemegahannya.
Sadarilah kebesaran Sang Pencipta yang telah menciptakan semuanya
itu, dan betapa Dia yang besar itu sesungguhnya tiada henti
memperhatikan kita yang begitu kecil ini —-

SAYA PASTI KUAT MENJALANI HIDUP INI
SEBAB SAYA DITUNTUN OLEH TANGAN YANG
MENCIPTA JAGAD INI

http://renunganharian.net
http://alkitab.sabda.org/?Mazmur+8

Mazmur 8

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud.
2 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!
Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.
3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah
Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan
musuh dan pendendam.
4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan
bintang-bintang yang Kautempatkan:
5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak
manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan
telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu;
segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:
8 kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga
binatang-binatang di padang;
9 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang
melintasi arus lautan.
10 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh
bumi!

Bacaan Alkitab Setahun:
http://alkitab.sabda.org/?Mazmur+51-53
http://alkitab.sabda.org/?Roma+2