Kamis, 13 Oktober 2011

Menghormati-Nya Sekarang

Menghormati-Nya Sekarang

Mazmur 150: 1-6

150:1 Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat!

150:2 Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!

150:3 Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!

150:4 Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!

150:5 Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!

150:6 Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Ada sebuah pertanyaan penting yang harus kita persoalkan dalam hidup kita sekarang ini: Apakah kita telah menghormati Tuhan dengan benar? Yang dimaksud dengan "benar" di sini maksudnya adalah yang sepantasnya bagi Pribadi Maha Agung yang mengatasi segala langit, Sang Pencipta yang layak menerima segala hormat dari semua yang telah diciptakan-Nya. Ialah satu-satunya yang layak menerima segala pujian dan penyembahan serta sanjungan; selain Dia tidak ada yang layak menerimanya.

Sejatinya pengakuan terhadap kenyataan Pribadi Allah ini tidak cukup dengan kata-kata, tetapi harus dengan sikap hati yang terwujud dalam seluruh perilakunya. Orang yang mengakui keberadaan Tuhan hanya dengan kata-kata bagaikan seseorang yang memegang alat musik dan seakan-akan memainkannya, padahal tidak ada nada harmoni yang dihasilkan. Atau seperti penyanyi yang melakukan lip-sync. Ia hanya pura-pura, tidak sungguhan. Penghormatan kepada Tuhan seperti ini semu, belum bisa dikatakan benar.

Jadi penghormatan kepada Tuhan tidak cukup dengan syair nyanyian rohani yang dilantunkan dalam liturgi gereja. Sebagai analogi, sikap hormat terhadap Sang Saka Merah Putih tidak cukup dengan memberi hormat pada waktu upacara bendera. Pembelaan terhadap Sang Saka Merah Putih telah ditunjukkan dan dibuktikan oleh para pahlawan bangsa ketika berperang melawan penjajah agar bendera merah putih dapat berkibar di bumi Nusantara ini. Perjuangan menghormati Sang Saka Merah Putih juga diwujudkan oleh para atlet yang berjuang di arena olimpiade atau kejuaraan lain agar bendera Merah Putih dapat berkibar mengatasi bendera bangsa-bangsa lain demi kehormatannya. Namun ini pun belum menjamin bahwa sang atlet benar-benar berjuang demi kehormatan Sang Saka. Bisa terdapat seribu satu motivasi dan alasan mereka berjuang di gelanggang pertandingan. Bukan satu hal yang tidak mungkin, perjuangan mereka adalah perjuangan demi nama besar individu atau kehormatan yang bisa

diperolehnya bisa berhasil menjadi juara, atau ambisi memperoleh hadiah berupa uang atau fasilitas lain.

Dengan hal ini, perlulah kita mengoreksi diri kita masing-masing: sudahkah kita menghormati Tuhan sepantasnya? Kepantasan menghormati Tuhan harus dipersoalkan sekarang di bumi dimana kita hidup hari ini. Jika tidak, maka tidak ada kesempatan lagi untuk selamanya. Sikap mengabaikan hal ini bisa-bisa berarti kita tidak pernah menghormati Tuhan selamanya pula.

Penghormatan kepada Tuhan harus dengan sikap hati yang terwujud dalam seluruh perilaku kita.

Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit


www.askopgideon.com Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar